
Kayla langsung menyambangi kamar dimana Oma Meera berada ketika tiba di kediaman Eltan. “Kak,” sapa Rika yang ingin menanyakan kabar Kyra karena Elang melarang keluarga untuk menjenguk selama Kyra berada di rumah sakit.
“Kak Kayla kenapa?” tanya Rika heran.
“Kemarilah, kita tanya paman saja,” ajak Eltan.
Elang menyandarkan tubuhnya saat duduk di sofa kediaman Eltan sambil memijat dahinya pelan. Eltan dan istrinya duduk tidak jauh dari posisinya.
“Aku ngantuk dan kepalaku berat ….”
“Biar aku minta bibi buatkan kopi,” ucap Rika menyela ucapan Elang karena ingin mendapatkan kejelasan mengenai kondisi Kyra. Tidak lama kemudian Rika sudah kembali duduk di samping Eltan diikuti asisten rumah tangga mereka yang membawakan kopi untuk Elang.
Elang menyesap kopinya perlahan, kemudian menatap Eltan dan Rika bergantian. “Kyra hamil.”
“Kyra ? Nana kali ah,” ujar Rika.
Eltan berdecak sambil menyenggol lengan Rika. Eltan sudah mengetahui mengenai kehamilan Kyra dari Kiran putrinya. Pada saat Kyra pingsan Kiranlah yang mengarahkan untuk dibawa ke rumah sakit yang memang profesinya seorang dokter.
“Kyra pingsan karena kondisi kehamilannya,” ujar Elang kembali memijat dahinya. Usia yang semakin tua dihadapkan dengan masalah yang menurutnya cukup pelik, tentu saja tubuhnya memberikan respon yang tidak baik. “dan Kyra masih bungkam mengenai laki-laki itu.”
Eltan paham apa yang dirasakan Elang, terutama Kayla. Mengingat masa lalunya dulu, menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran yang baru saja bertandang. “Sepertinya kamu temani Kayla,” titah Eltan pada Rika.
Sepeninggal Rika, Eltan kembali membuka pembicaraan. “Tidak ada petunjuk sama sekali? Misal kedekatan dengan teman atau ….”
Elang menggelengkan kepalanya.
Sedangkan di kamar tempat Meera berada, wanita tua itu terkejut karena kehadiran Kayla yang tiba-tiba bahkan langsung menangis di pangkuannya. “Kayla, ada apa? Apa ada masalah dengan cucu-cucuku?”
“Bunda,” panggil Kayla. “Maafkan aku Bunda. Mungkin ini yang Bunda rasakan dulu waktu aku ….”
Meera menangkup wajah Kayla dengan kedua tangan keriputnya, lalu menghapus air mata putrinya. Sampai saat ini, Meera masih merasa bersalah terhadap apa yang pernah Kayla alami. Meskipun bisa dikatakan sebagai takdir yang memang harus wanita itu alami.
“Ada apa? Bicara pelan-pelan.”
Kayla menghentikan tangisnya. “Saat aku hamil di luar nikah, Bunda pasti sangat malu. Malu karena aku, malu ….”
“Kamu bicara apa, itu sudah lewat. Bunda tidak malu, tapi marah. Marah karena tidak bisa menjagamu. Kecewa, karena gagal menjadi orangtua.”
“Kyra,”
“Kenapa dengan Kyra?”
“Kyra hamil, Bun.”
__ADS_1
Meera terdiam sepertinya mencoba memikirkan sesuatu. “Kayla,” panggil Meera. “Kalau laki-laki itu memang berniat baik, kalian tidak akan tahu lebih lambat. Temui putrimu, lindungi dia. Dia yang paling berat menghadapi ini semua.”
Kayla mendengarkan nasihat Meera. Rika yang ingin masuk memegang handle pintu agar pintu terbuka lebih lebar, urung dilakukan. Membiarkan Ibu dan anak itu saling mencurahkan isi hati mereka.
...***...
Kyra masih tetap bungkam, tanpa mau menyebutkan nama pria yang seharusnya bertanggung jawab. Padahal perutnya sudah semakin buncit. Usia kehamilannya sudah memasuki empat bulan. Sampai Elang membaca sikap tidak biasa Kyra saat Jeff pagi itu menyambangi kediaman mereka.
Hal yang biasa Jeff lakukan, selaku asisten Keenan. Apalagi jika ada kegiatan atau pertemuan pagi, keduanya biasa bertemu di rumah.
“Kyra, habiskan ini,” Kayla meletakan semangkuk bubur kacang hijau dihadapannya.
