
Sekali lagi Jeff menoleh. Apa dia benar-benar Kyra? Batin Jeff lalu merogoh kantong celana mengambil ponselnya. “Halo. Iya Bu, aku sudah di mall,” ujar Jeff lalu.
“Ibu tidak usah khawatir, apapun aku akan lakukan untuk Ibu.”
Tidak lama kemudian panggilan berakhir, Jeff mendatangi jewelry store untuk membeli perhiasan sesuai arahan Ibunya. Entah untuk apa dan akan diberikan kepada siapa.
Sedangkan di parkiran, Kyra baru saja masuk ke dalam mobilnya. Memejamkan matanya berusaha menetralisir emosinya. “Focus Kyra, lupakan masa lalu dan tetap pada masa depanmu,” ujar Kyra.
Sementara itu di kediaman Sanjaya.
Nana yang sejak Keenan berangkat tadi pagi terlihat gugup dan aneh, mengingat janjinya pada Keenan. Tidak banyak aktifitas yang dia lakukan hari ini, bahkan Kayla sempat mendatangi kamarnya khawatir jika menantunya sakit atau membutuhkan sesuatu di kamar.
Biasanya Nana akan banyak terlibat di dapur atau sekedar menggoda para asisten rumah tangga yang sedang memasak, tapi hari ini Kayla tidak melihat Nana beredar di rumah.
Bahkan saat menjelang makan malam, Nana yang masih berada di kamar semakin resah. “Ayolah Nana, ngapain juga kamu gugup begini. Keenan itu suami kamu bukan laki orang,” ujar Nana bermonolog lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kedua kaki menjuntai ke lantai.
“Iya, Keenan bukan laki orang tapi aku mau menyerahkan tubuhku untuknya. Aku ‘kan belum pernah, gimana kalau Abang nggak suka atau ….”
Terdengar ketukan pintu, Nana pun beranjak bangun dan berjalan menuju pintu kamarnya. “Non Nana, sudah ditunggu Ibu sama Bapak di bawah.”
“Oh, iya.”
“Kamu yakin nggak kenapa-napa?” tanya Kayla saat Nana bergabung di meja makan. Elang sampai menoleh, seakan mencari kebenaran dengan pertanyaan Kayla.
“Nggak Mah, aku baik-baik saja.”
“Penasaran aja, biasanya rumah ramai dengan tertawa kamu menggoda si Bibi atau berisik di dapur, tapi hari ini di kamar aja. Kalau ada apa-apa cerita sama Mamah ya?”
Nana tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Aku lagi gugup Mah, putramu mau belah duren, batin Nana.
__ADS_1
Keenan sudah mengabari jika malam ini dia akan makan malam di luar bersama klien, sedangkan Kyra berada di kediaman Eltan mengunjungi Oma, sepertinya dia menginap di sana. Pembicaraan malam itu didominasi oleh Kayla, Elang hanya menikmati makan malam sambil menyimak dua wanita di sehadapannya, istri kesayangannya dan menantu yang sedang berinteraksi.
“Sesekali nggak masalah kamu temui Keenan. Makan siang bersama atau pergi kemana gitu kalau Keenan sudah selesai dengan pekerjaannya. Mamah juga dulu gitu, iya Pah?”
“Hm.”
“Apalagi Papah dulu banyak yang dekati, jadi Mamah kesel tapi ada bangga juga sih. Artinya pasangan kita ternyata bukan kaleng-kaleng,” ujar Kayla lalu terkekeh.
“Apa yang bukan kaleng-kaleng?”
Kayla dan Nana menoleh ke arah suara. “A-abang,” panggil Nana lirih.
“Katanya kamu makan di luar, jadi atau nggak?”
“Jadi Mah, tapi sudah dari tadi.” Keenan duduk disamping Nana setelah mengusap puncak kepalanya.
“Bagaimana hari ini?” tanya Elang.
“Aman Pah.”
Nana menuju kamarnya dan saat ini berada di walk in closet. Membuka pintu lemari khusus pakaian-pakaian miliknya dan memandang tumpukan pakaian dinas seorang istri. Ada beberapa jenis lingerie milik Nana, bukan hasil dia sengaja beli tapi hadiah saat pernikahan. Entah itu dari siapa yang jelas beberapa goody bag berisi lingerie sudah tersimpan di kamar hotel.
