Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Setia Menunggu


__ADS_3

“Ada apa dengan Nana?” tanya Janu yang tiba-tiba hadir diantara Nena dan Keenan.


“Mas Janu.” Nena belum bisa mengatakan apa yang Keenan sampaikan, masih memikirkan respon Janu kalau mengetahui Nana hilang. Pria itu cukup posesif pada keluarganya, bisa dipastikan dia akan sangat marah mendengar Nana yang kecewa pada Keenan.


“Dimana Nana, kenapa dia tidak bersama kamu?”


Keenan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Ayah mertuanya.


“Kami salah paham, Nana marah dan pergi meninggalkan hotel. Saya pikir dia sudah pulang ke sini.”


“Sejak kapan?”


“Semalam, bahkan saya sudah sebar beberapa orang untuk mencari Nana tapi masih belum ada kabar apapun tentangnya.”


Bugh.


“Mas Janu,” pekik Nana.


Keenan jatuh terjerembab setelah mendapatkan bogem mentah dari Janu. “Putriku tidak jelas keberadaannya sejak semalam dan kamu masih bisa bernafas dengan nyaman.”


“Mas Janu, jangan emosi. Tidak akan memecahkan masalah,” ujar Nena sambil menahan tubuh Janu agar tidak kembali memukul Keenan.


“Apa masalahnya sampai dia harus pergi?”


“Kami salah paham,” sahut Keenan.


“Salah paham bagaimana sampai dia harus menghindari kamu dan tidak kembali pada kami?”


“Sudahlah, kita bicara di dalam,” ajak Nena.


Kini Janu, Nena dan Keenan sudah berada di ruang tamu kediaman Janu Arsana. Suasana cukup tegang, Keenan seakan menjadi tersangka yang sedang menjelaskan kejadian perkara.


“Nana sepertinya cemburu dan tidak menyukai asisten saya. Di tambah ada ucapan yang menyinggung dia, hingga Nana kalap. Dia berteriak memaki Hana dan ….”


“Apa yang membuatnya tersinggung?” tanya Janu.


“Ada pembahasan masalah keturunan juga Nana yang terlihat tidak suka ketika mendampingi saya di acara perusahaan atau undangan relasi.”

__ADS_1


Janu mengusap kasar wajahnya. “Putriku memang tidak dewasa dan ternyata kamu tidak bijak mengatasi hal ini. Pastikan kamu temukan Nana! Kalau ternyata kepergiannya karena kamu, jangan harap kamu bisa kembali bersamanya," ancam Janu.


Nena yang duduk disamping Janu sudah terisak, khawatir memikirkan kondisi putrinya.


...***...


Sudah dua malam ini Nana berada di hotel sengaja menghindar dari Keenan. Siang ini dia cek out dan menuju bandara untuk pulang ke Jakarta. Tidak berniat pulang menemui keluarga suaminya, sudah pasrah dengan kondisinya dari pada berharap Keenan berubah atau menerima keadaannya.


Saat tiba di bandara Soekarno Hatta, Nana menghidupkan ponselnya. Banyak panggilan dan pesan masuk dari Keenan juga orangtuanya. Menggunakan taksi menuju kediaman Malik. Untuk saat ini, Nana memilih menghindar dari Keenan.


“Loh, Nana?” tanya Dea saat Nana tiba di rumahnya.


“Tante, aku ngga mau pulang... kalau Abang Keenan kemari jangan pertemukan aku ya.” Dea hanya menganggukan kepalanya karena belum paham dengan masalah yang terjadi.


“Ya sudah kamu istirahat,” titah Dea. Setelah memastikan Nana sudah masuk ke dalam kamar, Dea menghubungi Malik suaminya.


“Kamu pulang dulu deh, aku nggak ngerti ini Nana ada masalah apa. Dia lebih terbuka sama kamu,” ujar Dea pada Malik.


“Oke, aku pulang. Coba hubungi Nena dan cari tahu masalahnya.”


“Hm.”


Tidak butuh waktu lama, Malik dan kedua orangtua Nana pun tiba.


“Dimana Nana?” tanya Nena.


“Tidur, barusan aja aku cek,” ujar Dea.


“Sebenarnya ada apa?” tanya Malik.


Janu menjelaskan apa yang terjadi menurut cerita Keenan.


“Aku belum percaya dan belum mengerti, jadi butuh informasi dari Nana," ungkap Janu.


“Hm.”


Nena yang tidak sabar memilih menghampiri Nana. duduk di samping Nana yang sedang berbaring. Mengelus rambut putri satu-satunya yang lagi-lagi ketika ada masalah tidak menjadikan rumah mereka untuk tempat pulang.

__ADS_1


Sayang, Mommy sayang Nana. Maaf kalau Mommy tidak selalu ada untuk Nana, batin Nena.


Usapan tangan Nena membuat tidur Nana terusik. Wanita itu mengerjapkan matanya dan menoleh, “Mommy,” ucap Nana beranjak duduk.


“Kamu kenapa sayang, kenapa nggak cerita dan pulang ke Mommy.” Ibu dan anak itu berada dalam pelukan dan sama-sama menangis.


Janu yang menyusul ke kamar, berdiri di balik pintu yang tidak tertutup rapat dan mendengarkan isakan dua wanita paling berharga di hidupnya.


Setelah makan malam, dua keluarga itu berkumpul di ruang keluarga untuk membahas masalah Nana.


“Daddy butuh penjelasan dari kamu, bagaimana bisa kami menyembunyikan kamu atau menolak kedatangan Keenan kalau kami tidak tahu masalah sebenarnya,” ujar Janu karena sejak tadi Nana mengatakan tidak ingin bertemu Keenan.


“Aku tidak suka kedekatan Hana dengan Abang,” keluh Nana.


“Kamu sudah sampaikan dengan Keenan?”


“Sudah Mom, Abang nggak peka. Aku sudah bilang perempuan itu ada maksud lain, sikapnya beda banget. Di tambah Abang mau banyak anak,” jelas Nana.


Nena dan Dea saling tatap karena tidak mengerti dengan keluhan Nana.


 “Lalu?” tanya Janu lagi.


Nana menghela nafasnya, “Aku lakukan medical check up dan penjelasan dokter … aku akan sulit hamil.”


Nana merebahkan kembali tubuhnya pada pelukan Nena. Dea yang mengerti keresahan dan kegamangan Nana mengusap punggungnya pelan seraya menenangkan keponakan yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri.


Malik menghela pelan sedangkan Janu menatap langit-langit, sepertinya dia menahan kesedihannya. Tidak menduga jika putrinya mengalami hal berat dan menanggungnya sendiri.


“Apa yang kamu inginkan Nana?” tanya Malik.


“Aku siap kalau Abang menuntut cerai, tapi aku tidak akan menggugatnya lebih dulu,” jelas Nana.


“Besok, aku akan bawa Nana ke Singapura untuk medical check up ulang sekaligus pengobatan. Kamu temu keluarga Elang dan Keenan untuk bahas masalah mereka," ujar Janu.


"Pengobatan aku? Memang ada obatnya Mom?"


"Entahlah, Mommy nggak ngerti."

__ADS_1


 "Sudahlah, kita ikuti saja perintah dokter. Bisa jadi bukan obat tapi terapi yang akan kamu dapatkan."


Apa Abang mau menunggu aku dan tetap setia menungguku, batin Nana.


__ADS_2