Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Abangggg


__ADS_3

Keenan mengacak rambutnya yang masih basah, hingga mencipratkan air yang masih menetes karena rambutnya belum benar-benar kering. Lalu menggelengkan kepalanya bak model iklan shampo. Nana terpaku memandang suaminya.


Saat akan melepaskan handuknya, "Stop!" teriak Nana. 


"Kenapa?" 


"Jangan lepas disini." 


"Lalu aku berganti pakaian di mana? Memang disini tempat untuk berganti pakaian." Nana menggaruk kepalanya, menyadari apa yang dikatakan oleh Keenan itu benar. Justru dia seharusnya tidak berada di ruangan itu kalau tidak ingin melihat Keenan dengan tubuh polosnya.


"Kamu mau tetap disini melihat tubuh aku? Aku sih nggak masalah," sahut Keenan. 


"Tapi aku masalah," sahut Nana lalu berlari keluar ruangan. 


Keenan dan Nana bergabung di meja makan bersama kedua orang tuanya, bahkan sudah ada Jeff di sana. Elang yang duduk di ujung meja, sedangkan Keenan dan Nana duduk bersisian. Terjeda satu kursi ada Jeff,  Kayla berhadapan dengan Keenan. "Kyra belum turun?"


"Belum Mah, tadi aku lihat pintu kamarnya masih tertutup." 


Sambil sarapan, Elang membahas ringan urusan hotel dengan Keenan dan Jeff, tidak lama Kyra pun ikut bergabung. 


"Duduk sini sayang," pinta Kayla pada putrinya. Kyra sempat melirik Jeff yang cuek dan lebih fokus pada pembicaraan bersama Elang. 


"Habiskan, Mama jarang lihat kamu sarapan pagi. Badan kamu kurus begitu," keluh Kayla. Kyra hanya berusaha menyuapkan isi piring ke dalam mulut. 


"Kamu jarang nyusul aku ke hotel?


Kyra menoleh pada Keenan karena pertanyaan untuknya. "Aku sibuk." 


"Nanti sore aku mau bertemu Oma, Nana juga ikut. Kamu juga ya, sekalian aku dan Jeff ada yang mau dibicarakan dengan Om Eltan." Kyra yang memang cukup dekat dengan Oma tidak akan melewatkan ajakan Keenan tapi mendengar nama Jeff dia pun urung mengiyakan. "Hm, lihat nanti. Aku ada janji nanti sore." 


"Janji dengan siapa? Kamu 'kan jomlo," ejek Keenan. Nana memukul lengan Keenan agar tidak melanjutkan ejekannya. 


"Pah, Mah, aku duluan." Kyra mencium pipi Kayla lalu memberikan kiss bye pada Elang. "Dah, Nana." Nana tersenyum sambil melambaikan tangannya. 


“Kyra kenapa ya, apa di galeri sedang ada masalah atau sibuk ya,” keluh Kayla saat Kyra sudah benar-benar meninggalkan rumah.


“Kenapa gimana maksudnya?” tanya Elang.


“Ya nggak kayak biasanya, ceria kadang candaannya nggak tahu malu,” ujar Kayla.


“Mungkin Kyra sedang mode alim, Mah,” jawab Keenan. “Aku berangkat ya.” Setelah pamitan pada orang tuanya lalu beranjak dari ruang makan, dengan Nana yang mengekor.


“Abang.”


“Hm.”

__ADS_1


“Aku pulang ke rumah daddy ya, nanti sore ….”


“Jangan Na, bukannya aku tidak memperbolehkan kamu pulang, tapi kita akan pulang ke rumah Daddy bareng aku.”


“Tapi aku kangen Mommy.”


“Weekend ini kita ke sana.”


Sebenarnya Nana ingin menjawab kalau dia bisa pulang sendiri, toh masih dalam satu kota yaitu Jakarta. Tapi Nana tidak ingin melawan suaminya, dia sedang belajar menjadi seorang istri yang baik.


“Ya udah deh.”


Nana melambaikan tangannya saat mobil yang membawa Keenan dan Jeff melaju dan meninggalkan rumah.


...***...


Dug dug.


Kyra memukul stir mobilnya.  Mobil yang dia kendarai menepi dan berhenti, Kyra meluapkan emosinya dengan memukul stir setelah melihat Jeff yang benar-benar cuek setelah kejadian malam itu, kemudian menumpahkan kembali tangisnya. Tidak lama kemudian dia mengusap wajahnya kasar untuk menghapus air mata.


