Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Aku Harus Bagaimana ?


__ADS_3

Jeff bergegas menemui Ibunya yang sedang melakukan pengobatan rawat jalan di rumah sakit tersebut. Pertemuannya dengan Kyra barusan cukup membuat atensinya berpusat pada masalah tadi. Apa Ibu yang mengirimkan foto itu pada Kyra. Tapi untuk apa? Bukankah aku sudah bilang kalau rencanaku sudah siap, tinggal tunggu waktunya saja untuk mengusik hati keluarga Sanjaya, batin Jeff.


“Jeff, kamu terlambat,” ucap Sena Ibu dari Jeff.


“Maaf, mari kita pulang.” Sena tersenyum dan memeluk lengan Jeff, keduanya meninggalkan rumah sakit. Jeff tidak membahas perihal Kyra yang marah karena menerima foto yang menurut dirinya tidak jelas. Memilih berbicara dengan ibunya menanyakan perkembangan pengobatannya. Sudah beberapa bulan ini Sena memang tinggal di Jakarta bersama Jeff untuk mengikuti pengobatan di salah satu rumah sakit. Awalnya mereka tinggal di Bali, lalu Jeff dua tahun ini mutasi ke Two Season Jakarta.


“Tau kamu terlambat, Ibu bisa ajak Ayu.”


“Tidak perlu, aku masih bisa mengurus Ibu.”


“Bukan begitu sayang, tapi biar kamu dan Ayu bisa semakin dekat. Kalau Ibu ajak Ayu, nanti kamu jemput kami lalu kamu bisa antarkan dia pulang.”


Jeff hanya diam, saat ini keduanya sudah berada di parkiran mobil. Setelah membuka sensor pintu, Jeff membuka pintu kabin belakang dan mempersilahkan Ibunya masuk. Tidak mengijinkan sang Ibu duduk di samping kemudi dengan alasan di belakang lebih nyaman.


“Kamu kenapa sih, sepertinya belum bisa membuka hati untuk Ayu?” tanya Sena.


Jeff yang sambil mulai mengemudikan mobil meninggalkan Rumah sakit tidak langsung menjawab.


“Jeff,” panggil Sena. “Bahkan cincin sudah kamu beli, tapi menolak untuk pertunangan.”


“Bu, aku bukan tidak membuka hati atau menolak hubungan ini. Tapi biarkan semua berjalan sebagaimana adanya. Perjodohan itu jelas arahnya pernikahan, aku tidak ingin hubungan ini diawali dengan coba-coba. Kalau untuk pernikahan, biarkan itu jadi urusan aku.”


“Jangan kelamaan Jeff, Ibu sudah ingin melihat kamu menikah lalu punya anak. Mana tahu Ibu tiba-tiba ….”


“Cukup! Ibu akan sehat dan aku akan berikan Ibu cucu.”


“Tapi kapan?”


Jeff bergeming, karena fokus pada jalan dan kemudi.


“Jangan bilang kamu tertarik dengan anak Elang?”


Jeff menghela nafasnya, “Kita sudah bahas ini berkali-kali. Aku berada di Two Season termasuk berusaha untuk dipindahkan ke pusat agar semakin dekat dengan Pak Elang dan juga istrinya sesuai permintaan Ibu. Rencana kita sudah hampir berhasil, Ibu tunggu saja dan tidak perlu bahas ini pada siapapun dan jangan lakukan apapun yang membuat mereka curiga.”


Sena berdecak. “Aku sudah menantikan hal ini sudah lama. Karena Kayla, Mas Elang memindahkan aku ke Bali. Sampai ….”


“Sudahlah Bu, sekarang fokus saja pada pengobatan Ibu.”

__ADS_1


...***...


Brak.


Kyra melemparkan tas tangannya ke atas meja rias. Menyenggol beberapa produk perawatan wajah miliknya bahkan ada yang jatuh ke lantai. “Sumpah demi apa, pengen banget aku cakar wajahnya yang sok cool itu. Menyebalkan, benar-benar bikin aku kesal.”


Kyra duduk di kursi menatap cermin di hadapannya lalu menghela nafas. “Kenapa harus bertemu lagi, tapi selama dia masih bekerja di hotel Papah ya kemungkinan itu pasti ada,” keluh Kyra bermonolog.


“Kyra, kamu kuat. Hanya perlu menghindar dari kemungkinan bertemu dengan Jeff, kamu bukan wanita murahan dan kamu berharga,” tutur Kyra mensugesti dirinya sendiri.


Memilih membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama lalu beristirahat. Lagi-lagi dengan mudah Kyra terpejam dan terlelap, meskipun beberapa hari ini dia hanya diam di rumah karena kondisi fisiknya tapi Kyra mudah sekali untuk tidur.


Keesokan pagi, Kyra terbangun karena kembali mengalami mual dan muntah. “Aku sakit apa sih, sepertinya harus ke dokter deh,” keluh Kyra yang duduk ditepi ranjang setelah tadi beberapa kali muntah di wastafel kamar mandi.


