
Book 3 – Chapter 25
Patung Naga Merusak Hari
Matahari mulai terbit, pagi musim semi yang hangat di Sekolah Sihir Selatan, murid-murid lalu lalang melewati halaman kastil menuju ke kelas mereka masing-masing. Tetapi ketenangan pagi itu dibuyarkan begitu saja ketika tiga patung naga terbang diatas kastil dan berusaha menembus dinding mantra, para murid pun sontak berlari ketakutan.
Cukup mengalami kesulitan tetapi pada akhirnya dinding mantra itu runtuh, ketiga patung naga mendarat di halaman kastil. Para Master telah berkumpul untuk menghalau ketiga naga, tetapi mereka terdiam saat melihat siapa yang menunggangi ketiga naga itu.
Lexi begitu lemas, ia terjatuh begitu saja dari punggung naga, tetapi sebelum ia menghantam tanah, Leo sudah menangkapnya.
“Kami sangat mengkhwatirkanmu” Leo tersenyum menghangatkan.
“Kepala Sekolah.. aku harus bertemu Kepala Sekolah” kata Lexi parau.
“Yaampun, keadaanya sangat parah, kita harus bawa dia ke ruang perawatan” usul Ginerva.
“Aku harus bertemu Kepala Sekolah.. kumohon..” Lexi sudah tidak memiliki tenaga untuk bicara.
Leo pun menggendong tubuh Lexi “aku akan membawanya ke ruang Kepala Sekolah, minta Master Elphias untuk menemuinya disana” tanpa berlama-lama Leo langsung beranjak ke ruang Kepala Sekolah.
Ginerva mengangguk dan beranjak memanggil Master obat-obatan kastil itu.
***
Ruang Kepala Sekolah dibuka, Leo menggendong Lexi masuk dan merebahkannya di sofa.
“Syukurlah.. kenapa tidak langsung dibawa ke ruang pengobatan?” sambut Kepala Sekolah, laki-laki tidak terlalu tinggi, berbadan gemuk dan perut yang menonjol, berambut hitam disisir rapi.
“Kepala Sekolah” Lexi berusaha untuk duduk “Franc akan menyerang sekolah hari ini”.
Untuk sesaat ketegangan terjadi di ruangan itu, hingga akhirnya terpecahkan saat Ginerva masuk kedalam ruangan bersama Elphias, laki-laki lanjut usia, berambut ikal putih, kulitnya sudah keriput, kurus dan sedikit bungkuk.
“Elphias, tolong segera obati Lexi” perintah Kepala Sekolah.
Elphias mengangguk dan segera memeriksa keadaan Lexi, memberikan beberapa ramuan dan membalut jari Lexi yang patah.
“Ginerva, tolong bawa murid-murid ke tempat aman, sekolah kita akan diserang” lanjut Kepala Sekolah yang membuat Ginerva terkejut.
“Maaf Kepala Sekolah, diserang? Tapi oleh siapa?”.
“Oleh Franc”.
__ADS_1
Ginerva menelan ludah, kemudian segera beranjak pergi.
“Leo, kumpulkan para Master” perintah Kepala Sekolah.
Leo mengangguk dan bermaksud beranjak pergi.
“Satu lagi” celetuk Kepala Sekolah yang menghentikan langkah Leo “kabari Rupert”.
Leo mengangguk sekali lagi dan pergi meninggalkan ruangan.
Kepala Sekolah menghela nafas sejenak, kemudian duduk disamping Lexi.
“Lexi, apa kau mau menceritakan apa saja yang terjadi?”.
Sembari Master Elphias yang masih mengobatinya, Lexi mulai menceritakan semuanya, awal ia diculik, jalan masuk rahasia ke kastil, pertemuan dengan Dionysus, bandit gunung, Lok Baintan, dan juga apa yang terjadi di York.
Kepala Sekolah tersenyum ramah “sekali lagi kau menunjukan keberanianmu Lexi, kini kita hanya perlu mempertahankan kastil” Kepala Sekolah bangkit berdiri “sekarang kau istirahatlah terlebih dahulu, kau pantas mendapatkan itu, Elphias, tolong antar Lexi ke asramanya”.
***
Pondok asrama Mountain Goat telah kosong, lexi memutuskan untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian bersih. Lexi duduk ditempat tidurnya memandangi jarinya yang kini dibalut perban, mengingat-ngingat kejadian di York saat dirinya sama sekali tidak berdaya, lalu kembali teringat dengan penglihatan saat di gua bandit gunung, mengingat-ngingat itu semua seakan membuat Lexi menjadi lelah, tubuhnya tidak gemetar, tetapi ia merasa membutuhkan istirahat dari ini semua.
“Syukurlah kau selamat!”.
“Aduh sakit!” sekujur tubuh Lexi masih terasa ngilu.
Bill-Will tertawa “maaf-maaf”.
“Mengapa kalian belum pergi? Bukankah murid-murid seharusnya sudah berlindung?” tanya Lexi.
“Kami tidak akan pergi tanpamu” jawab Jojo.
“Kami meninggalkanmu sekali saja, lihat kau sudah jadi babak-belur begini” timpal Genta.
Lexi tersenyum “terima kasih”.
“Bukan hanya kami saja, mereka menunggu didepan” celetuk Will.
“Mereka?”.
__ADS_1
***
Beberapa murid Sekolah Sihir Selatan sudah menunggu Lexi didepan pondok. Aubrey, David, Xander, Tracy, dan juga Patricia.
Saat melihat Lexi, Aubrey langsung berlari kecil dan memeluknya “syukurlah kau selamat”.
Lexi melirik kearah Patricia dan Patricia langsung memalingkan pandangannya.
Lexi melepaskan pelukan Aubrey dan tersenyum “terima kasih”.
“Aku tahu kau pasti selamat” celetuk David.
Lalu Lexi melihat kearah Xander, Xander pun tersenyum kecil dan mengajak Lexi bersalaman.
“Genta sudah menceritakan semuanya, maafkan aku, yang kau lakukan lebih penting daripada club duel”.
Lexi membalas salaman Xander “terima kasih teman-teman, tetapi sebaiknya kalian segera ke tempat berlindung”.
“Tempat berlindung ada di bawah kastil, ayuk” David memimpin jalan, tetapi Lexi hanya diam.
“Aku tidak bisa ikut dengan kalian”.
“Apa maksudmu?” tanya Tracy “semua murid sudah berada disana”.
“Ada yang harus aku lakukan, aku akan menemui kalian nanti” jawab Lexi.
“Kalau begitu aku temani, kalian pergilah dulu” usul Genta.
“Aku juga akan ikut menemani” timpal Jojo.
David mengangguk “baiklah kalau begitu, kita berpencar disini” kemudian pergi memimpin yang lain.
“Hati-hati” Tracy mengecup pipi Genta dan ikut beranjak pergi, wajah Genta pun memerah.
“Aku ketinggalan apa nih?” celetuk Lexi.
“Jangan tanya, jadi kita kemana?”.
“Ikut aku” Lexi memimpin memasuki kastil bersama Genta dan Jojo.
__ADS_1