
“Siapa yang mau bicara duluan?” tanya Janu pada pasangan yang duduk di hadapannya. Nena yang berada di samping Janu sempat menyenggol tangan Janu. Kalaupun Nena ada di posisi Nana atau Keenan sudah pasti kabur duluan melihat raut wajah Janu.
“Daddy, mukanya jangan gitu kek. Aku ‘kan jadi takut, Bang Keenan juga pasti gugup.”
Janu berdecak, “Takut kenapa? Kalau nggak salah kenapa harus takut. Salah juga nggak mesti takut tapi tanggung jawab.”
Keenan mengusap punggung tangan Nana seraya mengatakan untuk diam dan tenang. Sesuai dengan janji Keenan pada Ibu mertuanya tadi pagi kalau mereka akan berkunjung dan menjelaskan keputusan Keenan.
“Kamu seenaknya, pergi dengan Malik malah nggak pulang. Telepon nggak, tahunya enak-enakan di Bali,” ejek Janu.
“Maaf, ini salah saya. Seharusnya saya yang menghubungi kalian, jujur karena rindu pada Nana jadi saya tidak bisa berpikir jernih.”
“Ck, kamu tahu ‘kan ngapain Nana di Singapura?”
“Tahu Dad.”
“Jadi, bagaimana?”
Keenan menoleh ke arah Nana dan meraih tangan serta menggenggamnya. “Nana istri saya, seterusnya dia istri saya. Saya tidak ada berniat berpisah dengan Nana.”
Janu dan Nena terdiam mendengar apa yang disampaikan Keenan. Bahagia karena pernikahan putri mereka tidak berakhir tapi masih ragu dengan keputusan Keenan.
“Kamu tahu dengan jelas putri saya ada kekurangan. Tapi aku tidak akan membiarkan dia tersakiti, jadi kembalikan dia kepada kami kalau keputusan kamu berubah.”
“Saya yakin dengan keputusan saya.”
“Kenan,” ujar Nena. “Setiap wanita akan rapuh menyadari kekurangannya. tidak percaya diri bahkan bisa membuat emosinya tidak stabil. Kalau Nana mengalami hal itu, apa kamu bisa mengatasinya?”
“Pasti, saya akan lakukan yang terbaik untuk Nana.”
“Hehe, Abang so sweet,” ujar Nana sambil memeluk lengan Keenan.
“Sudahlah tidak usah banyak bicara, buktikan saja ucapanmu,” sela Janu.
Saat ini Keenan sudah berbaring di ranjang kamar Nana yang berada di kediaman Janu. Memutuskan untuk menginap karena permintaan Nana. Suasana kamar yang didominasi dengan warna pink dan putih sangat menjelaskan pemilik kamar adalah seorang perempuan.
Kamar Nana cukup luas, dengan banyak foto di meja dan dinding yang memang didesain untuk memajang dokumentasi kegiatan Nana. Keenan sempat tersenyum melihat foto Nana saat masih sekolah dan kuliah, terlihat menggemaskan.
__ADS_1
“Abang,” panggil Nana yang ikut merebah di sampingnya. “Aku pikir sudah tidur,” ujarnya lagi.
“Kemarilah,” pinta Keenan lalu menarik tubuh Nana agar semakin merapat dalam pelukannya. “Sepertinya aku akan sulit tidur kalau tidak peluk kamu.”
“Masa? Kemarin-kemarin bisa aja tuh tidur.”
“Itu kemarin, sekarang beda.”
“Hm, gombal.”
...***...
Sudah tiga bulan berlalu sejak kembalinya Nana. Keenan berusaha menjadi suaminya yang baik untuk Nana, sesuai dengan nasihat Ibu mertuanya dia harus memaklumi emosi Nana. Hubungan mereka semakin mesra dan terus berusaha untuk menciptakan kebahagiaan versi mereka.
Tidak jarang Nana sengaja menemui Keenan di Two Season hanya untuk makan siang. Rumor tentang perceraian mereka pun mereda karena yang terlihat pasangan itu selalu mengumbar kemesraan.
“Shhh, sakit,” desis Nana saat menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Keenan masih terbuai dengan mimpinya, sedangkan Nana harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri untuk menyiapkan kebutuhan Keenan.
Nana menyentuh perutnya yang terasa kencang karena kram. “Kenapa ya? Apa sudah periode aku?”gumam Nana sambil mengingat kapan periode dia bulan kemarin. “Udah waktunya atau sudah lewat ya.”
“Abanggg,” pekik Nana, tiba-tiba Keenan sudah memeluknya dari belakang dengan menumpukan dagu pada pundak Nana. “Bikin kaget aja.”
“Hm, kamu wangi. Pasti bakal kangen banget nih, kamu ikut aja ya,” pinta Keenan. Beberapa hari ke depan dia akan berkunjung ke Two Season di luar kota.
“Nggak, kalau aku ikut yang ada bikin ribet. Abang sibuk, nanti aku merasa diabaikan.”
“Rambut kamu masih basah gini,” keluh Keenan.
“Hm, tadi mau keringkan takut abang terganggu sama suara hair dryernya.”
“Ayo.” Nana mengikuti langkah Keenan yang menarik tangannya dan mendudukan di depan meja rias menatap cermin di depannya. Ternyata Keenan membantu mengeringkan rambut Nana, membuat hati Nana menghangat mendapatkan perhatian yang Keenan berikan.
“Cukup Bang. Abang mandi dong, udah siang ini.”
“Hm,” jawab Keenan lalu mengacak rambut Nana.
“Abang, berantakan lagi ‘kan,” rengeknya lalu beranjak bangun. “Aduh, shhhh,” pekik Nana sambil memegang perutnya.
__ADS_1
“Kamu kenapa sayang?” tanya Keenan kembali menghampiri Nana. Nana tidak menjawab malah menggigit bibirnya menahan sakit.
“Nana, jangan buat aku cemas.”
“Perut aku kram,” ujar Nana.
“Kram? Terus gimana, kita ke Rumah sakit?”
Nana memukul lengan Keenan. “Nggak usah lebay, perempuan biasa begini. Mungkin sudah periode bulanan aku.”
“Yakin?”
Nana menganggukan kepalanya. “Makanya kalau main pelan-pelan,” ujar Nana lalu mengerucutkan bibirnya.
Keenan terkekeh, “Maaf, aku terlalu bersemangat. Kamu candu dan syahdu banget sih, apalagi kita mau pisah beberapa hari ini jadi aku kerahkan semua tenaga.”
Sudah tiga hari ini Keenan berada di luar kota tapi komunikasi dengan Nana tetap lancar. Bahkan kadang Nana gemas dan kesal sendiri karena Keenan yang posesif.
Pagi ini Nana bangun dengan tubuh lemas dan sakit di kepalanya. Kram perut yang dia alami sesekali masih sering dia rasakan. Berniat memeriksakan kondisi tubuhnya setelah Keenan pulang.
“Shhh,” desis Nana sambil berjalan menuju kamar mandi. Tiba-tiba pandangannya gelap dan ….
Bruk.
Tubuh Nana lunglai terbaring di lantai.
Sedangkan di meja makan, Kayla yang tidak melihat Nana turun meminta bibi untuk panggil Nana agar segera sarapan.
“Bu Kayla,” teriak Bibi dari ujung tangga. “Non Nana pingsan.”
“Nana!”
\=\=\=\=\=
Sambil tunggu kelanjutannya, mampir yukkk di novel teman aku
__ADS_1