Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Perlu Bantuan?


__ADS_3

Keenan dan Nana sudah duduk bersisian di sofa kamar Nana. Awalnya Keenan mengajak Nana bicara di private room fasilitas hotel.


Mengingat sudah malam juga khawatir dengan emosi yang mungkin muncul saat mereka bersama, Nana mengajak Keenan ke kamarnya.


Sampa di kamar keduanya hanya diam. Nana menundukkan wajahnya sedang Keenan menggeser duduknya menghadap Nana. Kedua tangan Nana sedang meremass dress yang dia kenakan, terlihat jelas kalau dia sangat gugup. Keenan menggenggam kedua tangan Nana, membuat wanita itu menoleh.


“Sejak kapan kamu pulang?’


“Dua hari yang lalu,” jawab Nana. Keenan mengangkat kedua tangan Nana dan mendekatkan ke wajahnya. Mencium kedua punggung tangan Nana dan menempelkan di pipinya.


Hati Nana menghangat karena sikap Keenan, sebelumnya Keenan belum pernah melakukan hal itu.


“Kamu tega pergi selama itu.”


Nana menggelengkan kepalanya. “Abang, sebenarnya di sana aku ….”


“Iya, aku sudah tahu.”


Sangat mudah bagi Keenan untuk mengirim orang agar mengawasi apa yang dilakukan Nana. selalu mendapatkan laporan setiap harinya dan Keenan tahu kalau Nana pergi ke Singapura karena ingin sembuh dan bisa menjadi wanita normal yang bisa memberikan keturunan kepada keluarganya.


“Abang mata-matai aku?”


Keenan berdecak, “Bukan mata-matai, tapi mencari tahu aktifitas kamu. Kamu sendiri membatasi komunikasi kita."


“Maaf sayang, kalau sebelum nya aku sungguh tidak peka dan terlalu sibuk. Membuatmu menanggungnya seorang diri.”


Nana menghela pelan mendengar permintaan maaf Keenan. Ujung matanya sudah meneteskan air mata. Selama ini dia juga tersiksa rindu, rindu berat pada suaminya.


“Apa Abang sudah ada keputusan untuk kita kedepannya?”


“Memang kedepannya akan seperti apa?”


Nana menggelengkan kepalanya, “Aku nggak ngerti.”


Keenan mengusap wajah Nana yang basah karena air mata. “Tidak ada yang perlu kita putuskan. You and I, will never say goodbye.”


“Tapi Abang, bagaimana kalau ….”

__ADS_1


"Sekarang kita balik pertanyaannya, bagaimana kalau ternyata aku yang bermasalah karena nggak bisa buat kamu hamil. Kamu akan pisah denganku?"


Nana menggelengkan kepalanya.


“Nana, sudah hampir setahun kamu meninggalkan aku dan tidak pernah sedikit pun aku berpikir akan mencari pengganti kamu.” Mendengar pernyataan Keenan ini membuat wajah Nana merona.


Abang benar-benar setia, apa aku masih pantas untuknya, batin Nana.


“Bagaimana kalau aku benar-benar tidak sempurna?”


Keenan mengusap kasar wajahnya. “Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Janela. Bahkan aku pun tidak sempurna, sudah menyakiti kamu dengan keangkuhanku. Kalau aku memang suami yang peduli, kamu nggak akan merahasiakan apapun dan menderita sendiri, bahkan aku tidak peka saat ada perempuan lain mendekatiku dan membuat kamu cemburu.” Keenan menyelipkan helaian rambut yang keluar dari cepolannya ke belakang telinga. Kemudian ibu jarinya mengusap bibir Nana, membuat pemilik tubuh itu meremang.


“Aku rindu, rindu kamu Janela,” lirih Keenan dengan tatapan berkabut gair@h.


“Aku juga, Bang.”


Keenan tersenyum lalu tubuhnya mendekati Nana, menempelkan kening mereka. “Jangan tinggalkan aku lagi, kita akan lewati semua bersama.” Nana menganggukkan kepalanya.


Tangan Keenan ternyata sudah berada di tengkuk Nana dan menekan sedikit membuat bibir mereka bertemu. Keenan meng* cup pelan bibir Nara kemudian kembali mempertemukan bibir mereka dengan mema_gut lebih dalam. Kerinduan yang keduanya rasakan membuat silaturahmi bibir itu semakin panas, dengan desahann kecil lolos dari bibir Nana.


