KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 2 - CHAPTER 5


__ADS_3

Book 2 – Chapter 5


Kelas Duel


Pelajaran memenuhi hari-hari Lexi, beberapa master masih mengajarnya, hanya saja pelajarannya yang berbeda, seperti Master Lokar yang sebelumnya mengajar sihir kuno, untuk anak kelas tiga ia mengajar hukum sihir.



Lalu ada juga kelas yang memisahkan Lexi, Genta, dan Jojo, kelas sihir lanjutan, kelas yang dipisahkan berdasarkan jenis sihir mereka. Untuk sihir lanjutan elemen sendiri diajar oleh Master Charlie, laki-laki bertubuh tinggi kurus, berambut coklat ikal panjang, memakai syal dan sebatang rokok yang tidak menyala menempel di mulutnya.



“Hallo semua!” sambut Charlie.



“Perhatikan ini” Charlie mulai membakar sebatang korek dan menyalakan rokoknya, lalu menghembuskan asap tebal dari mulutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, dan ketika asap itu sudah memudar, Charlie sudah tidak berada disana, hanya sebatang rokok yang masih menyala yang tergeletak dilantai.



Murid-murid pun terkejut, dan seketika.



“Bagaimana?” suara dari belakang kelas dan Charlie berdiri disana, sontak para murid pun memberikan tepuk tangan meriah.



Charlie berjalan kembali ke depan kelas sembari tersenyum lebar “itu tadi adalah salah contoh untuk mengembangkan sihir elemen kalian, kalian semua mempunyai dasar elemen, gunakanlah imajinasi kalian untuk mengembangkannya”.



Kelas sihir lanjutan berjalan cukup menyenangkan, Master Charlie banyak mengeluarkan candaan selama kelas.



Lalu kelas berikutnya Lexi kembali bergabung dengan Genta dan Jojo, kelas berikutnya berada di halaman belakang kastil, beberapa Pegasus tidak jauh darisana sedang menikmati makan siang rumput mereka. Tetapi yang aneh adalah, tadi ada seorangpun Master disana, hingga tiba-tiba seekor elang coklat terbang menukik kearah mereka dan berubah wujud menjadi laki-laki paruh baya tanpa sehelai rambut dan jenggot tipis di dagunya, memakai jubah panjang serba hitam, ia adalah Master Horus, kepala asrama Black Mamba.



“Selamat datang di kelas terbang!” sambut Horus.



Horus menghampiri salah satu pegasus dan membelainya “aku rasa kalian sudah tidak sabar bukan begitu? Kalian pasti sudah menantikan kelas ini dari tahun pertama, jadi siapa yang mau coba duluan?”.



Semua murid tampak mundur selangkah secara serempak.



Kelas terbang tidak berjalan semenyenangkan kelas lanjutan sihir, faktor utamanya adalah karena Lexi takut ketinggian, lalu Jojo memiliki badan yang cukup besar yang membuatnya beberapa kali terperosot dari punggung pegasus, hanya Genta yang tampaknya menikmati hembusan angin menerpa wajahnya saat diatas sana.

__ADS_1



Kelas demi kelas pun berganti, hingga akhirnya Lexi mendapatkan kelas duel tingkat satu, kelas yang sudah ditunggu-tunggu Lexi.



“Selamat datang semuanya!” sambut Ginerva , perempuan paruh baya, bermata sipit dan berambut hitam panjang, ia sekaligus menjadi kepala asrama Red Scorpion.



Ginerva memperhatikan muridnya satu persatu “ah Lexi!” katanya saat pandangannya jatuh ke Lexi.



“Ya Master?” tanya Lexi



“Kurasa kau salah kelas Lexi” jawab Ginerva.


“Lagi? Kelas khusus?” tanya Lexi sedikit menggerutu.



Ginerva tersenyum “tidak-tidak, tapi kurasa kau berada di kelas duel tingkat dua”.




