Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Belum Siap Bertemu


__ADS_3

Hari ini benar-benar menjadi hari menyedihkan bagi anak-anak Meera Chandra. Kayla dengan mata sembab dan pipi yang terus basah karena air mata, diapit oleh kedua adiknya Reka dan Rika.


Eltan dan Elang memastikan Jenazah oma Meera disemayamkan menurut kepercayaan mereka. Putra dan putri Eltan serta Keenan dan Nana menyambut para pelayat dan kerabatyang datang.


Selama hidup Meera memang paling mengkhawatirkan Kayla. Putri yang lahir dari pernikahannya bersama Agha Farraz, menjadi korban perceraian. Terkadang tinggal bergantian dia kediaman Agha atau Meera. Termasuk masa kelam yang pernah dialami Kayla menjadi pukulan terbesar bagi Meera. (Inget kan kisah Kayla di novel yang sebelummya 😁)


Bahkan di masa tuanya, Meera secara langsung sering meminta maaf pada Kayla karena tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuknya.


“Kak, udah dong. Kasihan Bunda kalau begini,” ujar Rika sambil mengusap air mata di pipi Kayla. “Kak Nara dan Kyra sudah keluar bandara, sebentar lagi sampai. Bunda harus segera dimakamkan,” tutur Rika.


“Kak, yang kuat. Masih ada yang Kyra yang harus kita fokuskan setelah ini,” ucap Reka.


“Kyra, dimana anak itu?”


“Tadi sudah sampai bandara, sebentar lagi juga sampai,” jawab Rika.


Satu jam kemudian sebuah mobil berhenti didepan gerbang kediaman Eltan, ramainya pelayat membuat mobil tidak bisa masuk. Ternyata Nara dan Kyra yang datang termasuk Ken putra bungsu Reka.


“Kyra, jangan lari, kamu sedang hamil," ujar Nara karena Kyra terlihat bergegas memasuki kediaman Eltan.


“Oma,” teriak Kyra berjalan bergegas. Penampilan Kyra membuat para kerabat yang hadir saling berbisik membicarakannya, tentu saja karena kehamilan Kyra. Yang mereka tahu putri Elang dan Kayla itu belum menikah.


“Kyra,” panggil Elang langsung menahan Kyra dengan memeluknya. “Pelan-pelan sayang,” ucapnya.


“Oma, Pah. Oma nggak boleh pergi dulu, aku ….”


“Stt, kita masuk dulu.”


“Oma, maafin aku Oma. Aku janji akan jadi anak yang baik, nggak akan melawan orangtua. Tapi Oma bangun dulu, Oma ….” Kyra histeris saat memasuki kediaman Eltan. Menjadi cucu yang cukup dekat dengan Meera, tentu saja dirinya termasuk orang yang sangat kehilangan sosok Meera.


“Kiran, ajak Kyra ke kamar,” titah Eltan.


Kiran dan Nana membawa Kyra ke kamar, tidak baik bagi Kyra termasuk juga para kerabat yang mulai bertanya tentang kondisi kehamilannya.


...***            ...

__ADS_1


Sore menjelang malam, kediaman Eltan mulai terlihat sepi. Pemakaman Meera sudah dilakukan tadi siang, setelah kedatangan Nara dan Kyra. Meskipun Kyra tidak diperkenankan ikut menghadiri.


“Kyra, makan dulu ya.” Nara yang masuk ke dalam kamar Kiran dimana Kyra berada membawakan nampan berisi makanan.


“Aku nggak pengen makan,” sahut Kyra.


“Pengennya apa? Nangis terus? Memang kalau kamu nangis terus masalah bisa selesai, Oma bisa bangun lagi? Nggak ‘kan?”


Kyra menoleh ke arah Nara. Apa yang diucapkan Tantenya tadi cukup mengena.


“Kamu tahu, saat ini kedua orang tuamu sedang menguatkan hati bukan hanya kehilangan orang tua tapi juga sedang menyiapkan jawaban karena pertanyaan orang. Mereka bertanya tentang kehamilan kamu. Jadi, apa kamu mau terus terpuruk menambah kesedihan orangtua atau menguatkan hatimu dan jalani hidup dengan semangat. Kesalahan dan masa lalu jangan disesali,” nasihat Nara.


“Aku mau makan.” Kyra mengambil nampan yang masih berada di pangkuan Nara. Nara tersenyum, “Tante tinggal dulu ya.” Kyra menganggukan kepalanya.


