
Kayla duduk di samping brankar dimana Kyra masih menutup matanya. Saat ini Kyra sudah berada di kamar rawat inap. Elang sedang menelpon entah dengan siapa, karena berada di luar. Khawatir jika suaranya mengganggu istirahat Kyra.
Menatap lekat wajah Kyra yang terlihat pucat, bahkan ada kantung di kedua matanya. Menghela nafas setelah mengingat kembali kalau akhir-akhir ini Kyra memang terlihat kurang sehat dan tidak nyaman, itu semua karena gejala kehamilan.
Elang sudah berdiri di samping Kayla, mengusap pundak istrinya seraya mengatakan agar tetap tenang dan sabar menghadapi masalah Kyra.
"Kyra," panggil Kayla ketika melihat pergerakan tubuh putrinya.
Kyra mengerjapkan kedua matanya, lalu kembali memejam sesaat menahan rasa pening yang masih melanda. Aroma khas obat-obatan menyeruak di hidungnya dan meyakini kalau saat ini dirinya berada di Rumah sakit.
"Mah," lirih Kyra.
"Mama disini, sayang." Kayla menggenggam tangan Kyra. Ujung mata Kyra sudah meneteskan air mata. Berada dalam perawatan artinya dokter sudah memeriksa kondisi tubuhnya, dengan kata lain orangtuanya pasti sudah mengetahui kalau dia hamil.
"Kyra, tetaplah berbaring," ujar Kayla saat Kyra memaksa untuk beranjak duduk.
__ADS_1
"Jangan paksa tubuhmu untuk bangun. Kalau kamu bisa menjaga kesehatan, kamu tidak akan koleps sepeerti tadi," tegur Elang.
"Mah, Pah, maafkan Kyra. Kalian pasti malu karena aku," tutur Kyra bahkan sudah mulai terisak.
"Kyra." Kayla berpindah duduk di atas ranjang tepat disamping putrinya. "Kenapa kamu nggak terbuka dengan kami, jangan pendam masalah sendiri," ujar Kayla sambil memeluk Kyra. Ibu dan anak itu akhirnya menangis dalam pelukan. Elang mengusap punggung kedua wanita yang sama-sama dicintainya berusaha menenangkan.
Sementara itu di Two Season.
Keenan sedang bersandar di kursi kerjanya dengan jari tangan mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Keluarga besar sebagian sudah pulang kecuali yang memang ada urusan pekerjaan dengan Two Season. Nana pun sudah diantar pulang oleh supir.
"Jeff," panggil Keenan saat melihat asistennya sudah berdiri di depan mejanya. "Apa jadwal hari ini bisa dipending?"
Keenan menganggukkan kepalanya. "Aku harus ke Rumah sakit, sepertinya Kyra ... sudahlah, kamu atur saja jadwalku." Keenan berjalan melewati Jeff meninggalkan ruangannya.
Jeff menghela nafasnya, jauh dihati terdalamnya dia agak penasaran dengan kondisi kesehatan Kyra karena melihat sendiri bagaimana wanita semaput dan jatuh dipelukan Emran sepupunya.
__ADS_1
Jeff bersandar di kursi memijat dahinya. Setelah mengatur ulang jadwal Keenan, dia kembali memikirkan wanita yang mengaku sedang hamil keturunannya.
"Tidak lama lagi, mereka akan minta pertanggungjawabanku," cetus Jeff lalu terbahak. Membuka laci mejanya dan mengeluarkan ponsel dimana tersimpan foto dan video Kyra.
"Sebenarnya kamu cantik, tapi ... saat ini wanita bukan prioritasku." Jeff memasukan ponselnya pada saku jas.
...***...
Sudah empat hari Kyra mendapatkan perawatan dan sudah diperbolehkan pulang. Terkait siapa laki-laki yang harus bertanggung jawab, Kyra masih bungkam.
"Lo gila ya," ujar Emran. Saat ini mendapatkan perintah menemani Kyra dikamarnya, Elang sedang menemani Kayla menemui Oma Meera.
"Ini tuh Indonesia, hal yang kayak lo maksud masih tabu. Single parent itu cuma istilah tetep aja judulnya hamil di luar nikah. Emang mau Akte Kelahiran anak lo cuma ada nama lo doang, nggak ada nama bapaknya?"
Kyra hanya diam mendengarkan nasihat Emran. "Kejadiannya bukan karena kita saling suka, ya mungkin aku suka sama dia tapi dianya enggak dan waktu itu aku mabuk. Jelas-jelas dia bilang nggak peduli dengan kehamilan aku," tutur Kyra.
__ADS_1
"Emang siapa itu laki, sampe berani menolak Kyra Sanjaya."
\=\=\=