Ginerva kembali tersenyum “aku sudah pernah melihatmu berduel, kurasa kau sudah tidak cocok di tingkat satu, aku sudah membicarakan ini dengan Lokar, sekarang kau pergilah ke lantai lima, kelas ke tiga sebelah kanan, mungkin mereka sudah menuggumu”.



Lexi melempar pandang kepada Genta dan Jojo, tetapi raut wajah mereka sama bingungnya dengan Lexi.


***


Pintu ruang kelas diketuk, Lexi masuk kedalam dengan ragu, kelas itu berisi anak-anak kelas empat asrama Red Scorpion yang langsung memandang Lexi dengan bingung.



“Siapa namamu?” tanya seorang laki-laki didepan kelas, cukup muda, mungkin baru akan menyentuh paruh baya, laki-laki berambut coklat pucat dengan wajah yang tampak lelah dengan kantung mata tebalnya, tetapi ia memakai pakaian yang rapi dengan setelan jas hitam, ia adalah Master Leo.



“Lexi” jawab Lexi dengan ragu karena semua mata dikelas itu tertuju padanya.



Leo melihat papan absen “ah.. berarti kelas sudah bisa dimulai” ia mencentang dengan pena bulunya.


__ADS_1


Lalu tiba-tiba sebuah tangan terangkat “maaf Master, tapi dia anak kelas tiga”.



“Wah.. kalau untuk itu saya tidak tahu, tetapi namanya ada di daftar kelas saya” Leo tersenyum ramah.



Tatapan bingung seisi kelas berubah menjadi tatapan menghakimi, Lexi tidak berani menatap balik, karena ia sendiri juga tidak yakin apa yang sedang terjadi, tetapi meskipun begitu, ia sempat melihat Aubrey juga ada di kelas itu, tetapi Aubrey memalingkan pandangannya tidak sedikit pun melihat kearah Lexi.



“Baiklah.. perkenalkan nama saya Leo, saya baru mengajar tahun ini, dan saya akan mengajar kelas duel tingkat dua” Leo mengeluarkan tongkat sihirnya “keluarkan senjata sihir kalian, saya ingin melihat kemampuan kalian”.



Satu persatu murid maju kedepan kelas dan berduel dengan Leo, Leo tampak sangat hebat dengan sihir anginnya, dengan mudah ia mengalahkan murid-murid tanpa melukai mereka. Lexi tidak begitu memperhatikan, ia baru memperhatikan saat Aubrey yang berduel, tampak berani sama seperti saat berhadapan dengan bandit di Edinburgh tahun lalu. Dan akhirnya hanya tersisa satu murid, Lexi, dengan ragu Lexi berjalan ke depan kelas, masih dihujani tatapan menghakimi.



“Sudah siap?” tanya Leo.



Lexi mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengangguk.



Leo tersenyum “baiklah, kita mulai!” Leo langsung menyerang Lexi.



Dengan sigap Lexi menangkis sihir Leo dan membalas serangan dengan sihir ular apinya, balas-membalas sihir pun terjadi, Lexi cukup baik dalam menangkis dan melakukan serangan balik, bisa dibilang mungkin ia yang terbaik sejauh duel hari itu.



Lexi menyihir tiga ular api menyerang Leo, seisi kelas terkejut melihat itu, tetapi Leo berhasil menangkisnya dengan sihir angin topan kemudian mengarahkannya kepada Lexi, Lexi menangkisnya dengan sihir ular api raksasa yang menyelimuti tubuhnya, ide yang terbesit begitu saja, seisi kelas semakin heboh karena duel mereka berdua.



Leo tersenyum dan menurunkan tongkat sihirnya “sepertinya cukup”.



Lexi juga menurunkan tongkat sihirnya.



“Baik sekali, sihir yang menakjubkan” puji Leo sembari mengeluarkan sebotol minuman dari saku jasnya, berbentuk kotak kecil dari besi dan meminumnya.



“Terima kasih” Lexi memasukan kembali tongkat sihirnya.

__ADS_1


__ADS_2