
Keenan kembali dari kediaman Malik dengan wajah lesu, langsung menuju kamarnya. Bahkan dia mengabaikan Kyra yang memanggilnya.
“Mah, Kak Keenan kenapa sih?” tanya Kyra.
Kayla hanya menghela pelan. “Biarkan saja, jangan diganggu dulu.” Kayla sudah mendengar dari Elang, apa yang disampaikan Malik. Sebagai orangtua dia hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.
“Jeff belum pulang, tapi Kak Keenan udah sampai rumah.”
“Sepertinya beberapa hari ke depan Jeff akan lebih sibuk dari biasanya, kita harus berikan waktu Keenan untuk menyelesaikan masalahnya.”
“Masalah apa? Oh, iya. Aku nggak lihat Kak Nana, kemana dia?” tanya Kyra lagi.
“Justru itu masalahnya, Nana pulang ke rumah orangtuanya.”
“Hah, mereka bertengkar?”
Kayla mengedikkan bahunya. “Sudahlah tidak usah dibahas, kamu fokus saja dengan kehamilan dan pernikahan kamu.”
“Hm.”
Apa yang dikatakan Kayla ternyata benar, Jeff sementara akan sibuk karena Keenan yang sedang tidak fokus. Jeff pulang sudah lewat jauh dari jam makan malam, tapi Kyra masih menunggunya di kamar.
“Kenapa belum tidur?” tanya Jeff saat masuk kamar dan mendapati Kyra yang bersandar pada hearboard sambil menonton TV.
“Nungguin orang yang gak jelas.”
“Nggak jelas? Maksudnya aku?” tanya Jeff.
“Mulai deh, kumat dinginnya,” keluh Kyra.
Jeff terkekeh mendengar keluhan Kyra dengan wajah cemberut. “Memang aku dingin? Perasaan biasa aja.”
“Tau ah,” sahut Kyra lalu merubah posisinya menjadi berbaring.
Melihat Jeff sudah pulang, dia lebih tenang. Sejak tadi dibuat ketar ketir dan khawatir karena Jeff tidak kunjung datang dan tidak mengabari.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan piyamanya, Jeff ikut berbaring di samping Kyra. Baru beberapa hari menjadi pasangan suami dan istri, Jeff ingin Kyra merasa nyaman dengan pernikahan mereka jadi sebisa mungkin Jeff tidak melakukan hal yang tidak disukai Kyra termasuk menyentuhnya.
“Bagaimana kabar anak kita?” tanya Jeff yang beranjak duduk sambil mengusap lembut perut Kyra.
“Biasa aja, masih aktif. Aktif banget malahan.”
“Bagus dong. Hey boy, jangan terlalu aktif menendang. Kasihan Mami.”
Entah kenapa Kyra merasa hatinya menghangat mendengar ucapan Jeff. Ternyata Jeff melanjutkan komunikasi dengan perut Kyra, bahkan Kyra tersenyum mendengar celoteh Jeff dengan calon anak mereka.
“Oh iya. Besok aku akan pulang ke apartemen mengambil perlengkapan dan pakaianku, sekalian menengok Ibu.”
“Hm,” ujar Kyra.
Hubungan mereka dalam kondisi tidak direstui oleh Sena dan Kyra tidak ingin memaksa menemui Sena untuk mendapatkan restu atau bersilaturahmi karena dia hanya akan mendapatkan kekecewaan. Hanya bisa bersabar menunggu Sena yang sadar akan sikapnya yang salah selama ini.
“Ibu Sena sebentar lagi akan punya cucu, apa dia masih tidak peduli dengan kita?”
__ADS_1
“Sudahlah tidak usah dipikirkan, biar Ibu menjadi urusanku.”
Jeff berbaring miring di samping Kyra memandang Kyra. Kyra menyadari itu lalu menoleh, “Apaan sih ngeliatnya gitu banget.”
“Gemes,” jawab Jeff.
“Jangan aneh-aneh ya, ehh ini gulingnya mana. Perasaan udah aku batasi.”
Jeff berdecak, “Jangan ada penghalang diantara kita, meskipun itu hanya sebuah guling.”
“Idih aneh, ga jelas. Kamu jangan sok romantis gitu, geli aku dengarnya.” Kyra terkekeh mendengar kalimat percaya diri Jeff.
“Geser sana, aku mau tidur.”
“Kita deketan saja,” ujar Jeff. “Boleh aku jujur,” ujar Jeff lagi.
“Hm.”
“Aku nggak tahan dekat gini dengan kamu tapi tidak bisa menyentuh.”
“Apaan sih, nggak ngerti,” ketus Kyra.
“Kamu pasti ngerti Ra.”
Kyra menggeser pelan tubuhnya dan merubah posisi menjadi miring membelakangi Jeff. Lalu Jeff memeluknya dari belakang. Detak jantung Kyra tidak karuan merespon sentuhan Jeff. Meskipun keduanya sudah menikah beberapa hari yang lalu, baru kali ini mereka tidur berdekatan bahkan Jeff berani memeluk Kyra.
