Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Cemburu


__ADS_3

Nana menyambut Keenan yang baru saja tiba dengan wajah ceria, mereka masih berada di kediaman orangtua Nana. Keenan mengusap kepala Nana, “Aku pikir sudah tidur?”


Nana berdecak, “Aku tuh nggak ada kerjaan banget kalau siang. Kerjanya paling tidur, nonton TV, medsos jadi jam segini belum ada ngantuk.”


Keenan terkekeh. Keduanya berjalan masuk ke dalam kediaman Janu. Sudah ada Janu dan Nena di sana, yang mendengar interaksi putri dan menantunya. Keenan menyapa kedua mertuanya, lalu pamit ke kamar.


“Mas, aku senang deh, Nana bisa dapat suami yang bertanggung jawab seperti Keenan.”


“Hm.”


“Sebelumnya aku khawatir kalau Nana susah untuk menjadi dewasa. Dia terlalu banyak dimanja oleh Bang Malik.”


“Hm.”


Nena menoleh heran pada Janu. “Mas Janu kok dari tadi cuma ham hem ham hem, dengar nggak sih aku bicara apa?”


“Dengar dong, aku ini multitasking. Semetntara telinga aku selalu mendengarkan keluhan kamu, otak aku sedang memikirkan hal lain dan kedua tangan aku ini juga bisa ….” Janu tidak melanjutkan ucapannya hanya mengerlingkan matanya.


Sedangkan di kamar Nana, Keenan sedang melepaskan kancing kemejanya. Jas dan dasi yang dia kenakan sudah disimpan Nana di keranjang pakaian kotor. “Air hangatnya sudah siap, Abang mau minum apa?” tanya Nana yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Air mineral saja.” Keenan merasa hidupnya terasa lebih lengkap. Mendapatkan istri yang menyambutnya pulang dengan senyuman, sungguh membuat lelahnya terasa lebih ringan. Tidak menyangka jika pertemuan absurd dengan Nana mengantarkan pada jenjang pernikahan dan saat ini baik dirinya juga Nana sudah benar-benar membuka diri dan saling menghamburkan rasa sayang.


Keenan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Rambutnya belum kering sempurna, bahkan masih ada tetesan air membuat penampilannya terlihat menggoda. Nana menelan saliva menyaksikan pemandangan indah dari seorang Keenan. Merasa beruntung mendapatkan suami Keenan Sanjaya, yang jelas-jelas menjadi idola para kaum hawa yang mengenalnya.


“Sayang.”


Nana yang duduk melamun pun terhenyak, bergegas menghampiri suaminya. “Ini apa sayang?” tanya Keenan. Di tangannya ada beberapa lembar brosur perjalanan wisata yang berlokasi di Indonesia.


“Owh, itu tawaran dari Tante Dea. Kalau kita mau honeymoon,” sahut Nana. “Kok ada di sini ya, perasaan sudah aku simpan di laci nakas,” ujar Nana.


Keenan menghela nafasnya, menyadari setelah pernikahan mereka belum melakukan perjalanan bersama atau bahkan sekedar quality time. Keenan merangkul bahu Nana mengajaknya naik ke ranjang, “Kamu ingin kita ambil kesempatan itu?”


Nana berbaring dengan menjadikan dada bidang Keenan sebagai sandaran kepalanya. “Kesempatan apa?”


“Honeymoon.”


“Aku sih terserah Abang aja, lagi pula abang ‘kan masih sibuk di Two Season.”


“Besok aku cek lagi jadwalku ke depan, kalau ada spare waktu kita bisa atur-atur. Tidak usah ambil lokasi yang jauh, yang penting hanya kita berdua,” ujar Keenan.


Nana hanya menganggukkan kepalanya. Keenan menarik selimut dan berkata, “Malam ini olahraganya libur dulu ya.”

__ADS_1


 


...***...


Nana mengantarkan Nena dan Janu sampai ke Bandara. Orangtua Nana akan menjenguk putra kembar mereka yang sedang menempuh pendidikan di London. Tadi pagi Nana dan Keenan sudah sepakat setelah dari bandara Nana akan menemui Keenan di hotel.


Seperti biasa, Nana di sapa oleh para pegawai hotel. Saat  hendak menuju lift dia bertemu dengan Bunga. Bunga hanya menganggukkan kepala tanpa senyum dan berhenti untuk menyapa.


