
Nana terbangun dari tidurnya karena rasa tidak nyaman di bagian perutnya. Menyadari bahwa saat ini bukan berada di kamar mereka melainkan masih berada di hotel setelah acara semalam. Salah satu tangan Keenan berada di atas perut Nana dengan wajah yang cukup dekat dengan wajahnya sendiri. Bahkan hembusan nafas Keenan terasa hangat di leher dan pipi Nana.
"Ssshhh," Nana mendesis pelan merasakan sakit di bawah perut bagian kanan. Mengingat bahwa saat ini bukan menjelang periode bulanannya, Nana berpikir apa penyebab nyeri yang dirasakannya.
Semalam, Keenan dan Nana sempat bermain hal yang menyenangkan menjelang tidur, meskipun tidak dengan gaya yang aneh-aneh atau durasi yang panjang karena keduanya sudah cukup lelah. Tentu saja Nana meyakini hal itu bukan penyebab nyeri bagian bawah perutnya, mengingat Keenan pernah bermain lebih ekstrim tapi tidak menyebabkan keluhan apapun.
Nana mengangkat tangan Keenan yang berada di atas perutnya, karena ingin ke toilet. Bergeser perlahan agar tidak membuat Keenan terbangun. Mengenakan kimono tidur yang semalam sudah dia siapkan di atas nakas lalu melangkah menuju toilet.
"Kenapa ya?" tanya Nana bermonolog sambil menekan area yang tadi sempat terasa nyeri. Saat ini Nana sudah berada di toilet menatap cermin wastafel. Mencuci muka dan menyikat giginya, aktivitas yang biasa dilakukan setiap pagi.
Nana kembali merangkak di atas ranjang, bermaksud membangunkan Keenan setelah memastikan waktu saat ini. “Abang,” panggil Nana sambil mengusap wajah Keenan.
“Bang Keenan,” panggil Nana lagi, kali ini sambil mencium singkat bibir Keenan.
“Bang Kee….”
Kalimat Nana terhenti karena kedua mata Keenan sudah terbuka, dengan posisi wajah mereka yang begitu dekat. “Kalau sebut nama aku jangan terpotong begitu, nggak enak di dengarnya.” Nana hanya terkekeh dan mengulang kembali panggilannya. “Bang Kee….”
Keenan menggelitik pinggang Nana membuat wanita itu berteriak kegelian. “Abang udah siang, jangan bercanda. Mama sama Papa pasti sudah nunggu kita.”
“Ayo, kita mandi.”
“Abang duluan,” sahut Nana.
“Bersama.”
Nana berdecak, “Yang ada bukan mandi, malah aneh-aneh.”
“Nggak apa-apa, kita ‘kan belum pernah main di toilet.”
Tidak lama kemudian. Nana dan Keenan sudah berada di lift, dengan wajah Nana yang cemberut. Keduanya benar-benar sudah ditunggu oleh keluarga karena akan sarapan pagi bersama. Karena keasyikan dengan aktivitas di toilet, Keenan bahkan sampai beberapa kali dihubungi oleh Elang.
“Sudah dong, jangan cemberut terus,” bujuk Keenan dengan tangan sudah berada di pinggang ramping istrinya.
“Abang sih, aku bilang nggak usah mandi bareng, jadi begini deh. Malu kalau nanti mereka tanya kenapa kita susah dihubungi.”
“Tinggal jawab lagi asyik main di toilet.”
“Abang, Ih.” Nana bahkan sempat meninggalkan cubitan di lengan Keenan. Keduanya sudah memasuki ruangan dimana para tamu hotel sedang menikmati sarapan pagi mereka.
__ADS_1
“Nah ini tersangka utamanya,” celetuk Eltan.
Keenan hanya terkekeh, “Maaf, semalam lelah sekali jadi kesiangan.”
“Lelah habis ngapain?” tanya Eltan menggoda Keenan. Bahkan Rika yang duduk disebelahnya sempat protes dengan pertanyaan yang diberikan Eltan.
“Kyra kemana ya, kebiasaan banget itu anak. Semalam datang terlambat sekarang belum nongol juga,” ujar Kayla. Berbarengan dengan Kyra yang sedang berjalan menghampiri keluarga besarnya.
“Kamu kemana sih sayang, Mama telepon nggak dijawab.”
“Owh, ponsel aku silent tadi aku ke rooftop lihat pemandangan,” sahut Kyra setelah mencium pipi Kayla.
“Di Jakarta mau lihat pemandangan, pemandangan apa? Gedung tinggi semua,” ungkap Keenan.
Kyra duduk di salah satu kursi kosong yang ternyata ada di samping Kiran putri Eltan, “Apa aja yang penting bukan memandangi wajah Kak Keenan,” jawabnya.
