KNIGHT'S OF MAGIC

KNIGHT'S OF MAGIC
BOOK 3 - CHAPTER 18


__ADS_3

Book 3 – Chapter 18


Lok Baintan


Lexi terdiam saat ia sampai di pinggir sungai besar yang hampir membeku, puluhan perahu mengapung dan tersambung satu sama lain dengan jembatan kayu, lentera-lentera di gantung menerangi layaknya sebuah kota kecil dimalam hari.



“Lok Baintan, sebuah pasar malam, kita bisa mendapatkan ramuannya disini” Dionysus menjelaskan.



“Bukankah ini pasar gelap? Ksatria sihir tidak pernah menemukannya” celetuk Marco.



Dionysus tertawa kecil “bukan hanya Knight’s Of Magic yang memiliki sihir bagus” ia menunjukan sebuah kartu “hanya pemilik kartu ini yang bisa menemukannya, ayuk”.



Dionysus melangkah paling depan menaiki salah satu jembatan kayu, mereka menuju ke salah satu perahu, Lexi, Patricia, dan Marco mengikutinya dengan enggan, tetapi Marco membutuhkan ramuan itu.



Di ujung jembatan dua orang laki-laki yang berjaga menghentikan mereka.



“Ah.. Dionysus, selamat datang kembali” sapa salah seorang penjaga.



“Dionysus, siapa mereka bertiga?” celetuk penjaga lainnya.



“Mereka teman-temanku” Dionysus mengeluarkan beberapa koin perak dan memberikannya kepada kedua penjaga “kuharap kalian tidak perlu melihat mereka”.



Kedua penjaga tersenyum “ya ku rasa bulan malam ini cukup indah” mereka berdua menatap kearah langit. Dionysus memberi aba-aba untuk mengikutinya naik ke perahu.



Diatas perahu itu layaknya pasar pada umumnya, hanya saja mereka mengapung diatas sungai yang hampir membeku, dan juga sepanjang jalan orang-orang memperhatikan dengan raut wajah seperti ingin membunuh.



Patricia tidak nyaman dengan itu semua, ia berjalan semakin merapat kepada Lexi, dan bahkan mengaitkan tangannya ke lengan Lexi. Wajah Lexi sempat memerah, tetapi ia berusaha untuk tidak bereaksi apa-apa.

__ADS_1



Mereka terus berjalan menyusuri Lok Baintan, mengikuti Dionysus yang mengecek dari satu kios ke kios lainnya, lalu menyebrang ke perahu lain dan melakukan hal serupa.



Dan tampaknya bukan hanya Patricia yang tidak nyaman, Marco juga merasakan hal yang serupa, sedari tadi ia memegangi tongkat sihir dibalik setelan jasnya. Lexi sendiri ingin melakukan hal serupa, tetapi tangannya masih cukup gemetar, ia tidak mau tongkat sihirnya justru jatuh entah dimana, jadi ia mengurungkan niat itu.



“Anak muda!” panggil seorang perempuan lanjut usia dari sebuah kios yang baru saja mereka lewati. Sebuah kios yang dipenuhi bola-bola ramalan dan juga cermin-cermin, perempuan lanjut usia itu sendiri juga memegang bola ramalan di tangannya dan memakai kalung salib di lehernya.



“Anak muda!” panggil peramal itu lagi yang membuat Patricia terperanjat di samping Lexi.



“Anak muda, aku melihat retakan-retakan pada jiwamu, saat musim semi datang, kepingan jiwamu akan pecah seutuhnya” peramal itu tertawa.



Seketika Lexi menjadi bergidik, penglihatannya sewaktu didalam gua lewat sekilas didepan matanya, Patricia bisa melihat raut takut di wajah Lexi, peramal itu tertawa semakin kencang.




Lexi meninggalkan peramal itu dengan keringat dingin mulai menetes di kulitnya. Mereka terus berjalan mengikuti Dionysus, hingga lagi-lagi seorang lain menghentikan mereka.



“Dionysus! Lama tidak berjumpa!” panggil seorang laki-laki paruh baya dari kejauhan, bertubuh cukup kekar, berambut pirang pendek, mata kanannya memakai penutup mata.



“Gregori” sapa Dionysus “lama tidak berjumpa”.



Gregori berjalan menghampiri Dionysus, kemudian ia terdiam ditempat sembari melihat kearah Marco.



“Dionysus, siapa mereka?”.



“Ah.. mereka bersamaku”.

__ADS_1



“Bersamamu?” Gergori masih melihat kearah Marco “itu semakin membuatku bertanya-tanya, mengapa kau datang kemari bersama seorang ksatria sihir? Aku bisa mencium baunya, seumur hidup aku berurusan dengan ksatria sihir, mereka semua memiliki bau yang sama”.



Dionysus sepertinya sedikit terkejut, tetapi ia bisa bersikap seperti biasa.



Dionysus tertawa kecil “mungkin kau salah Gregori, aku tidak mungkin berjalan bersama ksatria sihir, kau tahu pengalamanku tidak baik bersama mereka”.



“Pengalaman tidak baik” Gregori menatap kearah Dionysus “maksudmu pengalaman saat kau menjual informasi kepada Knight’s Of Magic?”.



Dionysus berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun tangannya sudah meraih busur silang di punggungnya “Aku khwatir kau melakukan kesalahan Gregori”.



Gregori kembali melihat kearah Marco yang kini memegang erat tongkat sihir dibalik setelan jasnya.



“Bagaimana jika kau minggir Dionysus, biar ku lihat sendiri apa dia ksatria sihir atau bukan, atau malahan kini kau kembali menjual informasi kepada Knight’s Of Magic?”.



Tetapi Dionysus sama sekali tidak beranjak, Gregori memelototinya.



“Dionysus, kau yakin ingin melawanku? Dengan kondisimu yang sekarang tidak memiliki sihir? Ku rasa hanya butuh beberapa menit untuk meremukanmu”



Dionysus tersenyum kecil “tentu saja, aku tidak bodoh” Dionysus beranjak kesamping. Gregori tesenyum dan menghampiri Marco.


Marco tampak terkejut melihat itu, ia bermaksud mengeluarkan tongkat sihirnya. Tetapi sebelum ia sempat melakukan itu, Dionysus sudah terlebih dahulu mengeluarkan sebilah belati dan menusuk paha Gregori.


“Lari!” teriak Dionysus.


Tanpa berpikir dua kali mereka semua berlari meninggalkan perahu itu, menaiki jembatan menuju perahu lainnya. Di belakang mereka Gregori tengah mengubah wujudnya menjadi seekor banteng hitam dan mengejar mereka. Banteng hitam berlari dengan kencang, tetapi sedikit kesulitan karena belati yang menancap di pahanya, tetapi meskipun begitu, sebentar lagi banteng hitam itu tetap akan menyusul.


“Loncat!” perintah Dionysus.


Lagi-lagi tanpa berpikir dua kali mereka melompat ke sungai yang hampir membeku itu, meninggalkan seekor banteng hitam mengamuk yang tidak berani melompat.

__ADS_1


__ADS_2