
Sudah dua hari Kyra berada di Rumah Sakit dan merengek minta pulang. Padahal masih mengalami mual dan muntah juga kepala yang rasanya berputar. Tapi terpisah dari anaknya juga berada di Rumah Sakit membuat dia tidak nyaman.
“Pokoknya aku mau pulang,” rengek Kyra.
“Iya, aku temui perawat dulu,” ujar Jeff. Sebelum beranjak pergi dia mencium kening Kyra.
Jeff benar-benar diuji kesabarannya menghadapi Kyra, tapi dia tidak mengeluh. Masih ada rasa bersalah mengingat kehamilan sebelumnya Kyra jalani sendiri, dia berjanji kali ini akan selalu ada untuk Kyra.
Tidak lama kemudian Jeff sudah kembali dengan seorang perawat yang melepaskan jarum dan selang infus pada tangan Kyra.
“Obatnya dihabiskan ya Bu, jangan lupa jadwal check up.”
“Iya, Sus.”
Sampai di rumah meskipun dengan wajah pucat dan tubuh lemas, Kyra mencari keberadaan Athar.
“Kamu sudah pulang?” tanya Kayla.
“Athar mana Mah, aku kangen.”
“Sama Papa, kayaknya main di taman. Lebih baik kamu istirahat deh,” ujar Kayla karena tidak tega melihat Kyra. “Besok-besok kalau mau nambah anak, benar-benar disiapkan fisik kamu,” seru Kayla. Kyra memasang wajah cemberut mendengar nasihat Kayla.
“Aku juga maunya begitu, Jeff-nya tuh yang nyebelin.”
“Kenapa?” tanya Jeff. Dia baru saja membawa tas ke kamar dan sekarang kembali ke bawah untuk mengajak Kyra kembali ke kamar tapi mendengar namanya disebut dalam percakapan istri serta ibu mertuanya.
“Nggak ada apa-apa, sudah bawa Kyra ke kamar,” titah Kayla.
Esok pagi.
Keenan sudah siap berangkat, menuruni anak tangga membawa sebuah koper menuju meja makan dimana kedua orangtuanya sudah menunggu.
“Loh, kamu mau kemana?” tanya Kayla yang baru saja meletakkan cangkir di depan Elang.
“Bali,” sahut Keenan.
“Jeff ikut juga?” tanya Elang.
“Nggak Pah, biar dia urus yang di Jakarta selama aku pergi. Lagi pula Kyra sedang begitu, kalau tiba-tiba butuh Jeff masih bisa cepat pulang.”
Tidak lama orang yang dibicarakan pun bergabung, sama seperti Keenan sudah rapi dengan setelan kerjanya.
“Athar mana?” tanya Elang.
“Sama pengasuhnya Pah. Kyra aku minta tidur, sejak subuh tadi mual terus.”
“Makanya kalau lagi enak-enak itu jangan lupa dicabut,” goda Keenan sambil terkekeh. Jeff hanya berdecak mendengar ejekan Keenan.
__ADS_1
“Pak Keenan lebih baik cepat cari Ibu Janela dan enak-enak sama dia.” Gantian Jeff yang mengejek Keenan.
“Owh iya, gimana kabar Nana?” tanya Kayla pada Keenan.
“Baik Mah.”
“Apa nggak kamu susul ke sana?” Saat ini giliran Elang yang bertanya.
“Pulang dari Bali aku coba rencanakan ke sana,” sahut Keenan.
...***...
Keenan sudah berada di Bali sejak tadi siang, sedangkan undangan dari rekan bisnisnya nanti malam. Saat ini masih berada di Two Season, kunjungan sekaligus mengecek kondisi cabang.
“Sudah sore, sebaiknya Pak Keenan istirahat dulu,” saran Candra. Keenan pun mengiyakan apalagi malam nanti malam dia akan menghadiri pesta rekannya.
Sampai di kamar, Keenan memilih berendam air hangat sambil memikirkan Nana. Tadi pagi sebelum berangkat dia menyempatkan menghubungi Nana tapi kontaknya tidak aktif.
“Nana, aku rindu. Kapan kamu pulang sayang, apa kamu tidak ingin mendengar keputusanku,” gumam Keenan.
Takdir sepertinya sedang berpihak kepada Keenan, sore itu Nana menginjakan kakinya di Bali. Bersama dengan Malik, Nana menuju hotel yang sudah mereka booking. Tempat yang sama dengan undangan yang akan dihadiri oleh Malik.