“Sudahlah Kyra, kamu harus bangkit. Fokus saja pada masa depan,” tutur Kyra menyemangati dirinya. Kembali menghidupkan mesin mobil dan melaju menuju galeri tempatnya beraktivitas. Berbeda dengan Keenan yang memang memilih sekolah bisnis dan manajemen untuk bisa meneruskan mengelola usaha keluarganya, Kyra memilih pendidikan seni.


Membuka galeri yang memamerkan segala macam karya seni dari para pekerjanya. Termasuk juga kerjasama pagelaran dan menerima produksi karya. Kyra tidak pernah membawa teman pria ke rumah dan mengenalkannya pada orangtua. Teman pria Kyra yang mencoba mencuri hati Kyra memilih mundur mengetahui siapa sebenarnya Kyra. Meskipun Kyra sendiri tidak pernah memilih teman. Sekalinya dia menyukai seseorang, malah menyukai pria yang salah sampai dia merasakan penyesalan.


Kyra memasuki galeri. Langkah kakinya menimbulkan suara karena heels yang beradu dengan lantai. Setelah menyimpan tasnya, Kyra kembali ke bengkel lukis. Mengambil kanvas baru dan menyiapkan beberapa warna cat dan mulai menggoreskan kuasnya.


“Gimana ini?”


“Samperin gih, kasih tau ke Kak Kyra.”


Salah seorang rekan kerja Kyra pun menghampiri, “Kak Kyra, ada yang mau bertemu?”


“Siapa?” tanya Kyra.


“Yang mengajak kerjasama di Surabaya.”


Kyra menghentikan sapuan kuasnya. “Sampaikan saja, masih kita pertimbangkan,” ujar Kyra.


“Dia mau ketemu Kak Kyra.”


“Bilang aja saya sedang teleconference, nggak bisa diganggu.”


...***...


Keenan dan Nana baru saja tiba dari kediaman Eltan menjenguk Oma Meera. Keduanya sekalian makan malam bersama di sana, cukup malam ketika tiba di rumah berbarengan dengan Kyra. “Tumben pulang malam begini?” tanya Keenan.

__ADS_1


“Hm. Aku ‘kan sibuk, bukan kak Keenan doang yang sibuk,” sahut Kyra.


“Oma tadi nanyain kamu,” ujar Nana.


“Iya aku kangen Oma, besok deh aku mampir ke sana.”


“Jangan sampai nggak, dia kesepian lagi.”


“Iya bawel,” ledek Kyra mendahului Keenan dan Nana.


“Eh, baru pada pulang. Kamu jadi jenguk Oma, sayang?” tanya Kayla pada Kyra.


“Nggak, mungkin besok. Aku masuk ya Mah, capek.”


Keenan dan Nana pun pamit ke kamar mereka karena sudah lelah.


“Sudahlah, Keenan udah ada mainannya sendiri. Kyra pasti mau buru-buru rehat. Jangan pikir mereka masih anak-anak yang masih harus kamu perhatikan keadaannya sedetail mungkin.”


“Bagiku, mereka masih anak-anak.”


Elang hanya menggelengkan kepalanya. “Mudah-mudahan Kenan dan Nana cepat punya anak biar kamu sadar kalau kita sudah semakin tua.”


“Eh, Mas Elang kali yang sudah tua. Aku awet muda,” sahut Kayla sambil meninggalkan Elang. “Oke, penampilan aku boleh semakin tua tapi jiwaku, jiwa muda.”


“Halahhh.”


“Eh, Kayla, kemana kamu?”


“Tidur.”


Sedangkan di dalam kamar Keenan.


“Na, buka dong, bareng aja mandinya. Udah malem nih.”


“Nggak mau, tunggu aja dulu. Mandi aku nggak lama kok” teriak Nana dari dalam kamar mandi.


“Na, aku udah kebelet nih.” Keenan terus mengetuk pintu kamar mandi membuat Nana tidak nyaman karena terganggu.


“Ih, nggak sabaran amat sih, aku belum selesai, ” ujar Nana saat membuka pintu. Tubuhnya hanya mengenakan handuk. Keenan tertawa lalu memeluk Nana dan membawanya masuk kembali ke kamar mandi.


“Mandi bareng ya.”


“Nggak ah.”


Keenan tidak peduli dengan penolakan Nana, membuka kemeja serta celana panjangnya.

__ADS_1


“Ih, Abanggg.” Nana membalik tubuhnya karena tidak ingin menatap tubuh suaminya yang sudah polos lalu Keenan melepaskan handuk yang dipakai Nana.


 \=\=\=\=\=\= halahhh, mau apakah Keenan?


__ADS_2