
Pagi adalah waktu yang tidak nyaman bagi Kyra. Tapi dia tidak mungkin terus terbawa suasana, karena keluhan yang dirasakan karena morning sickness. Khawatir jika Kayla curiga, Kyra pun memaksakan diri untuk beraktivitas normal.
"Habiskan ya!" titah Kayla sambil meletakan piring dengan menu sarapan pagi. Nasi goreng yang masih hangat dengan taburan bawang goreng dan telur juga irisan mentimun, cukup menggugah selera.
"Papa kemana?" Elang memang tidak terlihat di meja makan.
"Pagi-pagi sudah berangkat, mungkin ada masalah di Hotel."
"Hm."
Seperti biasa, Kyra hanya sanggup menghabiskan separuh makanannya. "Aku berangkat, Mah."
"Kyra," panggil Kayla. Kyra yang posisinya sudah berdiri pun menoleh. "Duduk dulu Nak," titahnya. Kyra pun kembali duduk, menggeser piring bekas makannya agar aroma dari makanan yang bersisa tidak terlalu mengganggu dan kembali membuatnya mual.
"Mama perhatikan akhir-akhir ini kamu berbeda, apa ada masalah?"
Deg.
Jantung Kyra berdetak lebih kencang mendengar pertanyaan Kayla. Sempat tersirat khawatir dalam benak Kyra kalau Mamanya sudah mengetahui keadaan sebenarnya.
"Maksud Mama?"
Kayla menghela nafasnya, "Mama pernah berada di usia kamu, kadang ketika ada masalah memilih menyibukkan diri bahkan pernah melarikan diri. Mama nggak mau kamu seperti itu, kalau ada masalah cerita dan kita cari solusinya."
"I-iya Mah."
"Kamu nggak usah terganggu dengan masalah pernikahan, kalau kamu belum siap ya nggak masalah, tunggu sampai kamu benar-benar siap."
Maaf Mah, Kyra sudah buat Mama kecewa. Kyra nggak tahu harus jujur atau gimana, batin Kyra sambil memandang Kayla.
"Mama mau jenguk Oma, kamu sempatkan juga sering-sering tengok Oma.”
__ADS_1
“Hm, aku berangkat ya Mah.”
Kayla menatap kepergian putrinya.
Kyra, jangan sampai kamu merasakan apa yang aku alami. Cukup aku saja, batin Kayla.
Kyra mengemudikan mobilnya bukan menuju galeri, dia singgah di taman kota tidak jauh dari tempat tinggalnya. Duduk di salah satu kursi taman memandang danau buatan yang terlihat tenang.
Saat pagi, suasana di tempat itu tidak begitu ramai. Kyra kembali memikirkan ucapan Kayla dan menimbang apakah dia akan ceritakan kondisinya atau mencari jalan keluar lainnya. Tanpa disadari ada air mata yang menetes jatuh di pipinya, segera Kyra menghapus dengan punggung tangannya.
“Please Kyra, kuat dan jangan cengeng,” ujar Kyra menguatkan hatinya. Melarikan diri bukanlah solusi seperti yang Kayla sampaikan. Kepalanya terasa semakin pusing memikirkan solusi untuk masalahnya. Pilihan menjadi single parent adalah satu-satunya solusi untuk saat ini. Kyra pun beranjak meninggalkan taman dan berniat menemui temannya yang berprofesi sebagai pengacara. Mencari tahu lebih jelas terkait status dan kekuatan hukum mengenai single parent termasuk juga pandangan menurut agamanya.
Tidak mungkin Kyra mengkonsultasikan masalah ini dengan pengacara keluarga, sama saja membicarakan masalah ini kepada keluarganya. Kyra memutuskan akan mengakui dan mengatakan hal yang sebenarnya ketika dia sudah siap dengan keputusan yang diambil.
Meminta pertanggung jawaban Jeff sepertinya suatu hal yang mustahil, dia pun berjanji tidak akan mengemis pertanggung jawaban dari Jeff.
Matahari sudah tinggi dan lumayan terik saat Kyra keluar dari firma hukum dimana temannya bertugas. Kepalanya semakin terasa pening, selain karena sengatan matahari saat dia berjalan menuju parkiran di tempat terbuka juga memikirkan kembali penjelasan mengenai kejelasan status anak yang sedang dikandungnya.
Untuk saat ini kesehatanmu prioritas utama. Aku harus makan siang, kamu harus tetap mendapatkan yang terbaik,” ujarnya lagi sambil mengelus perutnya.