“Mah, aku ….”
“Nggak ada penolakan, menu makan kamu biar Mama yang atur.”
“Asal jangan Papa dapat menu yang sama,” sahut Elang. Keenan dan Nana ikut bergabung di meja makan. Sesuai arahan Elang untuk tidak bahas apapun pada Kyra, biar hal ini akan diurus oleh Elang dan Kayla.
Kayla hanya menggelengkan kepala melihat Kyra meneguk air setiap dia menyendokan bubur ke dalam mulutnya.
“Hai, Jeff. Kemarilah, ikut sarapan dulu,” sapa Kayla saat Jeff menyapa keluarga itu.
Kyra langsung meletakan sendoknya. Kedua tanganya mengepal di atas pangkuan, berusaha bersikap biasa agar tidak kentara jika dia tidak menyukai kehadiran Jeff. Keenan dan Jeff berinteraksi membicarakan pertemuan pagi ini.
“Mah, aku sudah. Nanti aku pasti makan lagi,” ujar Kyra. Elang sempat menatap raut wajah Kyra yang aneh. Bersamaan dengan Jeff yang juga melirik Kyra berjalan meninggalkan meja makan. Kyra bergegas melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
“Hm, kurang lebih enam tahun.”
“Sebelumnya, kamu di cabang ….”
“Bali.”
“Ahh,” jawab Elang.
Nana mengantarkan Keenan sampai pria itu masuk ke dalam mobil. Sudah mendapatkan ijin jika dia boleh menemani Kyra yang ingin mengunjungi galeri. Nana bergegas menyambangi kamar Kyra, “Kak Kyra,” panggil Nana sambil membuka pintu dan menyembulkan kepalanya.
“Ya.”
“Aku masuk ya.”
Kyra sedang berbaring di ranjang memainkan remote TV yang entah mencari channel atau program apa. “Abang bilang, aku boleh ikut ke Galeri, kita berangkat jam berapa?”
“Hm, jam sepuluh aja. Tunggu Emran, biar dia yang bawa mobil,” sahut Kyra. “Kakak udah berangkat?”
__ADS_1
“Sudah, Pak Jeff yang ngajak buru-buru, katanya takut macet.”
Kedua wanita itu asyik berceloteh sambil mengomentari acara yang sedang mereka tonton sampai Emran mengetuk pintu kamar Kyra dan membuka tanpa menunggu jawaban.
“Yaelah, kirain udah pada siap. Ini masih pada rebahan.”
“Aku bilang jam sepuluh,” jawab Kyra.
“Tuh liat, sekarang jam berapa?”
Kyra dan Nana menoleh pada jam dinding. “Baru juga jam sembilan,” sahut keduanya berbarengan.
“Iya, tapi cewek kalau dandan ‘kan nggak tahu waktu ….”
“Emran, ikut Papa,” ajak Elang yang berdiri di pintu kamar Kyra.
“Siap, Bos.”
Elang dan Emran duduk berhadapan di ruang kerja Elang, yang akhir-akhir ini sering digunakan oleh Keenan.
“Kamu kenal Jeff?”
“Yang ngikut Kak Keenan kemana-mana.”
Elang menganggukkan kepalanya. “Nggak, yang aku tahu kalau di Two Season, ada Kakak ya ada si bule itu. Sama Kyra suka ngikut-ngikut nggak jelas.”
“Ngikut nggak jelas?”
“Waktu Kak Keenan menikah, Kyra ‘kan ngilang-ngilangan mengikuti itu bule.” Elang menghela nafasnya. “Kalian mau kemana?”
“Galeri.”
“Nggak usah. Biar Papa yang bilang sama Kyra.”
Emran hanya mengedikkan bahunya. Lalu pamit undur diri. Elang kembali ke kamar Kyra dan Nana sudah tidak ada di sana.
“Emrannya mana? Aku mau pergi,” ujar Kyra
“Jeff,” ujar Elang. Membuat Kyra langsung menatap wajah Elang.
“Ayah bayi yang kamu kandung itu Jeff.”
Brak.
__ADS_1
Kyra melepaskan ponsel yang dia genggam. “Pah ….” Kyra tidak dapat melanjutkan ucapannya. Lidahnya kelu, bibirnya bergetar menahan tangis dan kedua tangannya meremas ujung dress yang dia kenakan.
“Jangan pergi kemanapun, tanpa seijinku,” ujar Elang lalu meninggalkan kamar Kyra dan menutup pintunya.