
Sena berjalan mondar mandir, dengan raut wajah kesal. Dia baru saja kembali dari kediaman Elang Sanjaya. Niatnya melihat secara langsung bagaimana terpuruknya keluarga itu tapi nyatanya nihil.
Terdengar pintu apartemen terbuka dan masuklah Jeff.
“Dari mana kamu?”
Jeff tidak menjawab pertanyaan Sena, memilih menuju lemari es dan meraih botol air mineral, membuka lalu meneguk isinya. “Jeff, Ibu tanya kamu dari mana?”
Jeff berdecak. “Untuk apa bertanya, kalau Ibu sudah tahu jawabannya.” Jeff lalu duduk di sofa dan menyalakan televisi, tubuhnya masih gerah untuk langsung mandi dan dia harus merelakan telinganya mendengarkan sang Ibu mengoceh.
“Harusnya kamu tadi ikut Ibu, paling tidak bisa bantu jadi Ibu tidak kena skakmat.”
“Memang dari mana?”
“Ibu ke tempat Elang,” sahut Sena. Jeff lalu menoleh ke arah Ibunya.
“Maksudnya ke rumah Elang Sanjaya?” Sena menganggukkan kepalanya.
“Elang dan Kayla itu benar-benar, ughhh,” Sena mengepalkan kedua tangannya menandakan jika dia sangat kesal. “Sombong sekali padahal jelas-jelas putri mereka sudah rusak.”
“Takut Ibu lupa, aku yang merusaknya. Kenapa Ibu senang mengacaukan rencana?”
“Ibu sudah tidak sabar ingin melihat wajah menyedihkan Kayla. Kamu tahu tadi putri Kayla bilang apa? Dia tidak ingin mengemis, sombong sekali. Kalaupun dia mengemis-ngemis aku tidak akan membiarkan kamu menikahinya. Jeff segera hubungi Ayu, percepat pertunangan atau pernikahan kalian.”
Jeff menghela nafasnya, “Aku sekarang pengangguran Bu. Tidak akan ada orangtua yang rela menggantungkan hidup anak mereka pada pria tidak jelas seperti aku.”
“Kamu makin lama makin susah diatur,” keluh Sena lalu membuka ponselnya. Dia mengernyitkan dahi, awalnya ingin menghubungi Ayu wanita yang akan dijodohkan dengan Jeff tapi wanita itu sudah mengirimkan pesan lebih dulu.
[Tante Sena, Ayah membatalkan janji makan malam. Aku nggak ngerti alasannya, tapi aku tidak berani melawan]
Sena menghela pelan, sambil berusaha menyadarkan hatinya. Dia membuka pesan lain yang sudah masuk ke dalam ponselnya.
[Ibu Sena, sepertinya rencana kita menjodohkan Jeff dan Ayu saya batalkan. Tidak mungkin saya berbesan dengan orang yang memiliki masalah dengan Two Season, sedangkan perusahaan saya banyak kerjasama dengan Pak Elang Sanjaya]
“Arrggg, gagal semua,” teriak Sena.
Jeff menoleh sekilas, “Ingat penyakit Bu, nggak usah marah-marah.”
“Ini semua karena kamu nggak mau dengar Ibu. Kalau kamu sudah menikahi Ayu sejak kemarin-kemarin, nggak akan begini akhirnya. Mereka ingin batalkan perjodohan,” terang Sena.
__ADS_1
Jeff beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamar. “Baguslah, aku nggak tertarik dengan wanita itu,” sahut Jeff.
“JEFF!!!” teriak Sena.
...***...
Sedangkan di kediaman Elang.
Kyra masih terisak, duduk di tepi ranjang. Meskipun dia berlagak kuat dan sombong di depan Ibunya Jeff termasuk di depan Jeff tadi pagi, hati Kyra tidak sekuat itu. Dia mengusap perutnya sambil membayangkan hidup anaknya tanpa seorang Ayah.
Ditambah khawatir dengan nasib hidupnya membayangkan adegannya bersama Jeff. Banyak pertanyaan berputar di kepala Kyra, terkait file-file itu.
“Apa Jeff akan sejahat itu dengan mengupload video kami?’
Kyra menutupi wajah dengan kedua tangannya, tubuhnya kembali bergetar karena isak tangis. “Kekacauan apalagi yang akan kamu buat, Kyra?”
Elang sendiri sedang menenangkan Kayla yang sebelas dua belas dengan Kyra. Kayla terlihat tegar di luar tapi rapuh di dalam. “Sayang, sudahlah jangan menangis terus. Kita akan cari solusinya.”
“Mas Elang, coba bayangkan kalau video Kyra sampai tersebar. Kasihan anak kita Mas,” keluh Kayla.
