Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Ikuti Saja


__ADS_3

Setahun belakangan Keenan dan Nana memang tidak bertemu secara langsung. Hanya berkirim pesan atau sesekali menghubungi lewat panggilan telepon itu pun Nana yang mengawali. Kalau Keenan yang menghubungi sudah pasti Nana tidak akan merespon.


Nana sengaja membuat situasi seperti itu, karena khawatir  jika pengobatannya tidak berhasil dan dia tetap dengan kekurangannya lalu Keenan memilih untuk meninggalkan Nana. Paling tidak dia sudah mulai terbiasa karena jauh dari Keenan.


“Kita dijemput siapa Mom?” tanya Nana yang berjalan bersama Nena, keluar dari pintu kedatangan di bandara.


“Daddy bilang dijemput supir.”


Janu yang memang tidak stay menemani Nana, terkadang dia bolak-balik ke Jakarta mengurus bisnisnya bersama Malik.


“Kamu mau ikut Mommy atau langsung ke rumah Pak Elang?” tanya Nena. Ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Ikut Mommy. Nanti ketemu Abang bareng Om Malik.”


“Ya sudah, bagaimana baiknya saja. Keenan sudah kamu kabari, ⁸⁸ mkalau kita sudah tiba di Indonesia?”


Nana menggelengkan kepalanya. “Sayang, komunikasi itu penting. Jangan sampai nanti kalian salah paham gara-gara kamu nggak kasih kabar kalau sudah kembali.”


“Kayak di novel-novel gitu ya Mom,” ujar Nana sambil terkekeh.


...***...


Jeff sudah tiba di UGD rumah sakit tempat Kyra dibawa. Berlari dari parkiran menuju UGD, khawatir jika Kyra tidak ada yang menemani. Karena Kayla jelas sedang menemani putra Jeff dan Kyra.


Ternyata ada Elang yang menunggu di depan UGD.


“Pah, Kyra gimana?” tanya Jeff dengan nafas terengah.


“Masih dalam penanganan. Kalau dokter menyarankan untuk perawatan terima saja, biarkan pengobatannya sampai tuntas.”


Benar saja, Dokter yang memanggil pihak keluarga merekomendasikan agar Nana di rawat inap.


“Papa pulang ya? Kasihan Mama kamu mengurus Athar sendiri,” ujar Elang saat Kyra sudah dipindah ke kamar rawat inap.


“Oke, Pah.”

__ADS_1


“Kalau nanti ada yang dibutuhkan, biar diantar Bibi.”


Jeff menganggukkan kepalanya. Menghela nafas pelan ketika Elang benar-benar meninggalkan ruangan, tinggal dia dan Kyra yang masih terpejam dengan tangan terhubung ke selang infus. Jeff mengirimkan pesan pada Keenan, kalau dia tidak kembali ke kantor karena Kyra dalam perawatan.


Sepertinya Kyra mulai tersadar, terlihat dari gerakan tangannya. Wanita itu mengerjapkan kedua matanya, menatap sekitar tempatnya berada.


“Sayang,” panggil Jeff sambil mengusap punggung tangan Kyra.


“Ini dimana? Bukan kamar aku,” ujar Kyra sambil meringis masih merasakan pusing dikepalanya.


“Rumah sakit, sementara kamu tidur disini dulu.”


Kyra menggeser tubuhnya ingin merubah posisi. “Kenapa? Kamu butuh sesuatu?”


“Aku sakit apa sampai dirawat begini, perasaan tadi aku sedang main dengan Athar. Athar mana?” tanya Kyra tidak melihat putranya, bahkan dia beranjak duduk.


“Sayang, kamu berbaring saja. Athar aman ada di rumah dengan Oma dan Opanya. Kamu tadi pingsan, tekanan darah dan gula kamu rendah. Sepertinya pengaruh dari ….”


“Morning sickness aku ‘kan?”


“Ini semua karena kamu,” pekik Kyra sambil memukuli lengan Jeff.


“Kamu boleh pukul aku nanti, sekarang kondisimu sedang tidak baik.”


“Aku sudah bilang jangan hamili aku dulu, Athar masih kecil. Ini malah tiap malam minta jatah, nyebelin,” keluh Kyra.


Jeff hanya menggaruk rambutnya padahal tidak ada rasa gatal. Tidak bisa mengelak atau mendebat Kyra, bisa-bisa semakin kalap.  


“Ya sudah, setelah yang ini kamu boleh menggunakan alat kontr*sepsi. Mumpung masih muda Ra, banyakin anak.”


“Iya tapi aku bukan kucing yang harus melahirkan tiap tahun.”


“Iya sayang kamu berbaring lagi, kita lanjutkan perdebatan nanti kalau kamu sudah pulang dan kondisi kamu lebih sehat.”


Sore hari, Keenan menyempatkan menjenguk Kyra. Melihat adiknya terbaring lemah, bukannya menyemangati Keenan malah mengejek Kyra.

__ADS_1


“Jangan manja, cepat pulang ya. Kasihan Athar, memang kamu mau dia nanti dekat sama pengasuhnya atau sama Mama.”


“Ish Kak Keenan mending pergi deh kalau Cuma mau mengejek, mana bau parfumnya nggak enak,” keluh Kyra.  


“Pengeceken kondisi cabang Bali yang dijadwalkan tiga hari lagi tetap dilaksanakan, aku akan berangkat sendiri. Kamu bisa standby dan tunggu arahan dari aku, kebetulan ” tutur Keenan.


“Kak Keenan kalau aku masih di RS  gimana, Jeff ‘kan harus temani aku di sini.”


“Ya kamu cepat minta pulang dong,” sahut Keenan.


Sedangkan di kediaman Malik. Pria paruh baya itu baru saja tiba setelah seharian fokus dengan Arsana Corp.  Memeluk tubuh Nana, setelah tahu putrinya sudah tiba di Indonesia dan sekarang berada di hadapannya.


“Apalagi?” tanya Malik.


“Aku mau bertemu Abang Keenan.”


“Ya tinggal temui saja.”


“Om Malik harus temani aku, ya please.”


“Sekarang?” tanya Malik.


“Ya jangan sekarang juga, aku belum siap.”


Malik teringat undang dari relasi bisnis Arsana Corp yang diadakan di Bali dan Malik yakin kalau Keenan juga termasuk yang diundang.


“Kami ikut Om ke Bali,” ajak Malik.


“Untuk apa? Aku ingin ditemani ketemu Abang bukan minta liburan.”


“Jangan banyak tanya, ikuti saja.”


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2