Nana terengah ketika Keenan melepaskan pagutannya, dia mengusap bibir Nana yang basah dan sedikit bengkak karena Keenan terbawa suasana dengan menghissap kuat dan sesekali menggigit bibir Nana. Keenan berdiri mengulurkan tangannya, Nana menatap tangan Keenan lalu beralih ke wajah pria yang masih berstatus suaminya. Menyambut uluran tangan itu, tanpa diduga Keenan malah meraih tubuh Nana ke dalam gendongannya, berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuh Nana di sana.


“Bolehkah, aku ….”


Nana mengangguk sambil menggigit bibirnya. Perlahan Keenan melepaskan dress yang dikenakan Nana termasuk pakaian_dalaamnya. Keenan bersiul ketika menyaksikan pahatan sempurna yang sudah lama tidak dia lihat.


“Seperti biasa, cantik.”


“Abang ….” Nana terlihat malu dengan ulah Keenan yang menatap nyalang padanya. Lalu merasakan sentuhan Keenan  tubuh Nana membuatnya kembali mendessah pelan dan menyebut nama Keenan. Nafas Nana semakin menderu ketika Keenan bermain di bawah sana, meskipun bukan pertama kali merasakan hal itu entah mengapa kali ini rasanya berbeda. Mungkin karena pertemuan setelah lama berpisah.


Ketika sentuhan Keenan semakin menjadi, kedua tangan Nana refleks meremass rambut Keenan. Akhirnya gelombang itu pun datang, membuat Nana merasakan sensasi menyenangkan seakan dia dibawa melayang gerbang ke awan. Keenan beranjak mengungkung tubuh Nana sambil tersenyum setelah melepaskan penutup tubuh terakhirnya.


“Giliranku,” ucap Keenan lalu menyelami tubuh wanita yang sangat dia cintai dengan hasr*t dan gair*h yang menggebu. Dessahan dan lengu_han saling bersahutan ketika Keenan menggerakan tubuhnya mengatur ritme terbaik untuk kenyamanan keduanya. Dengan jemari yang saling menggenggam erat seakan enggan untuk terlepas. Sampai keduanya mengejang meraih puncak kenikmatan mereka.


Dengan nafas masih memburu, Keenan mendaratkan bibirnya di kening Nana.


“Seperti biasa, kamu memang luar biasa.”

__ADS_1


Nana memukul lengan Keenan dengan mata terpejam. “Lelah?” tanya Keenan sambil menghapus keringat yang ada di dahinya, Nana hanya menganggukkan kepalanya. Keenan mendessah pelan saat dia melepaskan tubuh dari penyatuan diri mereka lalu merebah di samping Nana.


“Tapi aku masih mau lanjut, sayang. Kamu terlalu berharga untuk diabaikan.” Keenan kembali mengungkung Nana.


“Abang mau apa lagi?”


“Sttt, nikmati saja. Biar aku yang bekerja.”


...***...


Entah berapa lama keduanya tertidur tapi rasanya belum lama. Nana mengerjap lalu menggeser tubuhnya agar tidak membuat Keenan terganggu. Nyatanya pria itu malah ikut terbangun, “Mau kemana?”


“Toilet,” ada tidak nyaman yang dirasakan Nana karena setelah beberapa kali dibuat melayang oleh Keenan dia langsung tertidur tanpa membersihkan dirinya.


“Mau ku gendong.”


Nana menggelengkan kepalanya. “Iya kali baru pertama kali, aku masih bisa jalan.”


Baru menjejakan kaki di lantai dan mulai melangkah, Nana mengernyit dan memekik pelan.


“Apa ku bilang, kamu ngeyel juga ya,” seru Keenan lalu meraih tubuh polos Nana dan menggendong ala bridal menuju toilet.


Nana merasakan tubuhnya pegal di sana sini dan perih di area sensitifnya.


"Sudah setahun kamu nggak dikunjungi, rasanya rapet lagi. Pedang aku penuh semangat masuk ke saarangnya. Wajar kalau kamu nggak nyaman," tutur Keenan setelah mendudukan Nana di atas closet.


"Mau ku bantu atau ...."


"Nggak, aku bisa sendiri. Abang keluar deh." Keenan meninggalkan Nana sambil tersenyum.


"Perlu bantuan tinggal teriak aja," ucap Keenan kembali membuka pintu.


"Abang!!!"


\=\=\=\= kurang hot, cari suamik 🤣🤣


Janga lupa mampir ke karya punya temen author,, gaj kalah seru lohhhh

__ADS_1



__ADS_2