
Book 2 – Chapter 9
Menciptakan Sihir Baru
Lexi terbaring di ruang perawatan, langit diluar sudah gelap.
“Sudah bangun nak?” Elphias disana memberikan segelas ramuan, Leo juga berada disana.
Lexi meminum ramuan itu.
“Sebaiknya kau beristirahat dulu disini malam ini” usul Elphias sembari kembali membuat ramuan di mejanya.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Leo.
“Apa yang terjadi Master? Bagaimana permainannya?” tanya Lexi.
Leo tersenyum ramah “tidak usah kau pikirkan, kau terkena mantra serang, untungnya mantra itu tidak sempurna, tidak ada luka serius”.
Lexi hanya diam, Leo seperti mengerti ekspresi Lexi.
“Kau cukup hebat, berani memilih menyelamatkan teman daripada mempertahankan bendera, pilihan yang mulia”.
“Terima kasih” jawab Lexi singkat.
Leo kembali tersenyum ramah “istirahatlah malam ini disini, dan untuk besok saya sudah mengurus surat izin, kau bisa beristirahat sepanjang hari dikamarmu”.
Lexi masih diam.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Leo.
__ADS_1
“Aku sudah mengacau bukan? Seharusnya bendera itu masih bisa diamankan”.
Leo memandangi Lexi sesaat “jika saya ada diposisimu, dan perempuan itu adalah perempuan yang saya suka, saya juga akan melakukan hal yang sama”.
Lexi tampak terkejut mendengarnya.
Leo tersenyum “saya juga pernah muda” kemudian menepuk bahu Lexi “istirahatlah” Leo berjalan keluar ruang perawatan, meninggalkan Lexi bersama Elphias.
***
Keesokan harinya Lexi menghabiskan hari dengan bersantai di kamarnya, sebenarnya tubuhnya sudah cukup pulih, tetapi mengapa ia harus menyia-nyiakan surat izin istirahatnya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Genta saat kembali ke kamar di sore hari bersama Jojo.
“Sudah baik sebenarnya” jawab Lexi yang sedang bersantai di tempat tidurnya.
“Oi Lexi, ada yang mencarimu di luar” celetuk Jojo.
Jojo tersenyum “sudah keluar saja, kau pasti suka”.
Akhirnya Lexi tidak bertanya lagi dan memilih untuk mengeceknya keluar. Aubrey duduk di teras pondok asramanya, Lexi terdiam mematung melihat itu.
“Hai.. kau mencariku? Ada apa?” tanya Lexi berusaha berbicara senormal mungkin.
“Aku ingin mengucapkan terima kasih” Aubrey memberikan sebungkus coklat “terimalah”.
Wajah Lexi sedikit memerah “eh.. terima kasih” Lexi mengambil coklat itu kemudian terdiam sejenak, berpikir untuk kata-kata selanjutnya.
“Maaf ya, tim kita jadi kalah”.
__ADS_1
Aubrey tersenyum kecil “jangan konyol.. aku pergi dulu” kemudian berjalan pergi meninggalkan Lexi yang mulai senyum-senyum sendiri.
Malam harinya Lexi memakan coklat pemberian Aubrey dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya.
“Wah sebentar lagi teman kita jadi gila” celetuk Jojo sembari tertawa.
“Sudah.. kurasa” timpal Genta diikuti tawa Bill dan Will.
***
Beberapa hari berlalu begitu saja, berita tentang Lexi yang masuk ruang perawatan mulai tersebar, beberapa perempuan yang berpapasan dengannya di koridor kastil memberikan ucapan lekas sembuh dan juga beberapa coklat, karena terlalu banyak coklat yang Lexi terima, sebagian besar dihabiskan oleh Jojo yang menerimanya dengan senang hati.
“Wah-wah! Sudah merasa seperti bintang?” sapa Luca, laki-laki bertubuh tinggi, berambut kuning tersisir rapi, musuh Lexi dari tahun lalu, ia juga yang menyebabkan hidung Lexi bengkok.
“Kau ingin berduel?” Lexi bermaksud mengeluarkan tongkat sihirnya, tetapi Genta menahan.
Luca tertawa kecil “tidak perlu buru-buru begitu, kita akan bertemu saat pertandingan club duel, kemenangan Mountain Goat kemarin hanyalah keberuntungan, sebaiknya kau hati-hati” Luca berjalan pergi diikuti teman-temannya.
Setelah Luca hilang dari pandangan, Genta baru melepaskan tangannya yang menahan Lexi.
“Cih!” gerutu Lexi kesal.
Lexi, Genta, dan Jojo pun berjalan menyusuri lorong kastil kemudian berpisah menuju kelas lanjutan sihir mereka masing-masing. Charlie sudah berdiri didepan kelas saat Lexi masuk kedalam kelas lanjutan sihir elemen.
“Selamat datang anak-anak, hari ini kita akan menciptakan sihir kita masing-masing, sihir yang berguna dalam duel, tetapi bukan sihir untuk menyerang, akan ku beri contoh”
Charlie meniupkan asap tebal dari mulutnya dan asap itu mengelilingi seluruh kelas.
“Dengan ini kalian tidak akan bisa keluar dari kelas, jika kalian masuk kedalam asap, kalian akan tersesat didalam sana, sihir yang kukembangankan sendiri untuk mengurung lawan” Charlie menjelaskan disambut tepuk tangan murid-murid.
__ADS_1
Charlie tersenyum lebar menyambut tepuk tangan “baiklah, mulailah pikirkan sihir apa yang akan kalian ciptakan, lalu selanjutnya kalian akan menunjukannya padaku”.