
Nana mengusap punggung Keenan berusaha menenangkan suaminya. Keenan masih terlihat emosi, meskipun Jeff sudah pergi. Bahkan Nana sudah mengajak Keenan ke kamar. “Abang mandi dulu ya, sepertinya butuh mendinginkan hati dan kepala,” ujar Nana.
“Laki-laki itu benar-benar membuat kacau. Kepergian dia membuat pekerjaanku berantakan belum lagi urusan Kyra. Seenaknya sekarang mau bertemu Kyra.”
“Iya, tapi jangan emosi Bang, gimana kalau Pak Jeff serius dengan ancamannya.”
Keenan mendengus pelan, “Papa kemana sih?”
“Mama ke tempat Om Eltan, kalau Papa aku nggak tahu. Tapi mereka perginya bareng.”
...***...
“Makan yang banyak,” titah Nara meletakan mangkuk sup milik Kyra. Saat ini mereka sudah berada di meja makan.
“Aku nggak diminta makan yang banyak,” sahut Reka sambil mengusap punggung Nara yang menuangkan air minum untuk suaminya.
“Kamu jangan banyak-banyak makan, nanti buncit.”
Reka berdecak, “Bukannya kamu senang ya kalau penampilan aku cela.”
“Iya, biar nggak ada yang caper kalau jalan sama kamu.”
Kyra hanya tersenyum melihat kemesraan Reka dan Nara. Putra pertama Reka yang bernama Kai Putra Candra seumuran dengan Emran tapi tinggal bersama Leon ayah Nara. Setelah menempuh pendidikan malah keasyikan ikut bekerja di perusahaan Kakeknya. Sedangkan putra Reka yang kedua masih kuliah, Ken Putra Candra.
“Ken mana?” tanya Reka.
“Masih di jalan. Kamu besok jadi ke Jakarta?”
“Hm.” Reka menoleh pada Kyra di sela suapannya. “Kamu ada pesan apa gitu? Om mau ke Jakarta.”
Kyra menggelengkan kepalanya. “Tante Nara nggak ikut?”
“Nggak sayang, Ken harus diawasi. Khawatir macam-macam seperti Daddynya dulu.”
Kyra tersenyum menoleh pada Reka.
“Memang aku dulu kenapa?”
“Kamu nanya?”
“Iyalah aku tanya, aku dulu kenapa? Ganteng kayak sekarang ‘kan?”
“Om Reka narsis banget sih,” ujar Kyra.
“Banget, bahkan makin tua makin narsis,” sahut Nara.
“Tapi suka ‘kan?” goda Reka pada Nara.
“Tau ah,” elak Nara. “Kamu jadwal periksa kapan sayang? Biar Tante siapkan waktu temani kamu.”
“Minggu depan.”
Reka mengambil gelas di depannya dan meneguk isinya. Menatap Kyra yang sedang berinteraksi dengan Nara. Tidak bisa membayangkan perasaan Kayla, melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Hamil, bahkan saat ini harus tinggal jauh. Bahkan parahnya, Reka mendengar pria itu memiliki rekaman adegan keduanya. Rasanya Reka ingin menghabisi pria itu dan dia sendiri tidak mengenal dan tidak hafal dengan wajah Jeff.
__ADS_1
“Tapi kalau tante sibuk, aku nggak masalah berangkat sendiri.”
“Sibuk apa? Jam mengajarnya juga sudah terbatas, di rumah kalau Ken kuliah Cuma nonton drama negara tetangga doang,” jawab Reka.
“Itu bagian dari self healing aku, menatap para pria berwajah tampan yang bikin cerita semakin menarik. Nanti kita nonton bareng, kayaknya ada temen makin seru. Siapa tahu anak kamu nanti mirip opa-opa sana,” ajak Nara pada Kyra.
Reka hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Kyra sudah berada di kamarnya. Mengganti pakaiannya dengan gaun tidur yang lebih longgar, karena perutnya sudah membola. Duduk ditepi ranjang sambil mengusap perut yang sudah mulai terasa gerakannya. Berjanji pada dirinya sendiri agar tidak mudah meratapi dan menangisi keadaan.
Kembali mengusap perutnya yang baru saja terasa gerakan. “Kita istirahat sayang, Bunda sudah sangat lelah,” ujar Kyra sambil membaringkan tubuhnya. Menjalani kehamilan seorang diri, meskipun banyak sekali keluhan yang dia rasakan. Tapi tidak bisa bermanja seperti seorang wanita hamil pada umumnya yang menjadikan suaminya tempat untuk bermanja.
Seperti saat ini, Kyra kembali beranjak duduk untuk mengusap telapak kakinya yang terasa pegal. Tidurnya pun sudah terasa tidak nyaman karena harus berbaring miring.
Drt drt
Ponselnya yang berada di atas nakas bergetar tanda ada pesan masuk. Kyra menggeser duduknya agar dapat mengambil ponsel. Mengeryitkan dahinya melihat ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal juga beberapa panggilan tidak terjawab.
[Kyra, jawab panggilanku]
[Kamu di mana sekarang?]
[Kyra]
[Aku serius Kyra]
“Ini siapa?” tanya Kyra bermonolog.
[Kamu siapa?] balas Kyra.
Kyra mematikan layar ponselnya. Tidak menyangka jika Jeff menghubunginya menggunakan nomor baru. Segera menonaktifkan ponselnya lalu kembali berbaring dan mencoba untuk tidur.
...***...
“Papa serius mau bertemu Jeff, dia sepertinya ….”
“Biar Jeff Papa yang urus, kamu fokus saja dengan urusan Two Season. Kita tidak bisa gegabah, kalau sampai Jeff serius dengan ancamannya yang akan menjadi korban lagi-lagi Kyra.”