“Ini kunci kamar kamu, jam tujuh tunggu di sini,” titah Malik sebelum mereka masuk ke dalam lift.
“Hm. Tapi aku malas ikut acara seperti itu,” keluh Nana.
Pukul tujuh, Malik sudah berada di lobby. Menunggu kedatangan Nana yang kamarnya memang berada di lantai yang berbeda dengannya.
Malik berdecak, melihat kedatangan Nana. “Maaf Om, namanya juga cewek. Lama kalau siap-siap.”
“Ayo,” ajak Malik. Nana memeluk lengan Malik lalu berjalan beriringan menuju ballroom tempat acara berlangsung. Para undangan lainnya yang tidak mengenal Malik dan Nana menduga kalau Nana adalah sugar baby karena perbedaan umur yang sangat kentara.
Nana tidak nyaman berada di tengah acara. Padahal baru lima belas menit dia bersama Malik yang menyapa tuan rumah dan rekan lainnya.
“Om,” panggil Nana sambil menarik lengan Jas pria itu.
Malik menoleh dan sedikit menundukkan kepalanya untuk mendeng ucapan Nana.
“Aku bosan.”
“Mau kembali ke kamar?” tanya Malik.
Nana menganggukkan kepalanya. Malik sudah melihat Keenan sejak tadi, sengaja menyapa rekannya semakin mendekat pada Keenan tapi Nana sudah tidak nyaman.
“Hati-hati, jangan keluar area hotel,” ujar Malik.
Ternyata Keenan tepat menatap ke arah Malik dan seorang wanita yang berjalan menjauh.
__ADS_1
“Janela,” gumam Keenan.
“Mau kemana?” tanya teman Keenan.
“Ada yang harus saya temui,” sahut Keenan bergegas mengejar wanita yang berjalan semakin jauh. Ramainya tamu undangan membuat Keenan kesulitan keluar dari ballroom, dia bahkan berlari menuju lobby untuk memastikan sosok seseorang yang mirip dengan wanita pujaannya.
“Ahh,” seru Keenan menemukan sosok itu sedikit menunduk memperbaiki heels yang dikenakan.
“Janela,” panggil Keenan. Menatap punggung wanita yang mengenakan dress hitam selutut tanpa lengan dengan rambut yang digulung menampilkan leher jenjangnya. Dari belakang wanita itu terlihat seksi dan menggoda.
“Janela,” panggil Keenan lagi.
Wanita itu terdiam lalu perlahan menoleh.
Keenan terkejut dan menghela nafas lega memandang wajah wanita yang dia panggil. Menyugar rambutnya sebelum dia berjalan menghampiri wanita itu.
“A-abang.”
Keenan berjalan semakin dekat dengan Janela, wanita itu benar Janela. Sekian lama merindu ternyata Keenan benar-benar mengenali sosok Janela meskipun dia hanya menatap punggungnya. Kini keduanya saling berhadapan dengan pandangan terkunci.
Jantung keduanya berdebar tidak karuan, entah bagaimana harus meluapkan perasaan masing-masing. Keenan sangat merindukan istrinya, bersabar menunggu kedatangan dan kepulangannya. Sedangkan Nana, didera khawatir jika Keenan sudah dengan keputusannya.
“Kamu sudah pulang? Kenapa tidak mengabariku?” tanya Kenan. Menjulurkan tangan kanannya, menyentuh wajah itu. Wajah yang sudah lama tidak dia tatap.
“A-aku ….”
“Ahhh, kalian sudah bertemu?” Keenan dan Nana menoleh ke arah suara.
“Om Malik,” panggil Keenan.
Malik menepuk bahu Keenan lalu menoleh ke arah Nana.
“Sengaja aku mengajak Nana kesini, agar kalian bisa bertemu dan selesaikan masalah. Tanpa ada campur tangan siapapun. Bicarakan dan ungkapkan keinginan kalian.”
“Janela, Om pikir waktu untuk kamu menepi sudah cukup. Kalian sudah dewasa, pikirkan segala sesuatu jauh ke depan bukan hanya untuk perasaan dan kondisi sesaat. Om kembali ke dalam, ingat itu Keenan dan Janela.”
“Baik, Om,” sahut Keenan sedangkan Nana hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Keduanya kembali saling menatap setelah kepergian Malik.
“Bisa kita bicara sekarang?”
Nana mengangguk pelan.
\=\=\=\= ayo mau bicara apa?
sambil tunggu update, mampir yuk ke karya teman author.
__ADS_1