
Book 3 – Chapter 19
Reuni Keluarga
Mereka semua menepi ke pinggir sungai sembari menggigil. Lexi menyihir anjing api belari mengitari mereka memberi kehangatan.
“Kita harus cepat pergi, Gregori pasti mengirim pesan kepada ordo” celetuk Dionysus.
“Apa maksudnya tadi? Kau kehilangan sihirmu?” tanya Lexi.
“Bukan urusanmu bocah!” jawab ketus Dionysus, dan tiba-tiba ia mengambil busur silang dan menembaknnya kearah pepohonan.
“Siapa disana?!”.
Seorang laki-laki berjalan keluar dari pepohonan dengan tangan terangkat, Lexi mengenalinya, Vrusius Jr.
Vrusius tertawa kecil “wah-wah, instingmu masih tajam Dionysus, aku tidak mau berususan denganmu, tetapi sayangnya aku punya urusan dengan bocah itu” Vrusius menatap Lexi.
Dionysus mengisi kembali busur silangnya, bahkan kini dengan dua anak panah sekaligus, membidik kearah Vrusius.
“Pergilah, kuperingatkan, kali ini tidak akan meleset”.
Vrusius tersenyum “aku percaya itu, tetapi aku tidak membawa pemburu sejauh ini hanya untuk kembali pulang”.
Seorang lainnya keluar dari balik pepohonan, seorang perempuan yang usianya mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari Lexi, rambutnya bewarna cokelat panjang.
“Gabriella?” Dionysus tampaknya cukup terkejut.
Gabriella tersenyum kecil “lama tidak bertemu ya ayah”.
Vrusius tertawa “reuni yang cukup menarik”.
Dionysus menembakan busur silangnya kearah Vruius, tetapi meleset.
“Mengapa kau bawa anakku masuk kedalam dunia gelap ini?!”.
Vrusius kembali tertawa, bahkan lebih kencang “kau kira kau bisa kabur meninggalkan ordo, menghilang begitu saja tanpa kosekuensi?”.
__ADS_1
Dionysus tampak terguncang, ia menatap putrinya itu “Gabriella, pergilah, kumohon”.
Gabriella kembali tersenyum kecil “aku tidak menyangka ayah masih mengingat nama putri ayah”.
“Ku rasa kau masih ingin berbincang banyak dengan putrimu, sekarang serahkan mereka bertiga, dan kau akan memiliki waktu yang banyak untuk berbincang dengan putrimu” Vrusius tersenyum penuh kemenangan.
Marco mengacungkan tongkat sihirnya “jangan macam-macam!”.
“Memangnya bagaimana ksatria sihir bau kencur yang sedang terkena racun akan menghentikanku?” tanya Vruisus
Marco tampak terkejut, tidak mungkin Vrusius tahu.
Tetapi Vrusius justru tersenyum kecil “tentu saja aku tahu, Gabriella melacak bau kalian, tetapi aku tidak menyangka Dionysus bersama kalian, dan aku tahu mengapa Dionysus membantu kalian, sepertinya ia merasa bersalah, apa dia sempat cerita jika racun yang mengalir ditubuhmu adalah ciptaannya?”
Marco tampak terkejut mendengar itu, ia menatap Dionysus, tetapi Dionysus tidak berani menatapnya balik.
Vrusius kembali tertawa penuh kemenangan “Dionysus, seperti biasanya, menyimpan banyak rahasia”.
“Kau tidak perlu berurusan dengan masalah ini Dionysus, Gabriella, ajaklah ayahmu berbincang sementara aku mengurus tiga orang ini” perintah Vrusius.
Gabriella sepertinya tidak senang dengan perintah itu, tetapi ia tetap menurutinya, berjalan menghampiri Dionysus dengan enggan.
“Ayuk ayah, kita berbincang” Gabriella merangkul Dionysus menjauh dan menghilang dibalik pepohonan.
Lexi mengacungkan tongkat sihirnya “kau licik sekali Vrusius” tangannya masih sedikit gemetar.
“Licik?” celetuk Vrusius “aku mempertemukan kembali ayah dan anak, bukankah aku begitu berbaik hati?”.
Patricia memasang busur panahnya “sekarang apa?”.
“Dengan kondisiku sekarang mungkin aku sudah bisa menteleportasikan kita” usul Marco.
Lexi memutar otaknya “tidak, kita tidak akan meninggalkan Dionysus”.
__ADS_1
“Dia sekarang bersama putrinya, mungkin itu yang dia inginkan” celetuk Patricia.
“Aku sependapat” timpal Marco.
“Aku ingin mendengar lebih banyak soal Dionysus” Lexi mengatakan itu sekedar untuk mengulur waktu selagi otaknya berputar mencari jalan keluar yang lebih baik.
“Ingin menimbang-nimbang akan meninggalkannya atau tidak ya?” Vrusius tersenyum “jujur saja, tua bangka itu tidak pantas untuk diselamatkan, dia itu dulu abdi Franc, sama sepertiku, hanya mengikatkan jika seandainya kau lupa”.
“Lexi, dia mempermainkanmu, dia tahu kau tidak akan meninggalkan Dionysus” celetuk Marco.
“Jadi kita lawan saja dia?” timpal Patricia.
Vrusius kembali tersenyum “kau cukup berani nona, tetapi tidak cukup pintar”.
Lexi cukup setuju dengan pernyataan Vrusius, jika sampai mereka berduel, meskipun mereka bisa menang, pasti akan ada yang terluka atau bahkan mungkin mati, Lexi harus menghindari kemungkinan itu. Usul Marco tentang telportasi terdengar cukup baik, tetapi bagaimana dengan Dionysus, mendengar Dionysus pernah meninggalkan ordo dan sekarang bahkan membantu mereka, tidak akan berakhir baik untuknya, ditambah dia berada di bawah pengaruh putrinya sendiri.
“Baiklah.. aku menyerah” kata Lexi yang membuat Patricia dan Marco terkejut.
“Apa kau gila?” celetuk Patricia.
“Aku tidak ingin kalian terluka” Lexi bermaksud menjatuhkan tongkat sihirnya.
Vrusius tersenyum lebar “pilihan bijak bocah”.
Tongkat sihir Lexi dijatuhkan, tetapi sesaat tongkat itu menyentuh salju di tanah, tongkat itu memercikan bunga api dan keluarlah anjing api yang langsung belari menerjang Vrusius. Vrusius pun terkejut dan terperanjat kebelakang.
“Ke Dionysus!” teriak Lexi sembari mengambil tongkat sihirnya dan berlari kearah pepohonan. Patricia dan Marco pun mengikutinya.
Dionysus dan Gabriella tampak hanya diam menunggu di balik pepohonan, mereka terkejut saat melihat Lexi berlari kearah mereka. Lexi langsung meraih lengan Dionysus dan Gabriella.
“Marco sekarang!”.
Marco meraih lengan Patricia dan memegang pundak Lexi, kemudian seketika mereka berteleportasi.
__ADS_1