
Resepsi pernikahan Keenan dan Nana terencana dengan baik bak pesta seorang pangeran dan putri raja. Dekorasi dan suguhan baik acara ataupun makanan dan minuman tersaji sangat mewah. Seakan menjadi perhelatan agung kedua pengusaha besar. Tidak tanggung-tanggung tamu yang hadir bukan hanya dari kalangan biasa tapi juga politikus, sesama pengusaha dan ada juga artis yang memang rekan kerjasama para keluarga Janu dan Elang.
"Pak Keenan, kaki aku pegel," rengek Nana karena high heels dan sejak tadi berdiri menyambut para tamu.
"Dilepas saja sepatunya." Pengarah tamu undangan menghentikan sementara para tamu yang akan naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat, karena Keenan berjongkok menyingkap sedikit gaun yang dikenakan Nana lalu melepaskan heels yang dikenakan istrinya. Nana berpegangan pada bahu Keenan untuk menjaga keseimbangan.
Banyak yang mengabadikan momen tersebut, karena Keenan terlihat romantis dan sangat peduli pada Nana. Salah satu panitia mengantarkan sandal hotel untuk dikenakan Nana. Karena gaunnya cukup panjang jadi tidak terlihat alas kaki yang dikenakan oleh Nana.
Jam sembilan malam, Nana terlihat sudah sangat lelah akhirnya duduk di kursi pelaminan. Keenan sudah beredar menyapa undangan yang tentu saja rekan atau orang penting bagi bisnis keluarga Sanjaya.
“Sayang, kamu mau kembali ke kamar?” tanya Kayla yang melihat menantunya sudah terlihat letih dan bosan.
“Iya, Mah.”
Kayla memanggil salah satu crew WO untuk mengantarkan Nana ke kamarnya. “Keenan kalau ditungguin pasti lama, sudah mirip Papa-nya kalau urusan kerja. Kamu kembali saja ke kamar, Mamah masih mau ngobrol dengan yang lain.”
Lagi-lagi Nana tidak bisa melepaskan sendiri gaun yang dikenakan. Niat ingin lebih dulu memejamkan mata harus ditunda sampai Keenan datang dan membantu melepaskan pengait dan kancing yang ada di punggungnya. Hampir satu jam menunggu, akhirnya Keenan datang. Melihat istrinya terkantuk-kantuk di sofa, “Nana, kamu kenapa tidur di sini?”
“Aku sebenarnya sudah lelah tapi ini nggak bisa bukanya,” rengek Nana masih dengan mata terpejam. Keenan pun duduk di samping Nana, “Berdirilah!”
Dengan telaten Keenan melepaskan satu persatu kait dan kancing gaun yang dikenakan Nana dan lagi-lagi dia harus menyaksikan pahatan tubuh sempurna seorang Janela. Ternyata Nana sudah menyiapkan piyama tidak jauh dari sofa, segera memakainya dan beranjak ke ranjang.
“Kamu nggak mandi dulu?”
“Tadi siang ‘kan udah mandi, aku ngantuk banget.” Nana berbaring di ranjang yang masih ada sisa kelopak bunga mawar hiasan ranjang mereka. Menarik selimut dan tidak lama pun terlelap. Keenan bergegas mandi untuk menetralisir rasa yang tiba-tiba bangkit karena melihat tubuh polos Nana meskipun hanya dari belakang.
“Hahh, akhirnya,” keluh Keenan saat merebahkan tubuhnya di samping Nana. Ternyata yang dikatakan Nana benar, hari ini cukup melelahkan. Pasangan pengantin itu menghabiskan malam pengantin mereka dengan tidur bukan aktivitas menyenangkan yang biasa dilakukan oleh pengantin baru.
...***...
__ADS_1
Beberapa waktu sebelumnya di ballroom tempat resepsi.
Kyra yang kesal karena hari ini Jeff terlihat sangat cuek, padahal dia sudah menurunkan egonya untuk menyapa bahkan mengekor kemanapun Jeff berada.
“Kyra,” panggil Emran putra Eltan dan Rika.
“Apaan.”
“Ngapain sih ngikutin tuh orang mulu,” tunjuk Emran pada Jeff yang saat ini sudah bergabung dengan Keenan yang sedang ngobrol dengan dua orang pengusaha yang sering tampil di majalah bisnis.