“Iya, aku tahu. Tenang saja, justru kita tidak boleh gegabah membuat Jeff gelap mata lalu dia berulah.”
“Mungkin saja, tapi Jeff tidak sebodoh itu. Dia tahu dia belum kompeten sebagai pemimpin, yang ada Hotel bangkrut dan dia sendiri yang kena getahnya.”
“Sudahlah, kamu konsenkan pikiran dan kesehtan kamu. Aku akan urus masalah Jeff dan Kyra akan tinggal bersama Reka dan Nara di Surabaya.”
“Tapi ….”
“Itu lebih baik untuk kondisi jiwa dan raganya.”
Sedangkan di kamar Nana, perempuan itu sedang berbaring sambil mendesis pelan dengan kedua tangannya memegang perut. Sejak tadi Nana merasakan perut yang tidak nyaman. Bahkan dia sudah minum pain killer untuk menghilangkan nyeri tapi tidak ada perubahan.
Banyak keringat di dahinya, “Mommy, perutku sa-kit,” keluh Nana dan tentu saja hanya bisa didengar olehnya sendiri. Sepertinya efek obat yang Nana minum baru mulai berpengaruh pada tubuhnya, perlahan dia mulai mengantuk dan akhirnya tertidur.
“Sayang,” panggil Keenan sambil mengusap kepala Nana.
Entah berapa lama Nana tertidur, yang jelas saat ini dia merasakan tubuhnya cukup lemas. “Kamu sakit?”
Nana mengeratkan selimutnya. “Perut aku ….”
__ADS_1
“Kita ke dokter ya,” ajak Keenan mulai khawatir dengan keluhan istrinya. Sudah beberapa kali dia mendengar Nana mengatakan sakit perut.
Nana menggelengkan kepalanya. “Aku ngantuk,” sahut Nana kembali memejamkan matanya. Keenan yang pulang berencana makan malam bersama keluarganya, tidak menemukan Nana di meja makan. Kayla baru saja akan meminta Bibi mengecek Nana, tapi keburu Keenan pulang.
“Loh, mana Nana?”
“Tidur, sepertinya kurang sehat,” sahut Keenan. “Biar nanti agak malam atau besok pagi aku bawa ke dokter.”
Hanya ada Keenan, Elang dan Kayla di meja makan. Kyra seperti biasa, tidak ingin bergabung menikmati makan malam. Elang menyampaikan secara singkat kehadiran Sena tadi pagi dan rencana membawa Kyra ke Surabaya.
“Kyra mau tinggal di sana?”
“Saat ini Kyra tidak lagi bisa memilih mana tempat dia ingin tinggali. Apa yang dia lakukan benar-benar dalam pantauan serta rencana kita. Kamu fokus dengan urusan hotel, biar Jeff Papa yang urus,” tutur Elang.
...***...
Kyra sudah siap berangkat. Mengenakan blouse hamil dan celana legging ditambah cardigan, dilengkapi dengan flat shoes. Sengaja mengenakan pakaian sederhana yang bisa membuat tubuhnya nyaman. Dengan koper berisi pakaian sederhana karena perut yang semakin besar pasti memerlukan pakaian berbeda dan Kyra berencana membelinya di sana setelah tiba di Surabaya.
“Kamu sudah siap?” tanya Kayla.
Kyra mengangguk. Kopernya sudah dibawa turun oleh asisten rumah tangga. Kayla mengapit lengan Kyra mengajaknya turun. Sudah ada Emran di sana yang akan mengantarkan dan memastikan Kyra tiba di kediaman Reka dan Nara.
Emran yang sedang mendapatkan arahan dari Elang, sesekali mengangguk. “Sering-sering kabari Mama ya, nanti Mama berkunjung ke sana,” ujar Kayla.
“Mah, maafkan Kyra ya.” Kedua mata Kyra sudah mengembun setelah permintaan maafnya.
“Sttt, saat ini yang penting kesehatan kamu. Jangan pikir yang aneh-aneh.”
“Ayo,” ajak Emran.
Kayla kembali memeluk Kyra dan mengusap punggung putrinya. Demi kenyamanan Kyra, dia melepas Kyra dan tidak bisa mendampingi kehamilan putrinya. Bergantian dengan Kayla, Elang memeluk Kyra dan mengusap puncak kepala putrinya.
“Jaga dirimu baik-baik, Om Reka dan Tante Nara sudah siap menerimamu.” Kyra hanya menganggukkan kepalanya. Tidak sanggup membuka mulutnya karena hanya akan ada tangis yang pecah. Kyra melambaikan tangannya pada Elang dan Kayla saat mobil yang membawanya menuju bandara mulai bergerak.
.
Bersambung yesss
\=\=\= yuhuu, sambil tunggu update, mampir yuk ke novel rekan author. Gak kalah seru lohhh.
__ADS_1