
Keenan pulang agak larut karena ada pertemuan dengan klien sambil makan malam. Mendapati Nana yang sudah tertidur, padahal Keenan berencana membicarakan masalahnya dengan Nana. Setelah membersihkan diri dan mengenakan piyama, Keenan akan menghidupkan lampu tidur yang berada di dekat Janela.
Terpaku melihat wajah Nana, dengan kedua mata yang terlihat sembab dan bengkak. Entah berapa lama wanita itu menangis. Keenan bingung dengan sikap istrinya, mengapa dia mempermasalahkan hal yang benar-benar tidak terpikirkan sama sekali oleh Keenan. Mengakui kalau komunikasi diantara mereka sepertinya harus diperbaiki.
Berbaring di samping Nana dan memeluknya. “Maafkan aku, sayang.”
Keesokan hari.
Keenan yang terbangun lebih awal, sengaja merusuh membuat Nana terbangun karena ulah suaminya. “Bangun putri tidur,” titah Keenan dengan wajah berada di ceruk leher Nana.
Meskipun hatinya masih sakit karena ulah Keenan, Nana tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Dimulai dari aktivitas ranjang sampai menyiapkan setelan yang akan dikenakan Keenan.
Sebenarnya Nana menunggu janji Keenan yang akan bicara dan membahas masalah kemarin. Tapi sepertinya Keenan abai, karena setelah rapih Keenan malah mengajak Nana ke bawah untuk sarapan.
Dari wajah Nana, Kayla tahu kalau Keenan dan Nana ada masalah, apalagi kedua mata Nana masih terlihat bengkak menyiratkan wanita itu menangis.
“Keenan, kamu nggak ada rencana liburan dengan Nana? kalian tidak honeymoon setelah pernikahan,” usul Kayla.
Elang pun menyetujui usul Kayla. “Tidak usah khawatir urusan Two Season, ada Papah dan Eltan.”
“Hm, aku cek jadwalku dulu.”
Seperti biasa Nana mengantarkan Keenan sampai mobil. Keenan pun mencium kening Nana, bedanya Nana hanya diam tanpa senyum terbit di wajahnya.
Keenan mengusap pipi Nana. "Semalam aku pulang kamu sudah tidur, kita bicarakan nanti. Aku rencanakan kita liburan ya," ajak Keenan. Nana hanya mengangguk pelan.
...***...
"Gimana sayang, Tante ada rapat dadakan jadi harus ke kampus."
"Nggak masalah, aku bisa pergi sendiri," ujar Kyra.
"Tapi Tante takut loh kamu pergi sendiri."
Kyra tertawa, "Tante apaan sih, aku bukan anak kecil kali. Lagi pula Om Reka kayaknya mata-matain aku, pasti aman deh."
__ADS_1
"Ya sudah, tapi hati-hati ya."
Setelah kepergian Kyra, Nara menghubungi Reka. "Kamu yakin Kyra nggak akan curiga?"
"Nggak, tenang ajalah. Kalau tidak kita atur, dia nggak akan bicara serius dengan Jeff. Perempuan kan begitu."
"Begitu apa? Dasar aja laki-laki mau menang sendiri dan mau enak sendiri," keluh Nara. "Ya sudah, aku jalan dulu," ucap Nara lagi.
Panggilan mereka pun berakhir. Reka dan Nara sengaja mengatur seakan Nara tidak bisa menemani Kyra berbelanja kebutuhannya juga memanjakan diri di salon yang melayani perawatan khusus ibu hamil.
Saat ini Kyra sudah tiba di salah satu mall di Surabaya. Berjalan pelan menyusuri store, berniat menuju toko perlengkapan khusus ibu hamil dan bayi. Kyra yang mengenakan dress hamil selutut tanpa lengan dilapisi cardigan, dengan sandal dan sling bag.
Jeff berusaha mensejajarkan langkah Kyra. "Kebetulan sekali kita bertemu disini," ujar Jeff. Kyra berhenti melangkah dan memukul lengan Jeff.
"Jangan ikuti aku, kamu tuh merusak mood aja deh."
"Masa sih aku merusak mood kamu? Bukannya tambah semangat ya?"
"Idih pede gilaa, sok kecakepan."
"Kamu sendiri pernah memuji aku tampan."
Jeff terus mengekor Kyra. Dengan gaya pakaian casual, postur tubuh yang cukup tinggi membuatnya menjadi pusat perhatian, apalagi wajahnya yang cukup menarik.
"Ngapain masih ikuti aku?"
"Mana mungkin aku biarkan kamu jalan sendirian, memang nggak ada yang ngawal kamu?" Jeff menatap sekeliling.
Kyra tiba di store tujuannya, melupakan Jeff yang masih mengekor. Memilih maternity dress yang dibutuhkan. Jeff membawakan yang dipilih Kyra ke kasir, "Padahal aku bisa sendiri."
"Hm." Jeff tidak ingin berdebat dengan Kyra. Kasir yang menghitung belanjaan Kyra sesekali melirik dan tersenyum pada Jeff, membuat Kyra menoleh dan mendengus kesal.
"Senang jadi pusat perhatian, disenyumin perempuan-perempuan?" tanya Kyra sambil berbisik pada Jeff.
Jeff bergeming membuat Kyra kesal. Kasir menyebutkan jumlah yang harus dibayar, Kyra pun mengeluarkan kartu untuk membayar.
__ADS_1
Jeff membawakan goody bag berisi belanjaan Kyra. "Mau kemana lagi?"
"Salon. Kamu nggak usah ikut, pulang aja sana," usir Kyra.
"Kamu nggak diantar supir?" tanya Jeff karena langkah Kyra menuju parkiran basement.
Kyra menggelengkan kepalanya. "Mana kunci mobil!"
"Aku ...."
"Kunci!"
Kyra pun mengeluarkan kunci dari tasnya, Jeff langsung merebut kunci tersebut. Membuka pintu kabin belakang untuk Kyra.
"Kenapa di belakang? Aku mau duduk di depan."
"Di depan sempit, kamu lebih leluasa di sini. Masuklah!"
"Tapi ...."
"Kamu bisa duduk di sampingku sepuasnya, tapi tidak di dalam mobil saat perut kamu begini."
"Siapa juga yang mau duduk di samping kamu," sahut Kyra.
Sepanjang perjalanan Kyra hanya diam, sesekali menguap karena kantuk. Jeff yang menatap melalui spion tengah pun bertanya, "Ini lanjut ke salon? Kayaknya kamu ...."
"Pulang aja, aku ngantuk mana pada pegal badanku," keluh Kyra.
"Mau aku pijat?"
"Nggak, muka kamu kayak tukang pijat ples ples," ejek Kyra.
"Kamu bilang begitu karena sudah merasakan sentuhan ples ples aku."
"Mesum."
__ADS_1
"Hm."
Mobil yang dikendarai oleh Jeff sudah tiba dikediaman Reka tapi Kyra malah tertidur.