
“Mommy, aku boleh masuk,” pinta Nana dengan kepala menyembul di balik pintu kamar Nena. Saat ini Nana sedang berada di kediaman Janu, baru saja dia melepas kepergian Keenan untuk kembali ke Two Season.
“Masuklah.”
“Daddy kemana?”
“Mungkin di ruang kerjanya, sedang zo*m meeting dengan Bang Malik. Biasanya kalau pagi ya begitu. Daddy kamu sudah malas datang ke perusahaan. Sepertinya ada hal yang mengganggu kamu? Ada apa sayang, ceritalah sama Mommy.”
Nana mengedikkan bahunya. “Mom, waktu Mommy mengandung aku di usia berapa? Berapa lama setelah pernikahan dengan Daddy?”
Nena bergeming mendengar pertanyaan putrinya. Dia bingung untuk menjelaskan berapa lama usia pernikahannya dengan Janu lalu mengandung Janela. Sedangkan kenyataannya dia menikah dengan Janu dengan kondisi kehamilan yang sudah cukup besar. (baca : Our Love Story).
“Sebenarnya ada apa?” tanya Nena mengalihkan pembicaraan.
“Penasaran aja Mom, karena aku nggak paham masalah kehamilan dan juga kapan bisa hamil.”
Nena terkekeh mendengar keluhan Nana. “Kamu dan Keenan menikah baru dua bulan sudah memusingkan masalah punya anak. Nikmati saja kebersamaan kalian, jangan dijadikan beban. Nanti malah menjadi sugesti negatif pada diri kamu.”
“Abang juga bilang begitu, tapi aku ….”
“Nana sayang, tidak usah khawatir ya. Kita bisa periksakan kondisimu minimal satu atau dua tahun pernikahan kalian tapi belum terlihat tanda-tanda kalian akan punya keturunan.”
“Jadi, nggak perlu dari sekarang?”
“Masih terlalu dini, sayang.”
“Hm. Mommy sudah packing?”
“Sudah beres kok. Kamu nggak ingin ikut Mommy atau honeymoon kemana gitu?”
“Abang masih sibuk.” Nana yang tadinya duduk ditepi ranjang akhirnya merebahkan diri. “Baru pindah kerja di Jakarta terus menikah. Jadi kami yang harus menyesuaikan pekerjaannya,” sahut Nana.
__ADS_1
“Nggak nyangka ya, Janela Arsana putri Mommy sudah dewasa. Bisa menekan egonya dan membedakan hal yang lebih prioritas. ”
“Siapa yang sudah dewasa?” tanya Janu.
“Janela, putri kita sudah sangat dewasa.”
“Hm. Asal jangan seperti sebelumnya, ngambek terus kabur.”
“Daddy apaan sih.” Nana tersipu malu mengingat ulahnya yang kabur dari rumah dan bekerja di Two Season sebagai office girl.
“Kamu masih nggak ada minat untuk bergabung di Arsana Corp.?”
“Daddy, nggak usah mulai deh.”
...***...
Kyra merapikan kembali kemasan dan alat tes kehamilan yang sudah digunakan. Memastikan sudah terbungkus kembali dan berada di tempat sampah. “Bagaimana jika Mama dan Papa tahu.” Kyra mengelus perutnya lalu berjalan mondar mandir, masih berada dalam kamar mandi.
“Tenang Kyra, kita pikirkan jalan keluarnya,” ucap Kyra sambil melangkah meninggalkan kamar mandi. Menuju nakas dan meraih ponselnya. “Apa aku temui Pak Jeff ya?”
Kyra membaca banyak artikel tentang kehamilan, termasuk tentang gejala dan usia kehamilan. “Sepertinya aku harus ke dokter, untuk tahu usia kehamilanku.”
Memilih Rumah sakit yang agak jauh dari tempat tinggalnya bahkan bukan Rumah sakit besar. Hanya ingin mengetahui kondisi kandungan dan usia kehamilan. Kyra menunggu di depan ruang dokter, bersama pasien lainnya. Menatap para wanita hamil lainnya, ada yang perutnya sudah sangat membola, ada pula yang baru membuncit dan ada yang masih terlihat rata seperti dirinya. Yang membedakan adalah Kyra datang sendiri, pasien lain ditemani pria yang sudah pasti adalah suami mereka.
Perawat sudah mulai memanggil pasien, sampai akhirnya nama Kyra disebut. “Selamat siang Ibu Kyra, silahkan duduk,” sapa dokter. Percakapan berikutnya dokter menanyakan keluhan yang dirasakan. Setelah mendengarkan apa yang disampaikan Kyra, dokter melakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui umur kehamilan dan kondisi kandungan.
“Usia kehamilannya masuk delapan minggu. Kantung janinnya bagus, coba kita dengarkan detak jantungnya.”
Terdengar detak jantung kehidupan lain dalam tubuh Kyra, mendadak kedua matanya terasa panas. Air mata seakan ingin tumpah ruah, tapi entah kenapa hatinya terasa sangat perih. Bahagia dan sedih menjadi satu dalam rasa. Lidahnya terasa sangat kelu dan berat untuk berucap, menjawab pertanyaan dari dokter.
“Hindari makanan yang memicu mual, konsumsi banyak sayur dan buah. Ini saya buatkan resep isinya hanya vitamin, tolong diminum dengan rutin. Pemeriksaan berikutnya, tolong ajak suami Ibu. Kehamilan ini harus dijaga oleh kedua belah pihak dan butuh dukungan suami.”
__ADS_1
Kyra hanya menganggukkan kepala pelan. Suami? Bagaimana reaksinya kalau tahu aku mengandung anaknya, batin Kyra.
Sampai di rumah, Kyra mengikuti apa yang disarankan dokter. Memaksakan diri untuk mengkonsumsi makanan sehat meskipun mulut dan perutnya masih terasa tidak nyaman, termasuk dengan vitamin yang sudah dia dapatkan.
Memutuskan untuk menemui Jeff, saat ini Kyra sudah berada di parkiran Two Season. Mobilnya berada tidak jauh dari mobil Jeff.
“Halo, Kak,” ucap Kyra menghubungi Keenan dari dalam mobilnya.
“Hm.”
“Masih di hotelkah?” tanya Kyra.
“Sudah di lobby, kenapa?” tanya Keenan diujung telepon.
“Hm, tadinya aku mau ajak kakak ke Rumah sakit.”
“Besok saja, Nana ada di rumah Mommy. Aku pulang ke sana,” sahut Keenan.
“Oke.”
Panggilan telepon pun berakhir. Kyra menghubungi Keenan hanya untuk memastikan posisi Jeff. Kalau Keenan sudah pulang Jeff pun sama. Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, Kyra sudah melihat mobil Keenan melaju. Tidak lama kemudian terlihat Jeff, Kyra bermaksud mengikuti Jeff sampai ke apartemen tempat tinggalnya.
“Owh, dia tinggal di sini,” gumam Kyra saat memasuki wilayah apartemen Jeff. Bergegas keluar dari mobil karena Jeff sudah berjalan menuju lift yang ada di basement.
“Pak Jeff,” panggil Kyra, Jeff pun menoleh.
Saat ini Jeff dan Kyra sudah berhadapan meskipun berjarak. “Ada yang perlu aku sampaikan,” ujar Kyra. Jeff melihat jam tangannya seakan dia sedang sibuk dan tidak punya banyak waktu.
“Katakanlah, aku sedang buru-buru.”
Kyra menghela nafas agar tidak terpancing emosi.
__ADS_1
“A-aku hamil.”
\=\=\= Gimana respon Jeff ya ? 🤔