Keluarga Sanjaya kembali riuh dengan obrolannya, sambil menikmati sarapan. Kyra benar-benar tidak tahan dengan aroma berbagai menu yang sedang dinikmati oleh setiap orang. Menikmati teh hangat yang tadi dia ambil sambil bicara dengan Kiran.
“Sayang, kamu belum sarapan?” tanya Kayla pada Kyra.
“Belum lapar Mah.”
“Kiran,” panggil Eltan membuyarkan lamunannya. “Kamu ditanya kapan nikah?”
Kiran hanya tertawa, “Gimana dong, kalau ada yang mau sekarang juga oke,” jawab Kiran.
“Manalah ada yang berani, Papinya sama adiknya galak begitu,” sahut Rika. “Tiap ada teman laki-laki yang datang cari Kiran, ditanya-tanya udah kayak interview kerja aja.” Kayla hanya tertawa mendengar keluhan Rika.
Kyra yang sedang berada di meja buffet tampak bingung memilih menu, tanpa disengaja bahunya menyenggol seseorang. “Maaf,” ucapnya sambil menoleh. Ternyata Jeff, dengan piring di tangannya sudah terisi makanan.
Kyra menghela pelan untuk kembali fokus pada piringnya sendiri sampai akhirnya Jeff sudah meninggalkan area buffet.
“Mau makan apa sih lama bener mikirnya?” tanya Emran yang sudah berada di samping Kyra. Sedangkan Kyra meletakan piring yang dia pegang lalu memijat dahinya yang terasa sakit. “Emran, a-aku ….”
“Kyra,” panggil Emran yang berhasil meraih tubuh Kyra yang tiba-tiba terlihat lunglai dan hampir terjerembab. Kyra tak sadarkan diri, untung saja ada Emran di sana.
“Kak Kiran,” teriak Emran pada kakaknya.
Seluruh keluarga besar Sanjaya menoleh ke arah suara. “Kyra,” teriak Kayla yang bergegas menghampiri Emran dan Kyra setelah melihat Kiran berlari.
__ADS_1
“Rebahkan dulu,” ujar Kiran sambil memeriksa titik-titik kehidupan di tubuh Kyra. “Kita bawa ke Rumah sakit aja,” ujar Kiran.
Jeff yang berada agak jauh dari buffet menyaksikan kepanikan keluarga Sanjaya karena Kyra yang tak sadarkan diri. Meletakan sendok yang dia pegang, rasanya makanan yang ada di hadapannya sudah tidak menarik untuk dinikmati.
Kayla dan Elang mengekor Emran yang menggendong Kyra. Elang menghubungi seseorang agar menyiapkan mobil.
“Kalian tidak usah ikut, tetap di sini temani keluarga yang lain. Nanti Mama kabari, ” ujar Kayla pada Keenan yang akan ikut masuk ke dalam lift.
***
Kayla, Elang dan Emran sudah berada di depan UGD, menunggu hasil pemeriksaan Kyra. Emran terlihat tenang dengan duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Kayla tampak berjalan mondar mandir.
“Kayla, duduklah,” titah Elang.
“Aku belum tenang kalau belum tahu kabar Kyra.”
Elang berdecak, “Duduk, Kyra sedang diperiksa. Kepanikan kamu nggak akan merubah kondisi Kyra. Cepat duduk.”
Kayla pun akhirnya menuruti ucapan Elang dengan duduk di samping suaminya. Hampir setengah jam menunggu akhirnya perawat memanggil keluarga Kyra. Elang dan Kayla bergegas menghampiri.
“Kondisi tubuh pasien atas nama Kyra cukup lemah. Tekanan darah sangat rendah dan asupan nutrisi sepertinya kurang. Ini sangat berbahaya sekali apalagi di masa awal kehamilan,” terang dokter.
Elang dan Kayla terkejut dengan penjelasan dokter.
“Maksudnya putri saya … hamil?” tanya Elang ragu-ragu khawatir dia salah mendengar penjelasan dokter.
“Betul. Kalau hasil USG ini sudah masuk minggu sebelas hampir dua belas minggulah. Tapi nanti detailnya dengan dokter obgyn. Saran saya rawat inap sekaligus pemeriksaan intensif kehamilan.”
Kayla tidak bisa berkata-kata. Elang mengiyakan arahan dokter demi kebaikan Kyra.
“Mas, aku nggak salah dengar ‘kan?”
Elang mengusap bahu Kayla. “Ayo, Kyra sangat butuh kita.”
“Tapi … Kyra tidak mengalami apa yang pernah terjadi dalam hidupku ‘kan?”
“Sayang, kita baru dengar informasi kondisi Kyra menurut pandangan Dokter. Penyebab kehamilan dan siapa Ayah bayi itu, harus keluar dari mulut Kyra. Jadi sekarang fokuskan pada kesehatan Kyra.”
Kayla menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir bayangan kelam masa lalunya.
__ADS_1