Terdengar pintu kamarnya diketuk, Kyra pun mempersilahkan masuk.


“Nona Kyra, sudah ditunggu Ibu sama Bapak.”


“Iya, sebentar lagi aku turun.”


“Sayang, kamu sudah sehat?” tanya Kayla saat Kyra muncul di ruang makan.


“Lebih baik, Mah.”


“Apa pekerjaan di galeri terlalu berat? Kalau begitu kamu pindah saja, ke Two Season,” usul Elang sambil menyesap kopinya.


“Itu sih maunya Papa, aku dan Kak Keenan benar-benar total di Two Season.”


“Ya mau bagaimana lagi, memang akan diberikan pada siapa? Urusan di Singapura sudah oke, Vano yang bertanggung jawab di sana. Surabaya ada anaknya Lili. Tinggal cabang Bali, Papa dan Eltan belum menemukan orang yang cocok meneruskan disana. Walaupun dengan manajemen yang sekarang masih oke, tapi kita nggak tahu kedepannya.”


“Sudah, kita sarapan dulu. Kalian bicarakan masalah itu nanti jangan di meja makan,” tegur Kayla.


“Kak Keenan dan Kak Nana, nggak kelihatan.”


“Owh, Nana ingin pulang. Katanya Mommy sama Daddynya mau mengunjungi adik kembarnya yang sedang pendidikan di luar. Kata Nana orang tuanya sekalian liburan dan pasti lama di sana, makanya dia mau pulang sebelum orang tuanya berangkat.”


“Hm.”

__ADS_1


“Kamu udah benar-benar sehat belum sih, pucat begitu.”


“Mah, aku nggak mau minum ini.” Kyra mendorong gelas berisi su su menjauh dari hadapannya.


Kayla menoleh, heran karena tidak biasanya Kyra menolak minum su su. “Tumben, dari kecil kamu selalu menjadikan itu bagian dari sarapan.”


“Liatnya juga udah mual. Bi aku mau teh manis hangat aja,” pinta Kyra.


“Ya udah makan sup kamu, masih hangat nanti kalau sudah dingin nggak dimakan lagi.”


Kyra baru saja menghabiskan setengah dari porsi makannya, tapi perutnya kembali bergejolak. Bergegas meneguk teh hangat untuk menetralisir rasa mual. Sepertinya tidak berhasil, rasa itu kembali muncul.


“Aku sudah kenyang,” ujar Kyra lalu beranjak berdiri.


“Kalau masih belum sehat nggak usah kemana-mana dulu, Mama masih harus ke Rumah sakit jadi nggak bisa temani kamu.”


“Iya, aku mau istirahat.”


Saat tiba di kamar, Kyra bergegas ke wastafel dan memuntahkan apa yang baru saja di makan. Tubuhnya kembali terasa lemas dan memutuskan kembali berbaring di ranjang. Membuka web browser pada ponselnya, mengetik keyword pencarian mengenai keluhan yang sedang dia rasakan.


Kyra langsung beranjak duduk saat membaca hasil pencarian yang berhubungan dengan keluhannya sebagai tanda kehamilan.


“Hamil? Nggak mungkinlah. Aku dan Jeff hanya ….”


Kyra terdiam, berpikir untuk kemungkinan mengarah pada kebenaran apakah dia hamil atau tidak. “Aku harus pastikan ini,” ujar Kyra.


Memastikan kedua orangtuanya sudah tidak ada di rumah, Kyra yang masih mengenakan piyama dilapisi dengan cardigan, menggunakan motor menuju apotek terdekat untuk membeli alat tes kehamilan. Tidak mungkin dia meminta asisten rumah tangganya atau yang bertugas mengamankan rumah, bisa-bisa hal ini didengar oleh Mama atau Papanya.


Setelah kembali ke rumah, Kyra langsung menggunakan alat yang dibeli. Dengan tiga benda dari merk berbeda untuk benar-benar memastikan kondisinya. Menunggu hasilnya muncul, Kyra menatap cermin dihadapannya. Apa yang dikatakan Kayla memang benar, kalau wajahnya terlihat sangat pucat.


Kemudian dia menoleh pada tiga jenis stick yang ada di wastafel, Kyra meyakinankan penglihatannya dengan meraih alat tes tersebut untuk dilihat lebih dekat. Ketiga alat tersebut menunjukan dua garis, meskipun salah satu alat garisnya samar.


“Nggak mungkin,” ujar Kyra. “Ini pasti salah, aku nggak mungkin hamil anak Jeff. Jelas-jelas dia nggak suka dengan aku dan ingin aku melupakan kejadian malam itu.”


Kyra terduduk di lantai kamar mandi, setelah mengacak rambutnya. “Aku harus bagaimana?” tanya Kyra sambil terisak.


 

__ADS_1


__ADS_2