
"Ayo," ajak Emran. Mereka telah tiba di Juanda Airport. Emran menyeret koper milik Kyra, berjalan keluar dari gate.
"Kita langsung ke tempat Om Reka?" tanya Kyra.
"Emang ada tujuan lain? Ingat lo disini untuk menepi bukan liburan. Apalagi hangout nggak jelas," jelas Emran. "Halahhh, kalah gaya gue," ujar Emran sambil menunjuk dimana seorang pria berdiri menunggu mereka. Kyra menatap arah yang dimaksud Emran lalu tersenyum.
Reka berdiri dengan kedua tangan berada di kantong celana, kacamata hitamnya membuat wajah Reka terlihat pongah menambah ketampanan pria itu.
"Gaya kamu kalah sama Om Reka," ejek Kyra lalu menghampiri Reka.
Reka memeluk Kyra dan mengusap kepala putri dari Kayla. "Yaelah Om, coba gaya nggak usah di keren-kerenin gitu," keluh Emran.
"Udah keren dari lahir, nggak percaya tanya aja sama Bunda kamu," titah Reka pada Emran. "Kyra, hubungi Mama kamu dulu ya. Bilang kalau kamu sudah ketemu Om,” titah Reka.
Kyra menganggukan kepalanya lalu mengeluarkan ponsel dari sling bagnya.
"Tante Nara nggak ikut?" tanya Emran mencari sosok Bu dosen istri dari Reka.
"Nggak, ngapain jemput kamu doang harus ikut," Reka kembali mengejek Emran.
"Kita lihat nanti, menurut Tante Nara aku atau Om Reka yang paling keren.” Emran masih penasaran dan tidak mau kalah dari Reka,
"Oke, kita buktikan saja."
...***...
Sudah lebih dari satu bulan Jeff tidak bekerja di Two Season, artinya sudah satu bulan ini Kyra tinggal di Surabaya.
"Jeff, bangunlah." Sena mengguncangkan tubuh Jeff agar segera beranjak.
Jeff berdecak, "Aku masih ngantuk, Bu." Hidup Jeff setelah tidak aktif di Two Season semakin kacau, tentu saja kalau ingin menyalahkan ini adalah salah Sena. Didera rasa bersalah pada Kyra, apalagi diam-diam berusaha mencari Kyra dan hasilnya nihil. Jeff sering menghabiskan malamnya di club untuk minum, daripada di rumah harus terus mendengarkan ocehan sang Ibu.
"Jeff ini sudah waktunya Ibu ke rumah sakit, kenapa kamu malah enak tidur."
"Ibu bisa berangkat sendiri dan jangan minta pelayanan kesehatan terbaik karena tabunganku menipis.”
"Kamu malas, kenapa tidak cari kerja lagi. Pernah menjadi asisten CEO Two Season, tidak akan sulit untuk mencari pekerjaan baru."
Jeff tertawa, "Kita main api dengan keluarga Sanjaya, mana mungkin aku bisa bergerak. Namaku pasti sudah di black list di sana sini," ungkap Jeff.
__ADS_1
"Lalu nasib Ibu, bagaimana?"
"Entahlah, ini semua kemauan Ibu, kenapa tanya padaku," ujar Jeff.
“Dasar anak tidak tahu diri, kamu seperti Ayahmu hanya menyusahkan hidupku,” teriak Sena. Jeff beranjak bangun dari posisinya yang masih berbaring.
“Aku hanya menyusahkan Ibu? Bagian mana yang paling menyusahkan? Dari kecil aku selalu turuti apa yang Ibu mau tapi apa kita bahagia?” Jeff mengusap kasar wajahnya.
“Kemarikan file anaknya Elang, aku akan gunakan itu untuk hidup kita ke depan. Kenapa kamu begitu bodoh sampai melupakan hal sebaik ini.”
“Apa Ibu ingin mengancam mereka?”
“Mereka akan lakukan apapun asal file itu tidak ter blow up.”
“Tidak, aku tidak ingin lakukan hal itu. Kyra sudah menanggung beban dengan mengandung anakku dan sekarang aku harus membuatnya malu dengan menyebarkan foto dan videonya. Aku pasti orang paling kejam dan tidak waras kalau sampai melakukan hal itu.”
“Jeff, kamu ingin kita jadi gelandangan di Jakarta. Pertunangan dibatalkan sekarang kamu pengangguran, lalu bagaimana dengan nasib kita?”
“Kita pulang ke Bali, aktifkan lagi usaha Ibu. Aku akan mencari rejeki dengan jalanku sendiri,” sahut Jeff lalu meninggalkan Ibunya yang terus berteriak karena tidak setuju dengan ide putranya.
"Jeff, kenapa kamu sekarang lemah. Jangan bilang kamu diam-diam menyukai Kyra.
Jeff memilih berada di balkon sambil menghisap rokoknya. “Kyra, maafkan aku,” gumam Jeff.
Nana semakin merasa kesepian ketika Keenan tidak ada di rumah. Biasanya ada Kyra tapi setelah Kyra tinggal di Surabaya, Nana sering mengunjungi Keenan di Hotel kalau merasa jenuh. Seperti hari ini, dia sudah turun di depan lobby. Mengembangkan senyumnya saat beberapa pegawai menyapa Nana.
