Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Aku Hangatkan Kamu


__ADS_3

Nana dan Keenan sudah tiba di Two Season Bali, disambut langsung oleh pimpinan cabang di sana. 


"Tidak usah terlalu formal, saya bukan kunjungan resmi," ujar Keenan. Selama berjalan tangan Nana selalu berada dalam genggaman Keenan. 


Merasa cukup saling menyapa, Keenan mengajak Nana ke kamar mereka. Menempati salah satu kamar paling mewah, berencana menghabiskan waktu hanya berdua.


Sesampainya di kamar, Nana membuka pintu balkon. Terdapat kolam renang pribadi dengan pemandangan pantai yang cukup indah. Berjalan mendekati pagar pembatas menatap laut lepas.


Keenan memeluk Janela dari belakang.


“Kamu suka?”


“Hm.”


Bukan hanya suka tapi Nana merasa puas dengan fasilitas kamar tempat mereka berada saat ini.


Keenan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Nana, bahkan menciumi leher jenjang Nana membuat pemilik tubuh hanya bisa menggigit bibirnya menahan hasr*tnya.


“Abang ….”


“Hm.” Keenan memutar tubuh Nana, kini posisi mereka saling berhadapan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan menyambar bibir Nana, melu_matnya pelan dan dalam.


Awalnya Nana menanggapi dengan dingin tapi sentuhan tangan Keenan yang mulai nakal ke beberapa area sensitif tubuh Nana membuatnya mengalungkan tangan pada leher Keenan dan merespon apa yang Keenan lakukan.


Hanya decapan yang terdengar dari kegiatan keduanya. Pertemuan bibir yang cukup panas dan lama, Nana sampai memukuli dada Keenan agar menghentikan aktifitasnya.


“Kenapa?” tanya Keenan sambil mengusap bibir Nana yang basah dan agak sedikit bengkak karena hisa_pannya.


“Kelamaan malah sakit bibirku, mana susah nafas,” keluh Nana sambil cemberut.


Keenan hanya terkekeh mendengar keluhan Nana. “Ayo masuk, disini banyak angin.”


“Namanya juga di pantai, kalau nggak berangin malah aneh dong.”


“Aku nggak mau kamu masuk angin, yang ada kita nggak bisa menikmati momen kebersamaan ini,” ujar Keenan sambil merangkul bahu Nana.


“Kita makan dulu. Mau di resto atau di sini saja?”

__ADS_1


“Di sini aja ya, aku malas keluar.”


“Oke.”


Nana dan Keenan duduk di sofa, dimana Nana bersandar pada bahu Keenan. Membuka buku menu memilih makanan dan minuman yang menggugah selera. Cukup terlambat untuk makan siang, karena saat ini sudah cukup sore.


...***...


Nana menoleh ke samping yang mana Keenan sudah terlelap, sedangkan dirinya belum bisa memejamkan mata. Setelah tadi mengisi perutnya, Keenan terlihat sangat bertenaga dan mengajak Nana berolahraga di ranjang.


Entah berapa lama keduanya berbagi peluh dan berapa kali Nana dibuat terbang melayang mencapai kenikmatannya oleh Keenan. Bahkan keduanya saling mendessah dan Keenan meneriakan nama Janela saat mendapatkan pelepasannya.


“Auw,” pekik Nana saat beranjak bangun. Tubuhnya terasa pegal bahkan bagian sensitifnya masih terasa tidak nyaman. Menghela pelan sebelum dia berdiri dan berjalan dengan tubuh polosnya mengambil kimono tidur yang ada di atas sofa kamar.


“Sepertinya aku harus berendam, siapa tahu nanti mudah tidur,” seru Nana.


Berendam di dalam air hangat dengan aroma therapy membuat tubuhnya lebih rileks. Dia dan Keenan tidak membahas apapun sejak tiba, lebih memilih menikmati momen kebersamaan mereka.


Nana belum siap menceritakan kondisi fisiknya hasil pemeriksaan dokter, khawatir jika sikap Keenan tidak seperti yang dia harapkan. Ditambah dengan kesalahpahaman dan kejadian belum lama ini, membuatnya semakin ragu untuk terbuka dengan Keenan.


Setelah membilas tubuhnya, Nana kembali ke kamar. Duduk di tepi ranjang dengan atensi tertuju pada ponsel Keenan yang berada di atas nakas.


“Hana,” ucap Nana membaca nama yang tertera di layar ponsel Keenan. “Hal darurat apa sampai selarut ini menghubungi pimpinan,” ujar Nana.


Menoleh ke arah Keenan yang masih terlelap dengan berbalut selimut hanya sebatas pinggang. Dada bidang Keean terekspos dengan sempurna.


Nana tidak ingin berpikir negatif dengan panggilan Hana tapi masalah sebelumnya membuat dia menjadi resah dan kembali tidak bisa memejamkan matanya.


“Hahh,” dessah Nana kesal. Sudah mencoba berbaring dengan posisi ternyaman tapi masih belum berhasil tidur, padahal malam sudah semakin larut.


“Abang,” panggil Nana sambil menggoyangkan tubuh Keenan.


Keenan hanya bergerak merubah posisinya menjadi berbaring memunggungi Nana. sepertinya pergula_tannya tadi benar-benar membuat tubuhnya lelah.


...***...


Keesokan hari, bertempat di Surabaya tepatnya di kamar di mana pasangan pengantin baru itu berada. Kyra mengerjap merasakan sesuatu yang berat berada di atas salah satu pahanya.

__ADS_1


“Ish, berat,” ujar Kyra. Ternyata kaki Jeff yang menimpa tubuh Kyra. Menggeser pelan kaki Jeff yang berada di atas pahanya.


“Perasaan semalam udah dikasih guling untuk pembatas,” ujar Kyra menyadari guling yang berada di antara mereka sudah berada di lantai.


Tanpa Kyra tau, semalam Jeff menendang kedua guling yang diletakan diantara mereka. Kyra sudah duduk di tepi ranjang, hendak menuju ke kamar mandi.


“Mau kemana?” tanya Jeff dengan suara parau khas bangun tidur. Kyra menelan salivanya mendengar suara Jeff.  


“Kamar mandi,” jawab Kyra lalu beranjak dari duduknya.


Setelah menunaikan keinginannya, Kyra menatap cermin yang ada di kamar mandi. Masih merasa gugup dan canggung menyadari semalam dan saat ini dia berada di kamar dengan seorang pria. Pria yang sudah sah menjadi suaminya.


Huft, Kyra membuang nafasnya.


Tok tok tok


“Kyra.”


Terdengar ketukan pintu kamar mandi dan Jeff yang memanggilnya.


“Kenapa?” tanya Kyra yang sudah membuka pintu.


“Lama, aku jadi khawatir.”


“Eh.”


“Masih pagi, jangan mandi dulu.”


“Nggak, lagi pula rasanya dingin,” keluh Kyra.


“Ayo, aku hangatkan kamu,” ajak Jeff.


“Hahhh.”


 


\=\=\=\=\=\= uhhhh Jeff, kode eta mah 🤣😍😍

__ADS_1


 


__ADS_2