“Hah, dasar nenek lampir. Dia yang salah, dia yang ngambek.”


Keluar dari lift dan melewati meja para sekretaris direksi, fokus Nana terpusat pada meja kerja yang berada tidak jauh dari pintu ruangan Keenan, ada seorang wanita di sana. Apa itu sekretaris baru, Abang ya, batin Nana.


“Selamat Siang,” sapa wanita itu.


“Siang, Pak Keenan ada?”


“Ada, Ibu dari mana? Sudah ada janji?”


Nana tidak menjawab pertanyaan yang terlontar, lebih memilih menatap wanita itu dari rambut sampai kaki. Penampilan seorang sekretaris yang sempurna, bahkan Nana yang sesama wanita merasa insecure.


Membaca tabel name bertuliskan Siska di sana, “Kamu sekretaris Pak Keenan yang baru?” tanya Nana.


“Betul.”


“Maaf Bu, Pak Keenan tidak ada janji temu dengan anda. Silahkan saya jadwal ulang untuk pertemuan dengan Pak Keenan.”


“Hahh.” Nana terkekeh, “Jadi, saya harus membuat janji untuk bertemu suami saya?”


“Suami? Tapi istri Pak Keenan bernama Janela bukan Nana.”


“Ada apa ini?”


Siska dan Nana menoleh pada Jeff. “Ah kebetulan. Pak Jeff,  sepertinya sekretaris Pak Keenan tidak percaya kalau saya istri Keenan Sanjaya.”


Jeff menatap Siska, “Ingat baik-baik, beliau adalah istri Bosmu. Bukankah aku sudah berikan foto dan nama yang harus kamu kenali.”


“Maaf Bu, maaf Pak Jeff. Saya belum hafal semua,” sahut Siska.


“Sudahlah, aku masuk dulu.” Nana mengetuk pintu dan langsung membukanya.


“Abang,” panggil Nana.

__ADS_1


“Hei, sudah datang.” Keenan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


“Yang di depan sekretaris Abang?” tanya Nana yang sudah duduk di sofa agak jauh dari meja kerja Keenan.


“Hm.”


“Cantik ya, Bang.”


“Hm.”


“Jadi khawatir Abang tergoda atau dia yang menggoda Abang,” keluh Nana.


Keenan menghentikan gerakan tangannya yang sedang  menguasai mouse. “Aku mencium aroma cemburu di sini,” ejek Keenan. Nana berdecak. “Aku serius Bang.”


“Aku juga serius. Tenang saja, sayang. Dilihat dari depan, dari samping atau dari belakang, cantik kamu kemana-mana.”


“Halah, gombal.”


Keenan terkekeh, “Kemarilah!”


Nana pun menghampiri Keenan, yang menepuk pangkuannya seraya perintah untuk duduk di sana. Nana duduk menyamping di pangkuan Keenan dengan tangan mengalung di leher Keenan.


“Cemburu kamu menggemaskan. Aku jadi … aduh, kok nyubit sih.”


Terdengar ketukan dan pintu yang dibuka, ternyata Siska. Nana beranjak bangun dari pangkuan Keenan, tapi Siska sudah menyaksikan adegan Nana berada di pangkuan Keenan.


“Permisi, Pak. Ini dokumennya.”


“Ini yang sudah hasil revisi ya?”


“Iya, Pak.”


Keenan menandatangani dokumen yang tadi Siska bawa. Siska berdiri di depan meja Keenan dan sempat melirik pada Nana yang fokus pada ponselnya. Ternyata ini mantan office girl yang menjadi istri CEO. Cantik tapi norak, nggak kelihatan wah layaknya istri orang penting dan orang kaya, batin Siska.


“Ini,” ujar Keenan sambil menyerahkan map dokumen yang sudah ditandatangani. “Ah, apa kalian sudah saling kenal?” tanya Keenan pada Siska lau menoleh pada Nana.


Nana menatap Siska dan Keenan bergantian. “Sudah,” jawab Nana lalu kembali fokus pada ponselnya.


“Sudah Pak, tapi baru kenalan sepintas saja,” sahut Siska.


Memang harus kenalan yang bagaimana? Batin Nana. 

__ADS_1


\=\=\=\= Selepet aja Na,, 🤣


__ADS_2