...***...
“Pak Jeff.”
Jeff tersadar dari lamunannya. “Kenapa?” tanya Jeff pada Siska yang sudah berdiri tidak jauh dari meja kerjanya.
“Maaf, tadi saya ketuk pintu dan sapa Pak Jeff tapi tidak ada sahutan. Hm, untuk jadwal Pak Keenan yang ditandai ini, maksudnya bagaimana? Saya masih belum paham.” Siska menyodorkan tablet ke hadapan Jeff.
Jeff pun menjelaskan mana jadwal Keenan yang urgent, termasuk yang tidak memungkinkan ditunda dan segala macam kode warna pada jadwal tersebut. Siska hanya menganggukkan kepalanya mendengarkan penjelasan dari Jeff.
“Pahami dengan benar, kami butuh karyawan yang cerdas dan cekatan. Kalau ada keluhan mengenai hasil kerjamu, dengan mudah kami bisa mencari pengganti,” ancam Jeff. Sedangkan Siska hanya bisa berdiri terpaku mendengar ancaman dari asisten atasannya.
__ADS_1
“Hilangkan dalam benakmu untuk berusaha menggoda Pak Keenan atau menjebaknya, bukan aku menuduh tapi itu pernah terjadi dan tidak berguna. Keenan tidak akan tergoda, aku pun tidak akan tergoda meskipun kamu dengan sengaja menggoda kami.”
Siska terlihat kesal mendapat arahan sekaligus hinaan seakan dia benar-benar memiliki rencana yang dituduhkan Jeff.
“Maaf, Pak. Tapi saya tidak ada niat buruk seperti yang Pak Jeff sampaikan.”
“Baguslah, karena saya tidak menuduh. Hanya mengingatkan untuk tidak dilakukan. Kembalilah ke mejamu,” titah Jeff.
Sepeninggal Siska, Jeff berdiri menatap kaca jendela yang menampilkan suasana kota Jakarta dari lantai tempat ruangannya berada. Entah mengapa perasaanku tidak nyaman dan tidak biasa, seolah ada hal atau sesuatu yang tertinggal.
Sekelebat terbayang momen malam itu dimana dia dan Kyra .... “Shitt,” hardik Jeff lalu mengusap wajahnya seakan ingin menghilangkan pikiran yang tiba-tiba muncul dan pikiran itu tentang Kyra.
“Aku pasti sudah gila, kenapa perempuan itu hadir di pikiranku terus.” Jeff melangkah meninggalkan ruangannya menuju ruangan Keenan. Untuk urusan pekerjaan memang Jeff termasuk bisa diandalkan dan profesional. Meskipun ada kebencian sendiri pada keturunan Elang Sanjaya, tapi urusan Two Season tetap dilaksanakan dengan baik. Rencana dan ide jahat yang disusun benar-benar bukan untuk menjatuhkan bisnis Elang Sanjaya tapi kepada pribadi pemilik Two Season.
“Oke, aku mengerti,” ujar Keenan. Dia dan Jeff baru selesai membahas masalah pertemuan yang akan diadakan oleh pimpinan Two Season dari semua daerah. Akan ada pesta perayaan ulang tahun berdirinya Two Season sekaligus deklarasi jika Eltan yang mundur dari kepemimpinan digantikan oleh Keenan.
“Apa hasil kerja Siska memuas_kan?” tanya Jeff.
Keenan yang sudah menunduk karena sedang fokus pada layar ponselnya menoleh pada Jeff yang duduk di hadapannya. “Memuas_kan bagaimana? Pertanyaan kamu rancu, cenderung negatif.”
“Maksud saya apakah hasil pekerjaan Siska memuaskan?”
“Untuk sementara tidak ada masalah, semoga saja kedepannya juga tidak ada masalah. Tapi Nana sepertinya kurang menyukai Siska, meskipun dia tidak sampaikan langsung.”
“Kalau untuk alasan itu, sepertinya kita sulit untuk memindahkan atau memecat Siska,” terang Jeff.
“Oh, tidak perlu dipecat. Saya hanya menyampaikan keluhan istri saya, bukan untuk dijadikan referensi pemecatan atau pemindahan Siska.”
Jeff menganggukan kepalanya tanda mengerti.
“Kadang perasaan wanita lebih peka dan sensitif, kamu akan mengalaminya nanti. Apa kamu sudah punya calon pendamping? Sepertinya banyak yang penasaran dan tertarik dengan jawaban ini,” ungkap Keenan.
__ADS_1