Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Konsultasi Dengan Dokter


__ADS_3

“Jeff, Kyra,” ujar Sena dengan wajah berbinar saat membuka pintu apartemen. “Apa ini cucuku?” tanya Sena melihat bocah yang berada dalam gendongan Jeff.


“Iya.”


“Ayo masuk dulu.” Sena membuka penuh pintunya.


Jeff akhirnya memenuhi janjinya dengan mengunjungi Sena membawa Athar dan Kyra. Mereka duduk berhadapan di sofa, dimana Sena menatap haru pada bocah yang berada di pangkuan Jeff. Menggoda dan mencoba menggendongnya, cucu yang pernah tidak diakui olehnya.


Sena akhirnya mengalah dan menurunkan egonya untuk menerima Jeff dan Kyra. Kalau dipikir apa ruginya mempunyai menantu seorang Kyra Sanjaya. Selain putri dari seorang pengusaha, Kyra juga cantik bahkan wajahnya hampir mirip dengan Kayla.


Sena sibuk menggendong Athar dan mengajak bocah kecil itu bermain.


“Mau minum apa sayang?” tanya Jeff.


“Apa saja,” jawab Kyra lalu mengekor langkah Jeff menuju dapur.


“Ibu Sena tinggal di sini sendiri? Lalu yang bersih-bersih ada nggak, kasihan dong kalau dia lakukan semua sendiri,” tanya Kyra.


“Ada asisten rumah tangga yang datang pagi sampai siang atau sore.”


“Hm.”


“Jeff, Ibu tidak masak. Kamu nggak bilang kalau hari ini mau berkunjung, jadinya Ibu tidak ada siapkan apapun,” tutur Sena dari ruang tamu.


“It’s okay. Kita bisa makan di luar.”


Sambil menimang cucunya, Sena memperhatikan Kyra yang terlihat bahagia. Wajah menantunya sangat ceria dimana sesekali tertawa karena digoda oleh Jeff. Padahal sebagai suami Jeff tidak bisa menjanjikan apapun atau memberikan apapun. Pernikahan yang mereka selenggarakan saja di bawah kata sederhana, tapi wanita itu tidak kecewa.


Jeff sendiri pernah terpuruk karena lepas dari Two Season, tidak bisa dengan mudah untuk bekerja di luar. Walaupun itu semua dilakukan oleh Elang karena ulah Jeff menyakiti putrinya.


Sudah lelah bermain, Athar sepertinya mengantuk. Bocah itu terlihat menguap dan tidak nyaman.


“Jeff, sepertinya dia mengantuk ya?”

__ADS_1


“Iya, sudah waktunya tidur,” sahut Kyra. Membuka tas yang berisi perlengkapan milik Athar dan membuatkan susu untuk putranya.


“Biar Ibu saja,” ujar Sena meminta botol yang dibawa Kyra.


Jeff sendiri sedang menerima panggilan telepon, hari ini  dia absen dari hotel karena memang mengagendakan untuk bertemu dengan Ibunya.


“Sudah tidur?” tanya Jeff yang melihat Athar hampir terlelap di pangkuan Sena.


“Sttt, jangan berisik nanti dia bangun lagi. Wajahnya mirip sekali dengan kamu waktu kecil,” lirih Sena.


“Bukan cuma Athar yang perlu tidur, ini Maminya udah kelihatan ngantuk juga,” goda Jeff sambil terkekeh melihat wajah mengantuk Kyra.


“Ajak Kyra ke kamar kamu Jeff, biar Athar di kamar Ibu.” Jeff mengikuti Sena yang membawa Athar ke kamarnya, lalu membukakan pintu. Menyaksikan Sena yang membaringkan Athar lalu ikut berbaring di samping bocah yang terlelap memandang sambil mengusap wajah cucunya.


“Ayo,” ajak Jeff mengulurkan tangannya.


“Kemana?”


“Maunya kemana?”


“Ada aku, tidak usah khawatir,” ujar Jeff.


Kyra memasuki kamar Jeff dan memandang sekeliling kamar tersebut. Ada beberapa foto saat Jeff masih remaja.


“Wajah kamu dari dulu nggak berubah.”


Jeff mengatur bantal untuk Kyra berbaring dan mengatur suhu pendingin ruangan.


“Memang wajahku kenapa?”


“Nyebelin,” jawab Kyra sambil terkikik.


Jeff berdecak mendengar ucapan Kyra.

__ADS_1


“Nyebelin tapi suka, sering curi-curi pandang. Ngekor aku kemana pun,” ejek Jeff membalas Kyra.


“Eh, iya. Kamu udah nggak simpan file kita waktu ….”


“Sudah aku hapus jauh sebelum kita menikah. Saat aku menyadari kesalahanku, file itu sudah aku lenyapkan. Kemari, berbaringlah. Kamu kalau malam susah tidur ‘kan, jadi sekarang istirahat.”


“Susah tidur, tapi kamu kerjain terus.”


“Namanya juga usaha. Kalau nanti kamu melahirkan, aku harus puasa.”


“Dasar messum.


 


...***...


Sedangkan Keenan dan Nana, saat ini sudah berada di Rumah sakit. Duduk di kursi tunggu poli kandungan untuk kontrol kesehatan Nana dan bayinya termasuk berkonsultasi hal lain. Nana memandang Ibu-ibu hamil yang sama dengannya sedang menunggu dipanggil oleh perawat.


Nana merasa haru, tidak menyangka dia akan diberi kesempatan untuk mengandung. Mengusap perutnya yang masih rata.


“Kenapa?” tanya Keenan sambil menggenggam tangan kiri Nana. Nana hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Cukup lama menunggu, akhirnya nama Nana disebut dan dipersilahkan masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter menanyakan keluhan yang dirasakan Nana lalu melakukan USG. Penjelasan dokter mengatakan semua tampak normal dan sehat.


“Tapi tetap dijaga ya Bu. Jangan capek dan stress, karena ada riwayat rahim Ibu Janela yang bermasalah.”


“Iya, Dok,” sahut Nana.


Saat Dokter menanyakan apakah masih ada yang perlu ditanyakan, Keenan dengan cepat merespon pertanyaan dokter.


“Saya boleh mengunjungi istri saya, Dok?”


Nana melirik aneh ke arah Keenan yang duduk disampingnya. Belum paham dengan maksud dari pertanyaan Keenan. Sedangkan dokter hanya tersenyum.

__ADS_1


 


\=\=\=\=\=


__ADS_2