“Ini baju seperti nggak ada bahan lain, tipis banget. Aku harus pakai beginian, Bang Keenan ada-ada aja sih.”
Tadi siang Keenan mengirimkan pesan untuk Nana agar dia bersiap dan mengenakan salah satu koleksi miliknya. Saat masih ragu memilih yang mana, tiba-tiba tangan Keenan sudah mengalung di perutnya dan pundak menjadi tumpuan wajah Keenan.
“Pakai yang warna hitam.”
"Eh," Nana memekik kaget.
"Pasti akan lebih seksi kalau kamu pakai warna hitam," usul Keenan.
__ADS_1
“Tapi aku malu, lihat ini sih baju kurang bahan.”
Keenan berdecak. “Memang didesain seperti itu, biar terlihat tubuh kamu semakin seksi dan menggoda.” Keenan melepaskan pelukannya, “Aku mandi dulu, tunggu di ranjang,” ujar Keenan sambil mengerlingkan matanya.
Hampir sepuluh menit. Keenan sudah kelar dengan urusan mandinya, keluar dari toilet hanya mengenakan handuk tapi tidak menemukan Nana di ranjang.
“Nana,” panggil Keenan.
Nana keluar dari walk in closet, Keenan menghela nafasnya melihat Nana yang berjalan ragu-ragu. “Kemarilah!” titah Keenan. Menatap wajah istrinya yang mengenakan kimono tidur menutupi lingerie yang dipakainya.
Perlahan Keenan menarik tali kimono yang dikenakan Nana dan melepaskannya. “Abang, aku malu,” ujar Nana sambil berusaha menutupi bagian tubuh yang terekspos karena lingerie yang dipakainya memang memperlihatkan bentuk rubuh.
“Ssttt,” ujar Keenan lalu meraih tubuh Nana dan merebahkannya di atas ranjang. Mengungkung tubuh Nana lalu merapatkan tubuhnya dan melakukan pagutan. Gerakan yang awalnya lembut berangsur menjadi panas karena Keenan yang sudah terbawa suasana dan diliputi g@irah.
Miliknya sudah terasa mengeras menempel pada tubuh Nana. Nana mengatur nafasnya yang terengah ketika Keenan melepaskan pagutannya.
Srek. Keenan melepaskan penutup tubuh Nana dengan merobeknya. Tatapannya terlihat sendu karena hasr*t yang sudah tidak dapat dibendung. Menyentuh dan meraba tubuh Nana dengan tangannya membuat Nana terasa tersetrum karena sentuhan Keenan hampir di seluruh bagian sensitif di tubuhnya.
Keenan merasa Nana sudah membuatnya mabuk hanya demgan menatap tubuhnya. Dia tidak bisa berpikir jernih atau memikirkan hal lain. Rasanya hanya ingin tubuh itu dan memangsanya.
Kembali merenggut kebebasan bibir Nana lebih kasar dari sebelumnya. Tangan mereka saling mencengkram sedangkan tubuh masih menempel erat.
Tangan kanan Keenan kemudian meraba bagian bawah tubuh Nana
Keenan menatap Nana, seakan mengatakan kamu milikku hanya milikku. Sejak Keenan mengucapkan kalimat yang membuat hubungan keduanya menjadi halal baru kali ini posisi mereka sangat intiim. Keenan yang terang-terangan mengatakan sudah membuka hatinya tapi tidak memaksa Nana untuk menyerahkan segalanya. Tidak memaksa tapi menahan. Menahan gejolak dan hasr*t yang muncul ketika mereka berada disituasi yang begitu dekat.
Keenan terus menggerakan jarinya, Nana memekik karena nikmat lalu melentingkan tubuhnya. Nana bergerak untuk melepaskan bibirnya dari hissapan Keenan. Gerakan tangan Keenan semakin membuat geli dan membuat tubuh Nana mengeluarkan sesuatu yang tertahan.
"A-abang ...aku ....."
"Nikmati sayang, jangan ditahan."
__ADS_1
Tubuh Nana mengejang lalu bibirnya melenguuh panjang,
\=\=\=\=\= belum berhasil ya,, lanjut maleman 🤣🤣