Saat keluar dari lift, Nana bertemu dengan rekan kerjanya dulu. “Ya ampun Nana, makin cantik aja sih.”
Nana hanya tersenyum mendengar pujian untuknya. “Masa sih.”
“Dari dulu juga dia mah cantik, Cuma seragam kerjanya aja yang bikin kecantikan dia kalah. Eh Nana, kita Cuma bercanda jangan diambil hati ya apalagi dilaporin, yang ada nanti kita dipecat.”
“Ya nggak lah, laporkan kemana kali. Kalian semangat kerjanya ya.”
Nana menanyakan keberadaan Keenan pada sekretarisnya. “Pak Keenan masih rapat dengan beberapa manajer divisi.”
“Hm, aku tunggu di dalam deh,” sahut Nana.
Sudah hampir satu jam Nana menunggu tapi Keenan belum kembali ke ruangannya. Nana akhirnya masuk ke dalam kamar rahasia yang ada di ruangan Keenan. Berbaring di ranjang yang ada di sana, sambil memainkan ponselnya. Makin lama semakin terasa kantuk, akhirnya Nana tertidur.
__ADS_1
Keenan tidak mengetahui kedatangan Nana. Setelah mengakhiri rapat dia kembali ke meja kerjanya. Eltan merekomendasikan pengganti sementara Jeff dengan orang kepercayaannya dulu yaitu Hana. Karena Keenan menginginkan personal asistennya seorang laki-laki, maka Hana hanya sementara.
“Apa jadwalku siang ini?” tanya Keenan pada Siska. Baik Siska dan Hana saat ini sudah berada di depan meja Keenan.
“Tidak ada pertemuan lagi Pak, hanya ada beberapa berkas yang butuh approval segera,” ujar Siska menunjuk dokumen di atas meja Keenan.
“Oke, saya makan siang dulu. Hana, kamu ikut saya. Ada beberapa hal yang akan kita bahas.”
Keenan mengakui hasil kerja Jeff yang cukup kompeten, bahkan apa yang Hana dan Siska kerjakan belum bisa mengimbangi kerja Jeff sebelumnya. Tapi Keenan tidak mungkin bergantung pada Jeff. Setelah makan siang, Keenan ditemani Hana dan manager operasional mengadakan sidak di beberapa pelayanan hotel.
Keenan kembali ke ruangannya dan terkejut melihat Nana di sana. “Sayang, kamu kapan datang? Kenapa tidak mengabariku?” Nana menatap Siska, seharusnya Keenan tahu kalau Nana menunggunya.
“Waktu Abang masih rapat, sepertinya aku mengganggu kesibukan Abang.” Nana beranjak berdiri, bahkan dia melewati makan siang yang niatnya ingin menikmati bersama Keenan.
“Jangan, kita pulang bersama.” Keenan melirik arloji di tangannya, “Tunggu dulu ya, masih ada pekerjaanku yang belum selesai.”
Nana menggelengkan kepalanya. “Kalian keluarlah,” titah Keenan pada Hana dan Siska.
“Nana, bukannya aku tidak menyukai sikapmu. Tapi sungguh Na, saat ini aku benar-benar sibuk. Jeff sebelumnya benar-benar bisa diandalkan tapi sekarang penggantinya tidak se kompeten Jeff.”
“Maaf. Karena aku memahami kesibukan Abang, jadi aku lebih baik tunggu di rumah.”
“Nana,” ujar Keenan sambil menyentuh bahu istrinya. “Lain kali kabari aku.”
“Apa aku harus buat janji dulu? Padahal sekretarismu sendiri yang mengatakan sedang rapat dan aku tunggu di dalam. Aku pulang saja, Bang.”
“Na,” panggil Keenan sambil meraih tangan Nana tapi kembali dilepaskan karena bunyi dering ponsel Keenan. Saat Keenan serius bicara lewat telepon, Nana pun akhirnya keluar dari ruang kerja Keenan.
...***...
Keenan semakin sibuk, bahkan sering pulang ketika Nana sudah tertidur. Sedangkan Elang sendiri masih belum mendapatkan file yang dimiliki Jeff, Kayla kembali disibukkan dengan kondisi kesehatan Meera yang kembali buruk.
Tentu saja hal ini membuat Nana merasa semakin kesepian. Sesekali dia mengunjungi orangtuanya dan malah menjadi persoalan dengan Keenan karena Nana yang pergi tanpa ijin darinya.
“Apa hari ini kamu ada rencana keluar lagi?” tanya Keenan.
Nana menunduk sambil menggelengkan kepalanya. “Dari pada kamu harus berkeliaran tidak jelas, lebih baik kamu lakukan medical check up. Wajahmu pucat seperti orang sakit, jangan sampai nanti berkesan kamu disini tersiksa,” tutur Keenan.
“Aku akan sarapan di luar, ada janji pagi ini. Tidak perlu mengantarku, istirahatlah.”
__ADS_1
Nana pun kembali duduk di tepi ranjang setelah keberangkatan Keenan. “Berkeliaran tidak jelas? Aku hanya mengunjungi Mommy, dia sebut berkeliaran,” gumam Nana. Kedua matanya yang berembun kini sudah meneteskan air mata.
“Janela, please jangan cengeng,” ujar Nana menyemangati dirinya sendiri sambil mengusap air mata di pipinya.