
Haiiii,, terima kasih komen2 kalian di bab2 sebelumnya ya. Yang jelas konflik Keenan dan Nana bukan murni pelakor.
\=\=\=\=
Kyra menjadi pusat tatapan dari Reka, Nara dan Ken.
"Kamu mau temui?” tanya Reka.
Kyra mengedikkan bahunya.
"Kyra, coba kamu tanya lagi hati kamu jangan bermain emosi. Selesaikan urusan kalian," tutur Nara. "Kalaupun tidak siap malam ini, sampaikan kapan kamu siap bicara. Tapi jangan abai apalagi menghindar."
"Mau Om temani?"
"Nggak usah, aku sendiri aja. Lagi pula ini rumah Om Reka, dia nggak bakal berani macem-macem."
"Kak, kalau sudah menyerah lambaikan tangan ke arah kamera atau teriak aja," canda Ken.
Jeff menunggu Kyra dengan duduk di sofa yang ada di beranda kediaman Reka. Kyra berdiri tidak jauh dari Jeff, "Mau apa sih, aku bilang kita bicara nanti," ketus Kyra.
Jeff langsung berdiri saat mendengar suara Kyra. "Tapi Ra, aku nggak sabar nunggu lama. Jangan siksa aku dengan rasa bersalah ini, please Ra." Jeff menghampiri Kyra dan meraih tangan Kyra yang ditepis oleh Kyra.
"Duduklah Kyra, tidak baik wanita hamil terlalu lama berdiri."
Kyra pun duduk, tatapannya tidak mengarah pada Jeff. Dari ujung matanya, Kyra yakin kalau Jeff saat ini sedang memandang Kyra. “Kyra,” panggil Jeff.
Kyra melipat kedua tangannya di dada, masih enggan menatap Jeff yang duduk di hadapannya. “Aku butuh kepastianmu, setelah itu aku akan ke Jakarta untuk menemui Pak Elang.”
Ucapan Jeff membuat Kyra akhirnya menoleh dan menatap tajam wajah Jeff. “Keputusan apa? Kamu mau ngapain ketemu Papa?”
Jeff menghela pelan lalu berkata, “Aku ingin bertanggung jawab, kalau kamu sudah siap aku akan segera ke Jakarta untuk melamarmu. Kita harus segera menikah, perut kamu sudah besar begini dan aku ingin menebus kesalahanku Ra.”
“Enak aja, nggak ada ya. Aku sudah bilang kalau aku tidak butuh tanggung jawab kamu. Kamu sendiri yang tidak mengakui kalau anak ini darah daging kamu, jadi nggak usah repot-repot untuk menikahi aku.” Kyra pun beranjak berdiri dan hendak meninggalkan Jeff. “Sudah malam, lebih baik kamu pulang. Pulang sana ke Jakarta, urus saja Ibu kamu itu.”
“Kyra,” panggil Jeff mengikuti langkah Kyra. Reka muncul dan membiarkan Kyra masuk ke dalam rumah lalu menahan Jeff.
__ADS_1
Reka menepuk bahu Jeff. “Sabar, perempuan nggak boleh dikasari apalagi dipaksa. Aku kasih tahu ya, Kyra masih mencintai kamu, dia hanya kecewa. Jadi, kamu harus sabar dan selamat berjuang,” tutur Reka.
“Benarkah?”
“Hm. Mulutnya aja minta kamu pergi padahal dalam hatinya beda. Sekarang kamu pulang, atau mau aku panggil satpam untuk seret kamu keluar.”
Jeff berdecak. “Kalau ada yang sanggup menyeret aku, gak masalah,” sahut Jeff dengan pongah. Postur tubuh Jeff yang kekar memperlihatkan kalau laki-laki itu memiliki ilmu bela diri.
“Aku hanya bercanda, lanjutkan usahamu besok. Kelamaan di sini bisa-bisa kita adu jotos,” jawab Reka.
Jeff pun patuh, dia sedang berusaha mengambil hati Kyra dan bertengkar dengan keluarga Kyra adalah keputusan yang buruk.
...***...
Sedangkan di Jakarta.
Nana baru saja pulang dari kediaman Janu, memilih menyusul Keenan ke Hotel. Supir yang mengantarkannya sudah menghentikan mobil di depan lobby utama. Bahkan security membukakan pintu mobil untuknya. Nana menganggukan kepalanya menjawab sapaan dari para pegawai hotel yang berpapasan dengannya.