...***...


“Ra, kamu jadwal cek up kapan?” tanya Kayla. Sudah tiga hari kepergian Oma, kini mereka sudah kembali ke rumah sendiri. Kayla sedang berada di dapur mengarahkan asisten rumah tangganya untuk memasak dengan menu pilihannya.


“Hari ini Mah.”


“Aku bisa sendiri Mah, paling minta anter supir aja.”


“Kyra,” panggil Elang. “Ikut Papa,” titahnya lagi.


Kyra pun mengekor langkah Elang menuju ruang kerja. Duduk berhadapan di sofa yang tersedia di sana. Elang menatap putrinya, seakan berat untuk menyampaikan sesuatu yang benar-benar penting.


“Kyra, beberapa hari yang lalu Jeff menemui Papa termasuk juga menemui Keenan.”


Kyra menarik nafas mendengar nama Jeff, terlihat sekali jika dia tidak nyaman.


“Papa nggak tahu kamu bersedia atau tidak. Kamu tahu kalau Jeff menyimpan file yang sangat merugikan kamu dan Papa tidak bisa sembarangan bertindak karena hal ini. Tapi kemarin Jeff mengatakan ingin bertemu denganmu, dia berjanji akan menghapus semua file miliknya dengan syarat bertemu denganmu.”


Kyra menundukkan wajahnya. Merasakan dilema antara tidak ingin menemui Jeff dan tidak ingin membuat kedua orang tuanya terus menerus khawatir karena masalah ini. Masih teringat jelas nasihat Nara juga omongan keluarga besar tentang statusnya saat ini.


“Papa tidak akan memaksa kamu dan sudah menyampaikan pada Jeff, tergantung padamu ingin bertemu atau tidak.”

__ADS_1


“Berikan aku waktu Pah. Waktu untuk menyiapkan hati bertemu dengan nya,” sahut Kyra


Elang menganggukkan kepalanya, memahami situasi dan perasaan Kyra.


Saat ini Kyra sudah berada di Rumah sakit. Telah melakukan pemeriksaan rutin kehamilannya. Setelah menebus vitamin yang harus dikonsumsi, berniat kembali pulang. Berjalan di sepanjang koridor rumah sakit menuju parkiran, dengan tangan memegang hasil USG. Wajahnya tersenyum karena perkembangan bayi yang berada dalam kandungannya dinyatakan sehat dan normal untuk umur kehamilannya.


“Kyra,” panggil seseorang.


Kyra pun menghentikan langkah dan menoleh pada wanita yang berdiri tidak jauh dihadapannya. Wanita itu tersenyum sinis, “Bagaimana rasanya hamil tanpa suami. Bahkan ayah dari bayimu tidak mengakuinya?” wanita itu adalah Sena. Setelah bertanya dia lalu tertawa.


Kyra mencoba menahan emosinya, bagaimanapun wanita itu adalah nenek dari bayi yang tidak berdosa yang mana saat ini masih berada dalam tubuh Kyra.


“Rasanya bahagia. Karena aku percaya, Tuhan punya alasan sendiri kenapa aku harus melewati hal ini. Hanya aku tidak habis pikir, kenapa Ibu bisa tertawa di atas penderitaan orang lain.”


“Kamu … sama seperti Ibumu. Merampas kebahagiaan orang lain.”


Kyra mengernyitkan dahinya. “Jangan hina Mama, dia tidak bersalah. Disini aku  yang bersalah karena mencintai pria yang tidak tepat,” sahut Kyra.


“Kamu harus ingat kalau putraku masih menyimpan file itu. Bagaimana jika dia menyebarkannya?” tanya Sena.


“Aku tidak peduli karena ….”


“Kyra,” teriak seseorang. Kyra dan Sena pun menoleh. Terlihat seorang pria yang berlari menuju ke arah Kyra dan Sena berada. Kyra yang merasa belum siap bertemu pria itu pun bergegas pergi.


“Kyra,” panggil Jeff lagi tapi Sena menahannya.


“Jeff, kamu kemana sayang? Kenapa tinggalkan Ibu?”


Jeff berdecak, karena tubuhnya ditahan Sena. Kedua matanya menyaksikan Kyra yang semakin menjauh. 


.... Bersambung


Haiiii, ada karya milik teman author nihhh,gak kalah seru lohh. Mampir yuksss


__ADS_1


__ADS_2