Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Kabar Baik


__ADS_3

“Nana.” Kayla bergegas menuju lantai dua di mana kamar Keenan berada diikuti oleh Elang.


“Nana,” pekik Kayla yang melihat menantunya tergeletak di lantai. “Mas pindahkan ke ranjang,” titah Kayla pada Elang.


“Ya ampun sayang, kenapa pada dingin telapak tangan kamu. Bi, ini oleskan minyak kayu putih di telapak kakinya. Bibir kamu pucat banget Na.”


“Kita bawa ke Rumah sakit,” titah Elang lalu keluar dari kamar.


“Jeff,” panggil Elang.


Jeff dan Kyra muncul sambil menggendong Athar. “Kak Nana kenapa Pah?”


“Entahlah, sepertinya pingsan. Jeff siapkan mobil, Papa akan bawa Nana ke rumah sakit.”


“Oke,” sahut Jeff sambil menyerahkan Athar pada Kyra.


Elang dan Kayla sudah berada di dalam mobil menuju Rumah Sakit. Elang beberapa kali menekan klakson saat melewati titik kemacetan.


“Mas, hati-hati.”


Akhirnya mobil yang dikemudikan Elang berhenti di depan UGD. Petugas Rumah sakit sigap menyiapkan brankar untuk pasien. Elang kembali menggendong Nana dan membaringkan ke atas brankar yang langsung dibawa ke dalam untuk pemeriksaan.  Kayla ingin ikut masuk tapi dilarang oleh perawat.


“Nana kenapa ya Mas, aku jadi takut."


Elang menghubungi Jeff untuk mencari tahu detail kegiatan Keenan, sebelum dia minta untuk putranya segera kembali ke Jakarta.


Perawat memanggil pihak keluarga Janela, Kayla bergegas ikut ke dalam. Dokter menanyakan riwayat medis yang Nana alami. Dengan jelas Kayla menceritakan apa yang dia tahu termasuk pengobatan Nana di Singapura.


“Putri saya kenapa bisa pingsan Dok?”


“Masih di observasi Bu, saya hanya memastikan dengan riwayat medis pasien sebelumnya.”


“Apa serius Dok?”


“Semoga tidak ya Bu, ini masih dalam pemeriksaan. Ibu silahkan tunggu di luar nanti akan kami panggil kalau pasien sudah sadar.”


“Gimana, apa kata Dokter?”


“Masih dalam observasi, Mas aku takut Nana kenapa-napa. Keenan diminta pulang aja deh,” pinta Kayla.


“Sudah, aku sudah minta Keenan pulang. Duduk dulu, sayang,” ajak Elang.


“Eh, Kyra gimana, tadi kita langsung pergi aja.”

__ADS_1


“Ada Bibi dan pengasuh Athar. Jeff sepertinya sudah berangkat.”


Akhirnya Nana dipindah ke ruang perawatan dan dokter menunggu suaminya untuk menjelaskan kondisi pasien.


Orangtua Nana sudah dihubungi oleh Elang bahkan saat ini sudah ikut menemani di kamar. Nana sendiri masih memejamkan matanya, yang menurut penjelasan dokter sudah sadar. Saat ini Nana sedang tertidur.


Hampir jam makan siang, Keenan tiba dengan nafas terengah.


“Janela kenapa Mah?” tanya Keenan saat membuka pintu.


Elang menahan tubuh Keenan, “Bersihkan dirimu dan kondisikan dulu nafas kamu. Yang ada Janela panik lihat kamu begini.” Keenan yang panik beberapa kali menyugar rambutnya membuat berantakan penampilannya.


“Tapi istriku, Pah.”


“Janela sudah mendapatkan penanganan, sekarang kamu temui dokter untuk tahu kondisi Janela. Dokter hanya ingin menjelaskan pada suaminya, bukan orang tuanya,” jelas Janu.


Keenan menatap Nana yang terbaring, dia menuju wastafel untuk mencuci mukanya. Kayla menyodorkan handuk kecil lalu memperbaiki penampilang putranya.


“Apa yang disampaikan Dokter semoga bukan hal yang buruk, tapi apapun itu tolong jangan buat Nana menjadi panik ya,” pinta Nena.


“Iya Mom.”


Keenan akhirnya ditemani Janu dan Elang menemui Dokter.


“Secara umum tidak ada hal yang mengkhawatirkan dari Ibu Janela. Adapun penyebab dia pingsan karena tekanan darah rendah juga gejala lainnya.”


Dokter tersenyum sebelum melanjutkan penjelasannya. “Ibu Janela sedang hamil.”