“Jeff,” ucap Kyra.
Sedangkan di kamar Keenan, pria itu sudah berbaring di ranjangnya menatap langit-langit kamar. Tidak ada Nana di sampingnya sungguh sangat berbeda.
Hufftt. Keenan pun beranjak duduk dan bergeser ke tepi ranjang. Membuka salah satu laci nakas dan mengambil album foto pernikahannya dengan Nana. Lembar demi lembar dia buka lalu tersenyum. Tidak menduga awal pertemuan yang cukup aneh membuatnya menikahi Nana, yang tadinya tidak saling cinta kini seakan tidak terpisahkan.
“Janela ….” Panggil Keenan sambil mengusap wajah Nana dalam salah satu foto.
...***...
“Ayo,” ajak Nena sambil mengulurkan tangannya.
Nana meraih tangan Nena, keduanya berjalan mengekor Janu keluar dari executive lounge. Sudah ada perintah untuk masuk ke dalam pesawat sesuai dengan tiket mereka.
Sesuai dengan rencana, Janu dan Nena akan membawa Nana ke Singapura untuk mengecek kembali kondisi Nana sekaligus pengobatan. Dia tidak memberitahukan Keenan perihal jadwal keberangkatannya, sudah yakin dengan keputusan kalau dia akan menemui Keenan setelah kembali dari Singapura.
Sudah seminggu ini mereka berada di Singapura. Hasil pemeriksaan Nana sama dengan yang pernah dia dapatkan dari medical check up. Janu segera mengkonsultasikan masalah Nana dengan salah satu dokter terbaik di sana, lalu menjadwalkan pengobatan dan terapi.
“Kenapa bete gitu sih?” tanya Nena.
“Bosen Mom, kita di sini cuma keluar untuk ke rumah sakit. Aku jenuh,” ujar Nana. bukan hanya kejenuhan yang dia rasakan tapi merindukan Keenan.
Nena menghela nafasnya, “Baru juga seminggu, masa udah jenuh.”
“Gimana nggak jenuh, Mommy udah kayak lagi merawat orang sakit aja. bentar-bentar aku disuruh makan ini itu,” keluh Nana.
“Ya memang begitu anjuran dokter, dalam masa pengobatan asupan makanan kamu harus terjaga. Karena kalau tubuh kamu sakit atau ada virus, pengobatannya akan percuma.”
__ADS_1
“Ada apa sih, Daddy dengar kalian berdebat,” ujar Janu yang baru saja keluar dari kamar. Selama di Singapura, mereka tinggal di sebuah apartemen yang sengaja di sewa selama menemani Nana.
Nena menatap Nana, seakan mengatakan kalau Daddynya bisa lebih tegas dari Nena.
“Hm, ada apa?” tanya Janu lalu duduk di samping Nana dan mengusap pelan kepala putrinya.
“A-aku bosan,” jawabnya.
“Bosan?”
Nana menganggukkan kepalanya.
“Pengobatan kamu baru mulai dan Daddy tidak tahu kapan akan selesai dan kamu bilang sudah bosan?”
Nana bergeming mendengar pertanyaan Janu.
“Oke, daddy izinkan kamu keluar tapi harus didampingi. Entah itu Mommy atau Daddy. Ingat jaga kesehatan kamu.”
“Beneran boleh?”
Janu menganggukkan kepalanya. “Mom, ayo kita pergi sekarang.”
Nena pun mengikuti Nana keluar dari apartemen, menuju taman yang tidak jauh dari apartemen. Sampai di sana, Nana hanya duduk di kursi taman dengan pandangan lurus ke depan.
“Sayang, jangan sedih gitu dong. Semangat ya, demi kesembuhan kamu. Demi kamu dan Keenan juga pernikahan kalian.”
“Iya Mom.”
...Satu tahun kemudian....
Brak.
“Astaga Jeff, bisakah kamu ketuk dulu pintunya,” ketus Keenan karena terkejut dengan kehadiran Jeff yang tiba-tiba.
“Aku harus ke Rumah Sakit,” ujar Jeff.
Keenan berdiri dari duduknya. “Siapa yang sakit?”
“Kyra, dia pingsan lagi.” Keenan hanya menganggukkan kepalanya sambil menghela pelan. Kyra sedang mengalami morning sickness yang cukup parah di kehamilan keduanya. Padahal putra pertama mereka baru berumur tujuh bulan.
Memikirkan Kyra malah membuat Keenan kembali mengingat Nana.
“Janela, kapan kamu kembali sayang?”
\=\=\=\= kapan2 yee bang, semaput loh kalau Nana udah balik.
Hai,,, seperti biasa , rekomendai novel temen aku nihhh
__ADS_1