“Masa sih, perasaan aku nggak ngikutin deh. Tapi dia yang selalu ada disekitar aku,” sahut Kyra.
“Lo mabok ya?”
Kyra menggelengkan kepalanya. “Aku hanya minum champagne.”
“Berapa banyak?”
“Fix, lo mabuk. Papih." Emran memanggil Eltan.
Kyra langsung panik dan meninggalkan Emran. “Eh mau kemana lo?”
Kyra menghindar dari keramaian tapi tangannya sempat meraih kembali gelas champagne yang dibawa oleh pelayan. Menenggak habis isi gelas dan mencoba melangkah dengan tegak meskipun jalannya sudah terhuyung. Keenan terlihat sudah meninggalkan ballroom ditemani oleh Jeff.
Tentu saja Kyra bergegas mengejar Jeff. Pandangan Kyra sudah tidak jelas saat menekan angka lantai kamarnya berada. Saat keluar dari lift dia berpapasan dengan Jeff yang baru saja memastikan Keenan masuk ke kamarnya.
“Eh, kita ketemu lagi. Jeff yang sok cool tapi aku suka,” ujar Kyra lalu terbahak.
Jeff memperhatikan penampilan Kyra. Mengenakan dress bridesmaid tanpa lengan memperlihatkan leher jenjangnya karena rambut yang digulung. Senyum terbit di wajah Jeff, mengetahui Kyra saat ini sedang mabuk.
__ADS_1
“Pak Jeff, ini kunci kamarku tapi sepertinya aku salah lantai ya.”
Jeff memperhatikan access card yang ditunjukan oleh Kyra. “Mari Nona Kyra, aku antar anda ke kamar.”
“Benarkah, oh Pak Jeff baik sekali.” Kyra memeluk lengan Jeff, tinggi keduanya hampir sama karena Kyra mengenakan high heels.
“Silahkan masuk.” Kyra terhuyung masuk ke dalam kamar karena Jeff masih berada di depan pintu memastikan tidak ada yang melihatnya masuk ke dalam kamarnya bersama Kyra bukan ke kamar Kyra sesuai dengan acces card yang Kyra tunjukan. Kyra langsung berbaring di ranjang dengan kaki masih menjuntai ke lantai. Jeff menelan salivanya karena posisi Kyra saat ini membuatnya terlihat sangat seksih dan menggoda.
“Pak Jeff, aku menyukaimu tapi kamu menyebalkan,” teriak Kyra.
“Bagaimana jika aku juga menyukaimu.”
Kyra perlahan beranjak duduk. “Benarkah, Pak Jeff juga menyukaiku?”
“Hm. Tapi aku tidak percaya kalau kamu menyukaiku.”
“Beneran Pak Jeff, I swear,” Kyra berusaha membuat simbol hati dengan jarinya tapi sulit karena dirinya sedang mabuk.
“Kalau begitu, buktikan.”
“Buktikan?” Kyra mencoba berdiri lalu melangkah mendekati Jeff, mengikis jarak dan menyambar bibir Jeff. Keduanya saling memagut bibir dengan kasar dan semakin panas. Kyra melakukan hal itu karena tidak sadar sedangkan Jeff terlihat menikmati sambil menyeringai sinis.
Kyra mengurai pagutannya lalu terengah kehabisan nafas. “Pak Jeff.” Suara serak Kyra seakan meningkatkan g@irah bagi Jeff. Kyra berbaring dan memejamkan matanya, “Sentuh aku Jeff, itu adalah bukti cintaku.”
Jeff menghampiri Kyra. “Lepaskan pakaianmu,” titah Jeff lalu mengeluarkan ponselnya. Kyra seperti kerbau yang dicocok hidungnya, melakukan apa yang Jeff perintahkan. Adegan dimana Kyra melepaskan penutup tubuhnya diabadikan dengan kamera ponsel milik Jeff. Saat ini Kyra sudah polos tanpa sehelai benang pun.
“Wow, kamu seksih juga.” Jeff meletakan ponsel di tempat yang strategis untuk mengambil momen yang akan terjadi. Merebahkan tubuh Kyra ke atas ranjang lalu melepaskan satu persatu penutup tubuh miliknya sendiri dan mengungkung tubuh Kyra.
“Kamu yakin dengan yang akan kita lakukan?” Kyra hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\= konfliknya mulai berat ya gaes,,, siakan hati 😊