“Apa?” tanya Keenan bermaksud memperjelas pendengarannya.


“Istrimu hamil, masa seperti itu tidak jelas. Memang kamu tidak percaya bisa mengh*mili istrimu sendiri,” ejek Janu.


Elang hanya terkekeh mendengar perseteruan putra dengan besannya.


“Tapi istri saya ….”


“Saya sudah membaca rekam medis pasien, kebetulan pemeriksaannya di rumah sakit ini. Ibu Janela memang ada masalah dengan rahimnya jadi akan sulit untuk hamil. Berdasarkan informasi dari keluarga pasien kalau Ibu Janela sudah melakukan terapi dan pengobatan, bisa jadi ini adalah hasil dari doa dan usaha dari Ibu Janela juga keluarga.”


Keenan menghela nafas lega mendengar penjelasan dokter. Dia sudah tidak terlalu berharap dan menuntut Janela untuk memberikan keturunan, yang penting mereka tidak berpisah itu adalah harapan Keenan. Ternyata Tuhan memberikan anugerah terindah dari sekedar bahagia dan tidak ternilai.


“Tapi yang perlu diperhatikan disini, kondisi Bu Janela lemah. Tolong perhatikan betul fisik Ibu Janela, apalagi dengan kram perut yang dikeluhkannya sangat beresiko untuk kehamilan. Jadi, pastikan kondisi fisik dan psikis istri Bapak. Nanti bisa kita USG untuk tahu lebih jelas kondisi kandungannya.”


Elang menepuk bahu Keenan dan mengajaknya kembali ke kamar. “Janela hamil Pah? Aku nggak mimpi ‘kan?”

__ADS_1


Janu berjalan lebih dulu diikuti Keenan yang dirangkul oleh Elang. Wajah ketiganya terlihat berseri dengan raut khas wajah masing-masing.


“Gimana, apa kata dokter?” tanya Kayla pada Elang.


“Mas Janu,” ujar Nena ingin mendengar penjelasan segera.


Janu berdecak dan memilih duduk di sofa diikuti oleh Nena. Elang dan Kayla pun melakukan hal yang sama. Kedua pria itu masih bungkam dengan para istri yang penasaran.


“Janela sehat, tidak ada hal yang serius,” sahut Janu.


Keenan melangkah mendekati brankar dimana Janela berbaring. Menatap wajah pucat yang masih terlelap. Tangannya terjulur untuk mengusap wajah dan rambut Nana, “Terima kasih sayang,” gumam Keenan. Meraih tangan Nana yang terbebas dari jarum infus lalu mencium punggung tangan itu sambil kembali mengucapkan terima kasih. Bahkan Keenan meneteskan air mata bahagia membasahi tangan Nana.


Tidur Nana pun terusik karena ulah Keenan. Dia mengerjapkan matanya menyesuaikan pandangan dan mendesis masih merasakan pusing dikepalanya.


“Sayang, kamu sudah bangun.” Keenan berdiri dan mengusap kepala Nana.


“Abang sudah pulang? Aku dimana ya?” tanya Nana sambil berusaha duduk.


“Eh, jangan bangun dulu sayang. Kamu belum boleh banyak aktivitas, rebahan dulu ya.”


“Ini di ….”


“Rumah sakit, nggak masalah kok. Nggak ada yang serius.”


“Tapi kenapa? Aku sakit apa?” tanya Nana sudah hampir menangis.


“Stt, nggak ada yang sakit. Kamu sehat sayang, bahkan harus lebih sehat lagi.”


“Kalau sehat kenapa aku di sini dan ini,” tunjuknya pada selang infus.


Keenan tidak menjawab dia malah membungkukkan badannya untuk memeluk Nana. “Abang kenapa? Jangan bikin aku bingung,” keluh Nana. Apalagi tubuh Keenan berguncang karena tangisnya.


“Abang,” ujar Nana.


“Nggak apa-apa sayang, aku bahagia.” Keenan mengurai pelukannya dan mengusap wajahnya. Nana menatap Keenan dengan raut wajah bingung.


“Mulai sekarang, kamu harus lebih sehat dan hati-hati. Kita akan berjuang agar dia bisa tumbuh dengan baik,” ujar Keenan sambil mengusap perut Nana.


“Maksdunya?”


Keenan tersenyum. “Kamu hamil sayang, kita akan punya anak.”


Nana melirik sinis pada Keenan. “Abang bercanda, ngeledek aku ya?”

__ADS_1


 Yuhuuu sambil nunggu Keenan yg posesif karena kehamilan Nana, mampir yuk ke karya teman aku.



__ADS_2