Berjalan di koridor menuju ruang kerja Keenan, Nana melewati meja kerja Siska yang kosong lalu mengetuk pintu ruangan Keenan dan membukanya. Keenan yang duduk di kursi kebesarannya dengan Siska yang duduk didepan meja dan Hana berdiri di samping Keenan. Ketiganya terlihat serius membahas sesuatu dan atensi ketiganya mengarah pada pintu dimana Nana berada.
Keenan beranjak berdiri dan menghampiri Nana. “Kamu jadi ke tempat Mommy?” tanyanya setelah mendaratkan bibir pada kening Nana.
“Aku masih ada pekerjaan, duduklah di sana,” tunjuk Keenan pada sofa yang ada di ruangannya.
“Hm.”
Saat pandangan Siska dan Nana terpaut, sekretaris Keenan itu menganggukkan kepalanya. Berbeda dengan Hana yang hanya diam. Entah apa yang Keenan perintahkan, Siska beranjak menghampiri Nana dan menawarkan minum.
“Tidak usah, nanti aku ambil sendiri di sana,” tunjuk Nana pada lemari es yang berada tidak jauh dari meja Keenan. Keenan kembali melanjutkan diskusinya, kedua wanita yang ada di sekitar Keenan hanya bisa menganggukan kepala dan menjawab apa yang diperintahkan.
“Jangan sampai ada kesalahan lagi. Pastikan komunikasi kalian itu baik,” titah Keenan.
“Siap, Pak.” Jawaban Hana dan Siska serempak.
Keenan menghampiri Nana setelah Hana dan Siska meninggalkan ruangannya. “Kamu kebiasaan kalau ke sini tidak kasih kabar,” ujar Keenan.
__ADS_1
“Memang kenapa kalau aku nggak bilang mau ke sini? Abang takut aku mengganggu kerja Abang atau kerja kedua perempuan itu.”
“Kamu bicara apa sih?”
“Aku nggak ngerti deh, kamu tuh sekarang beda. Entah karena memang kesulitan ditinggal oleh Pak Jeff dan memang diantara perempuan itu mulai mengusik hati Abang.”
“Itu hanya perasaan kamu. Aku sudah bilang, belajarlah lebih dewasa. Walaupun umur kamu lebih muda dari aku tapi kamu sekarang sudah menjadi seorang istri.”
“Iya memang itu hanya perasaan aku. Karakter aku memang begini, kalau memang Abang nggak suka kenapa menikahi aku.” Nana beranjak pergi tapi ditahan oleh Keenan.
“Jangan kebiasaan pergi di saat marah, selesaikan dulu masalah kita."
“Aku nggak ada masalah, tapi kamu yang bermasalah. Bahkan untuk bertemu dengan suami sendiri saja, aku harus buat janji, begitu maksud kamu? Aku nggak suka melihat kedekatan kamu dengan Hana, mana ada perempuan diam saja melihat suaminya dipeluk perempuan lain dan konyolnya suaminya itu diam saja saat wanita lain memeluknya. Abang senang Hana menempelkan tubuhnya?”
“Nana, kami profesional. Saat itu kami sedang menyapa rekan bisnis.”
“Nggak perlu berdekatan dan menempel juga bisa. Apa waktu sama Pak Jeff dia peluk abang juga? Nggak ‘kan? Aku belum selesai,” ujar Nana saat Keenan hendak menjawab.
“Asistenmu yang sok pintar itu menegur aku karena memeluk Om Malik. Om Malik itu sudah seperti ayahku, bahkan saat kecil aku lebih banyak tinggal dengannya dibandingkan dengan Daddy dan Mommy. Asisten seorang CEO Two Season dengan tanpa rasa bersalah menegur istri atasannya bahkan salah pula. Spesifikasi pegawai hotel ini sangat buruk,” tutur Nana.
“Janela,” panggil Keenan. Tidak percaya kalau istrinya yang terlihat manja dan kekanakan itu bisa bicara sepanjang itu bahkan isi kalimatnya berisi dan mengena di hati Keenan.
“Aku akan pulang, tidak usah kejar aku. Jaga saja image Abang dihadapan pegawai Abang.”
“Janela,” panggil Keenan.
“Aku bilang tidak usah ikuti aku, atau Abang mau aku jambak rambut perempuan itu,” ancam Nana.
“Tunggu aku pulang, kita akan bicarakan lagi," ucap Keenan.
“Terserah.”
Nana pun keluar dari ruangan Keenan. Memasang wajah biasa, karena tidak ingin pertengkarannya diketahui orang lain.
.... To be continue
__ADS_1
yuhuuu,mampir yuk ke karya punya rekan author, kece badai loh.