
Book 1 – Chapter 14
Master Baru
Beberapa hari berlalu, kastil tenang seperti biasanya, murid-murid tidak tahu sama sekali tentang kejadian malam itu, Lexi tidak tahu apa murid-murid lain menyadarinya atau tidak, tetapi ksatria sihir yang menjaga kastil bertambah banyak. Genta sempat bertanya mengapa Lexi tidak kembali ke kamar malam itu, Lexi hanya menjawab jika ia tidak enak badan setelah kelas dan dirawat di ruang perawatan. Sedangkan murid perempuan Red Scorpion tidak ingat apa-apa saat sadarkan diri. Lalu Master Gilderoy, ia belum juga kelihatan, ia sudah tidak ada ditempat tidur saat Lexi terbangun diruang perawatan keesokan paginya.
Lexi sendiri belum bicara banyak dengan ayahnya, Rupert tidak kembali mengajar kelas obat-obatan meskipun setiap hari ia terlihat di kastil, ia lebih sering terlihat bersama ksatria sihir lainnya, wajahnya tampak lelah seperti banyak pikiran.
Lexi menghabiskan sore itu dengan duduk di halaman asramanya yang menghadap ke danau, ia baru saja selesai kelas dasar-dasar sihir, semenjak Master Gilderoy tidak ada, ia kembali mengikuti kelas biasa bersama Master Ginerva.
“Selamat sore..” sapa seorang perempuan membuyarkan lamunan Lexi, perempuan paruh baya seusia ayahnya, berambut coklat kemerahan panjang terurai, matanya bewarna biru, wajahnya begitu cantik, mungkin perempuan tercantik yang pernah dilihat Lexi.
“Apa kau yang bernama Lexi?” tanya perempuan itu dengan nada yang begitu halus.
Lexi mengangguk.
“Perkenalkan, namaku Liana..”.
Lexi langsung terkejut mendengar nama itu.
“Aku akan menggantikan Gilderoy untuk melatihmu” Liana mengajak Lexi bersalaman, sementara Lexi hanya mematung masih belum selesai memproses otaknya.
***
__ADS_1
Salju dijalanan sudah mulai menipis, salju juga sudah tidak turun setiap hari, hari itu adalah akhir pekan, tidak ada lagi kejadian-kejadian di kastil maupun daerah sekitar, akhirnya Sekolah Sihir Selatan pun sudah menginjinkan para murid untuk mengunjungi Edinburgh kembali di akhir pekan.
Sihir api saling beradu, disalah satu ruang kelas Lexi sedang berlatih dengan Liana, tongkat sihirnya tidak henti-hentinya mengayunkan sihir-sihir api, sedangkan Liana sama sekali tidak membutuhkan tongkat sihir, hanya dengan gerakan tangan sihir api keluar begitu saja.
“Sepertinya cukup untuk hari ini” Liana menyudahi latihan.
Lexi memasukan kembali tongkat sihirnya, duduk di ujung ruangan mengatur kembali nafasnya.
“Persis seperti yang dikatakan Gilderoy, kau berkembang cukup pesat” puji Liana sembari duduk disamping Lexi, memberikan sebotol minuman.
Lexi meminumnya hingga habis “terima kasih”.
Liana menatap Lexi untuk sesaat “bagaimana jika aku mentraktirmu minum di Edinburgh?”.
Lexi berpikir sejenak sedikit ragu, baru kemudian mengangguk.
***
Edinburgh tidak seramai biasanya, tetapi juga tidak begitu sepi, meskipun tidak pernah ada berita lagi tentang Franc setelah pembunuhannya di kota itu, orang-orang masih takut untuk keluar rumah atau singgah ke kota lain, terutama kota tempat terjadinya pembunuhan terakhir.
Beberapa orang lalu lalang, ada juga yang hanya berdiri di ujung-ujung jalan dengan mata yang selalu mengawasi sekitar, Lexi bisa menebak jika mereka para ksatria sihir yang ditugaskan untuk berjaga di kota. Sejujurnya Lexi sendiri tidak merasa begitu takut, selain sihirnya yang sudah berkembang, ia juga pergi bersama ksatria sihir kelas satu yang diakui kehebatannya, Lexi rasa tidak mungkin ada penjahat yang berani macam-macam.
Meskipun udara sudah tidak sedingin sebelumnya, segelas coklat hangat tetaplah sangat menggoda, Lexi dan Liana masuk ke Charlie’s Bar, duduk di dekat perapian, memesan dua gelas coklat hangat. Setelah meminum setengah gelas susu coklat, barulah Lexi membuka suaranya.
“Eh.. Master Liana, boleh saya tanya sesuatu?”
“Yah tentu saja, tanyakan saja” jawab Liana antusias, belum pernah Lexi memulai percakapan terlebih dahulu.
__ADS_1
“Mengapa saya mendapatkan kelas khusus? Saya rasa sihir saya tidak begitu tertinggal dari teman-teman sekelas saya” tanya Lexi ragu-ragu.
Liana tersenyum “permintaan ayahmu, dia master yang cukup lama di kastil, tidak mungkinkan permintaannya ditolak oleh kepala sekolah?”.
“Kenapa ayahku memintanya? Apa karna Franc?” tanya Lexi sudah tanpa keraguan.
Liana terdiam sesaat, kemudian tersenyum “ku dengar kau sempat melawannya tempo hari?”
Lexi mengangguk.
Liana masih tersenyum “kau cukup hebat bisa menyerangnya, bahkan Gilderoy terluka parah”.
“Itu sebabnya Master Gilderoy tidak mengajarku lagi?”
Liana mengangguk “ia harus dirawat dirumah sakit”.
Kehingan sesaat dimeja itu.
“Apa Franc sehebat itu? Lalu apa benar ayah yang menangkapnya?” Lexi mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya ia sudah tahu, tetapi ia ingin mendengarnya langsung.
Liana mengangguk “Ayahmu sangat berperan dalam penangkapan Franc, aku melihatnya sendiri”.
Lexi semakin tertarik dengan percakapannya “jadi Master mengenal ayahku?”.
Liana tersenyum kecil, kemudian mengangguk “tentu saja”.
“Eh.. Master, lalu apa sihir ayah?”.
Senyum Liana semakin lebar “kalau itu kau harus tanyakan sendiri padanya”.
__ADS_1