Elang pagi ini berniat menemui Jeff, berharap diskusinya nanti menghasilkan yang terbaik untuk Kyra terutama file-file yang disembunyikan Jeff.
“Abang, hm ... aku akan ikuti saran Abang untuk medical check up,” ujar Nana saat mengantarkan Keenan. Baru saja akan membuka pintu mobil, “Perlu aku temani?”
“Tidak usah, hanya medical check up biasa.”
“Oke, kamu berangkat diantar supir seperti biasa. Kalau masih harus berkunjung ke tempat lain, hubungi aku,” tutur Keenan.
Nana tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Melambaikan tangannya saat mobil yang dikendarai Keenan sudah mulai melaju.
Bukan tanpa alasan Nana melaksanakan medical check up seperti yang disarankan Keenan. Merasakan ada yang salah dengan tubuhnya karena beberapa kali merasakan nyeri di bawah perut. Saat ini Nana sudah tiba di rumah sakit, telah melakukan pendaftaran dan sedang menunggu pemeriksaan.
Cukup memakan waktu, Nana melewati serangkaian proses pemeriksaan termasuk menyampaikan keluhan yang dirasakannya.
“Ibu Janela, hasilnya akan keluar paling cepat enam puluh menit. Ibu boleh tinggal dulu, nanti kalau sudah keluar hasilnya kami hubungi,” jelas perawat.
__ADS_1
Nana memilih berada di café Rumah Sakit, penasaran dengan hasil pemeriksaan juga tidak ingin bolak-balik. Menikmati cappucino iced sambil sesekali memandang keluar jendela. Pandangan Nana terpusat pada hilir mudik orang-orang yang lewat.
Lebih dari satu jam, akhirnya Nana dihubungi karena hasil tesnya sudah keluar. Berjalan kembali ke poli tempatnya melakukan medical check up. Nana diantar ke ruang dokter untuk dijelaskan hasilnya.
Ada beberapa lembar hasil pemeriksaan yang Nana tidak paham karena menggunakan bahasa kedokteran. Mendengarkan dengan baik penjelasan dokter, tanpa disadari tangannya meremmas hasil tes yang tadi dibacanya.
“Ibu Janela bisa kembali lagi ditemani dengan suami, saya akan jelaskan terapi yang bisa dilakukan.” Nana bergeming, bahkan saat meninggalkan ruangan dokter bibirnya masih bungkam dan memilih bergegas untuk pulang.
Sedangkan di kediaman Jeff. Bel apartemennya berbunyi. Sena bergegas menuju pintu dan seakan tidak percaya dengan sosok yang berdiri di depan pintu unit tempatnya tinggal.
“Wow, sungguh suatu kejutan seorang Elang Sanjaya bertamu ke tempat kami,” ejek Sena.
“Aku perlu bertemu dengan Jeff.”
“Hm, aku bingung apakah harus mempersilahkanmu masuk atau mengusirmu. Secara aku adalah single woman dan kamu adalah pria beristri. Bagaimana jika ada yang menyaksikan hal ini,” tutur Sena.
“Tidak ada yang tertarik mengangkat hal ini ke media. Panggilkan Jeff, biar dia yang memutuskan ingin menemuiku atau tidak.”
Sena memilih melebarkan pintu seakan mengatakan silahkan masuk. Elang berjalan melewati Sena tanpa menatap wanita itu. Semakin kesini dia semakin berpikir kenapa dulu bisa jatuh cinta dan menikahi wanita itu.
“Duduklah,” titah Sena yang sudah lebih dulu duduk di salah satu sofa.
“Dimana Jeff?”
Sena berdecak, “Dia masih tidur, semenjak menjadi pengangguran kerjanya pulang pagi bahkan tidak jarang dalam keadaan mabuk.”
“Panggilkan Jeff, aku menemuinya karena dia yang meminta pertemuan ini,” titah Elang masih dengan posisi berdiri.
“Mas Elang,” panggil Sena sambil berjalan mendekat. “Seharusnya dulu kamu tak mengabaikanku dan tidak mutasi aku ke Bali. Kenapa kalian harus bahagia sedangkan aku menderita.”
“Itu sudah takdir hidupmu, Sena. Jangan mencari kambing hitam.”
“Tidak, kalau saja Mas Elang kembali membuka hati untukku. Hidupku pasti baik-baik saja. Ini semua karena Kayla, istri sial*nmu.”
“Kita bercerai jauh sebelum aku menikahi Kayla. Kamu salah kalau mengatakan Kayla penyebab apa yang terjadi.”
“Tentu saja karena Kayla, aku harus bertemu dengan Ed dan menikahi pria itu lalu hidup menderita,” teriak Sena.
“Kalian bahagia pada masanya, bahkan ada Jeff diantara kalian.”
“Justru itu, aku sengaja membuat Jeff ikut membenci kalian. Aku ingin melihat kalian hancur terutama Kayla,” ucap Sena lalu terbahak.
“Jadi, aku kau tumbalkan untuk dendam bodohmu.”
Elang dan Sena menoleh ke arah suara. “Jeff,” ucap Sena.
“Sejak aku remaja Ibu selalu menekankan hidup kita susah karena pria ini,” tunjuk Jeff pada Elang. “Tapi itu semua hanya halusinasi Ibu yang tidak terima karena melihatnya bahagia. Kenapa kebencianmu harus melibatkan aku.”
“Jeff, dengar Ibu ….”
“Cukup! Ibu bisa kembali ke Bali atau tetap di sini terserah. Aku akan urus hidupku sendiri.”
“Jeff,” panggil Sena menyusul Jeff dan mengetuk pintu kamar putranya. Tidak lama Jeff keluar menyeret kopernya dengan Sena yang berteriak menahan kepergian Jeff.
__ADS_1
\=\=\=\=\=