KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 16


__ADS_3

Book 3 – Chapter 16


Bandit Gunung


Akhirnya Lexi tertidur cukup nyenyak, ia sangat membutuhkannya setelah tidak pernah tidur pulas akhir-akhir ini. Tetapi tidur nyenyak Lexi harus dibuyarkan ketika Marco membangunkannya dan membuat isyarat agar tidak mengeluarkan suara.



“Ada para bandit” bisik Marco.



Patricia sendiri tengah bersiap dengan busur panahnya sembari mengintip dari balik pohon.



“Sekitar tujuh orang” kata Patricia yang mulai menarik busurnya “bagaimana?”.



Lexi mulai mengeluarkan tongkat sihirnya dan ikut melihat dari balik pohon “sepertinya mereka akan menuju kesini”.



“Apa mereka anggota ordo?” tanya Patricia.



“Tidak penting kan, sama saja bukan?” Lexi memegang tongkat sihirnya semakin erat.



Hingga tiba-tiba Marco terjatuh, urat-urat hijau kembali terlihat jelas diwajahnya. Hal ini menyebabkan suara yang memancing perhatian para bandit.



“Efek obatnya telah hilang” Lexi menghampiri Marco.



“Aku mendengar suara! Dari sebelah sana” celetuk salah seorang bandit.



Para bandit pun mulai berjalan menuju ketempat mereka berada. Patricia panik dan menembakan anak panah begitu saja mengenai salah seorang bandit.



“Siapa disana?!” para bandit pun mulai berlari kearah asal anak panah ditembakan.

__ADS_1



“Maaf..” celetuk Patricia dengan raut wajah yang semakin panik.



“Bantu Marco, aku akan menghalau mereka” Lexi bangkit berdiri dan mengayunkan tongkat sihir kearah para bandit.



Lexi menyihir selusin burung api yang membuat para bandit terkejut, dan mengenai beberapa diantaranya.



“Cepat lari!” Lexi membantu Patricia memapah Marco dan mulai berlari.



Tentu saja mereka tidak bisa bergerak cepat, dalam sekejap para bandit sudah berhasil mengejar dan mengepung mereka, menodongkan tombak, pedang, apapun senjata mereka, yang jelas cukup tajam untuk melukai, dan tentu saja Lexi dan Patricia tidak mungkin bisa melawan sembari memapah Marco.


***


Tangan Lexi kini diikat, begitu pula Patricia dan Marco, Marco sendiri tidak bisa melakukan perlawanan, tubuhnya sangat lemas, ia bahkan sudah tidak memiliki tenaga untuk berjalan.



Para bandit membawa mereka ke sebuah gua tidak jauh didalam hutan, mereka memasuki gua itu semakin dalam. Wajah Patricia pucat, ia ketakutan, Lexi sendiri cukup takut, tetapi ia tidak ingin membuat temannya itu semakin ketakutan, ia pun mulai memutar otaknya untuk mencari cara melarikan diri, tetapi sejauh ini tidak ada yang terpikirkan olehnya.




Para bandit melempar mereka ke tengah-tengah perkemahan.



“Wah-wah, sepertinya hari ini kita sedang beruntung” celetuk salah seorang dari perkemah itu, laki-laki paruh baya berbadan cukup gemuk, berambut hitam panjang yang sudah mulai memutih, pakaiannya lusuh dan compang-camping, sama seperti semua perkemah disana.



Laki-laki itu berjalan ke tengah-tengah perkemahan, kemudian menendang tubuh Marco “sepertinya yang ini sudah akan mati”, seluruh perkemah tertawa.



“Hentikan!” Lexi berusaha berdiri tetapi ia ditendang hingga kembali jatuh.



“Punya nyali juga kau bocah!” laki-laki itu mengeluarkan belati dan menyayat wajah Lexi “sebaiknya kau ingat baik-baik bocah, kau sedang berada di wilayah ku, wilayah Borgo”, para perkemah kembali tertawa.

__ADS_1



“Kami tidak punya uang” Patricia memberanikan diri untuk berbicara, suaranya pecah.



Borgo tertawa “kami tidak butuh uang kalian gadis cantik, kami para bandit gunung tidak mengenal istilah uang, kami berburu dan menyantapnya, dan kalianlah buruan kami hari ini”, para perkemah kembali tertawa, wajah Patricia semakin pucat setelah mendengar itu.



Lexi mulai berpikir jika nasib tidak berpihak kepadanya, ordo Black Rings ingin menguras darahnya, sekarang bandit gunung ingin memakan dagingnya, benar-benar menyenangkan.



Tiba-tiba saja terbesit sebuah ide.



“Kami semua terkena racun, kami baru saja diserang, kalian tidak bisa memakan kami” celetuk Lexi.



Borgo tertawa kecil, ia menginjak tubuh Lexi “usaha yang bagus bocah, tetapi kami tidak bodoh, yang terkena racun itu cuma dia” Borgo menunjuk Marco yang sepertinya sudah hampir kehilangan kesadarannya.



Tangan Lexi terikat, tidak mungkin mengambil tongkat sihirnya, tidak ada pilihan selain tidak mengandalkan tongkat sihir. Lexi membulatkan tekad dan sesaat kemudian ia menyemburkan sihir api dari mulutnya, para perkemah pun sontak terperanjat mundur, tetapi tidak dengan Borgo. Borgo masih berdiri ditempatnya, tidak ada tanda-tanda luka bakar, api tidak menyentuhnya, seakan ada dinding mantra yang menghalangi.



Borgo tertawa “tidak salah aku mengatakan jika kau punya nyali” Borgo kembali menginjak tubuh Lexi yang membuat Lexi berteriak kesakitan.



Borgo mengeluarkan tongkat sihirnya “kita lihat kau setangguh apa bocah, kutukan apa ya? Bagaimana jika mantra kutuk ketakutan?” Borgo menggumamkan mantra dan menyihir Lexi.



Seketika saja hanya ada Lexi di gua itu sendiri, disekeliling Lexi tergeletak orang-orang yang Lexi kenal, ayahnya, Genta, Jojo, Bill, Will, Patricia, Marco, mereka semua tergeletak tak bernyawa, Lexi hanya bisa diam mematung, tubuhnya gemetar, pemandangan yang benar-benar nyata didepan matanya.



Lalu sedetik kemudian Lexi muntah, tubuhnya gemetar hebat, tatapannya kosong, ia kembali tergeletak ditengah-tengah perkemahan. Patricia berdiri tidak jauh darinya, mengeluarkan airmata sembari dipegangi oleh beberapa perkemah.



Borgo pun tertawa puas “tidak pernah ada yang bisa melawan mantra kutuk ketakutan”, para perkemah ikut tertawa puas.


__ADS_1


Borgo masih tertawa puas hingga tiba-tiba sebuah anak panah melesat menusuknya, seketika Borgo langsung terdiam, mulutnya mulai mengeluarkan darah, para perkemah pun ikut mematung, masih memproses apa yang terjadi. Di ujung gua Dionysus berdiri dengan busur silangnya yang teracung.


__ADS_2