
Sudah hampir dua bulan pernikahan Keenan dan Nana, keduanya terlihat semakin dekat dan semakin mesra. Nana sering menemui Keenan di Hotel. Entah itu saat jam makan siang atau menjelang berakhirnya jam kerja.
Pernikahan mereka terjadi bukan diawali karena rasa saling mencintai. Cinta mereka tumbuh setelah pernikahan walaupun Keenan merasa ada benih cinta menjelang pernikahan mereka. Seperti saat ini, Nana yang diantar supir turun di lobby Two Season. Para petugas yang mengetahui siapa Nana menunduk dan menyapanya.
Hanya satu orang yang berada di meja resepsionis yang terlihat angkuh dan menatap datar pada Nana. Siapa lagi kalau bukan Bunga. Mantan sekretaris Eltan yang awalnya ditunjuk menjadi sekretaris Keenan, saat ini hanya bertugas sebagai resepsionis karena ulahnya bertingkah dan menghina Nana. Terlepas dari latar belakang keluarga Nana, yang dilakukan oleh Bunga tetap salah.
Keenan masih memberikan kesempatan dengan tidak memecat Bunga, menurunkan jabatannya menjadi staf resepsionis. Jika wanita itu tidak berulah dan memperlihatkan kinerja yang baik, ada kesempatan untuknya menjadi staf manajemen.
“Selamat Sore, Ibu Janela,” sapa para pegawai hotel yang bertemu dengan Nana.
Nana menjawab, atau mengangguk dengan senyum. Saat menunggu lift Nana bertemu dengan Jeff. “Anda mau bertemu dengan Pak Keenan?” tanya Jeff tanpa ekspresi apapun.
Nana menghela nafasnya. Heran, ini orang kaku amat sih. Wajahnya itu loh, datar banget, interaksinya jadi gimana ya, batin Nana.
“Iya, masa mau bertemu Pak Jeff. Nggak mungkin dong,” sahut Nana.
“Pak Keenan tadi baru selesai meeting.”
“Hm.”
Kini Nana dan Jeff berada dalam lift menuju lantai dimana kantor Keenan berada. Jeff membuka pintu ruang kerja Keenan mempersilahkan Nana untuk masuk. “Silahkan.”
“Hm.”
“Hai sayang,” sapa Keenan yang menoleh sekilas lalu kembali fokus pada layar monitor. Nana menghampiri Keenan dan berdiri disamping suaminya.
“Masih sibuk?”
“Sedikit lagi kok. Kemarilah,” pinta Keenan menepuk pangkuannya.
“Apaan sih. Ini dikantor tau.” Nana melihat ke arah pintu yang tertutup rapat, sepertinya Jeff sudah mengantisipasi jika atasannya akan melakukan hal yang tidak biasa dengan istrinya.
“Yang bilang ini di mall, siapa.” Keenan menarik tangan Nana, membuat gadis itu memekik saat terduduk di atas pangkuan Keenan. Nana mengalungkan tangannya di leher Keenan, sedangkan Keenan membenamkan wajahnya bagian depan tubuh Nana.
“Abang, ihh geli.” Saat Keenan mendusel-dusel di sana. Keenan hanya tertawa karena Nana yang berontak saat tangannya menggelitik pinggang ramping tubuh wanita yang berada di atas pangkuannya.
Nana memilih beranjak bangun saat Keenan berhenti menggodanya lalu menuju sofa. “Aku tunggu sini aja. Abang nakal kalau dideketin.”
Keenan hanya tersenyum lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. “Tunggu sebentar, ini hampir selesai.”
“Hm.”
...***...
Keenan dan Nana sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan. Keenan yang sudah melepaskan Jas dan dasinya, dengan lengan kemeja yang digulung sampai siku. Berjalan dengan merangkul pundak Nana sedangkan tangan Nana memeluk lengan Keenan.
Sesekali keduanya tertawa karena Keenan menggoda istrinya. Menuruti keinginan Nana yang ingin berkencan dengan mengunjungi mall, hanya sekedar makan di food court dan berbelanja pakaian. Nana sengaja memilih piyama couple untuk mereka berdua, Keenan hanya mengangguk melihat pilihan Nana. Untung piyama, nggak kebayang kalau yang dibeli Nana pakaian outdoor, batin Keenan.
__ADS_1
Barang belanjaan mereka dibawa oleh orang yang memang mengawasi dan berjalan agak jauh dari posisi mereka saat ini. “Eh, Abang. Itu bukannya pak Jeff ya?”
Keenan memastikan pandangannya. “Iya.”
“Pak Jeff bersama siapa, Abang kenal?” tanya Nana lagi.
“Nggak, aku tidak mengenal keluarga atau orang terdekatnya.”
Jeff berjalan di apit oleh dua orang wanita. Sebelah kiri Jeff, wanita paruh baya seumuran dengan Elang sedangkan yang berada di kanan Jeff terlihat seumuran Kyra.
“Menurut aku itu ibunya Pak Jeff ya, sama pacar atau calon istrinya mungkin. Cantik loh, tapi Pak Jeff itu benar-benar aneh deh.”
“Aneh gimana?” Keenan menghentikan langkahnya, membuat Nana pun melakukan hal yang sama.
“Lihat aja tuh wajahnya. Sudah jelas lagi jalan sama orang yang penting dalam kehidupan dia, nggak ada senyum atau respon kalau diatuh bahagia. Kaku gitu loh,” ujar Nana. “Tadi juga waktu baru sampai di hotel, ketemu dia ya begitu juga raut mukanya.”
“Mungkin sudah settingan pabriknya begitu.”
Nana memukul lengan Keenan. “Dipikir barang elektronik.”
“Sudahlah, kita ke arah lain. Nggak enak kalau bertemu mereka, yang ada Jeff malah sibuk antar kita pulang.”
Sesampainya Keenan dan Nana di rumah, ternyata berbarengan dengan kedatangan Kyra.
Keenan yang baru saja keluar dari mobil sengaja berdiri menunggu Kyra yang sedang memarkirkan mobilnya.
Kyra menutup pintu mobilnya menatap sang Kakak. “Kenapa?”
“Kamu jarang kelihatan, kemana aja sih?”
Kyra menghela nafasnya. “Sibuklah, memang Kak Keenan doang yang sibuk,” jawab Kyra lalu meninggalkan Keenan. Akhir-akhir ini Kyra memang sengaja menyibukkan diri, berusaha mengalihkan pikirannya dan melupakan kejadian bersama Jeff.
“Kak Nana, mana?” tanya Kyra saat Keenan berjalan mensejajarkan diri dan merangkul bahunya.
“Udah duluan, kebelet katanya.”
“Ada tanda-tanda aku mau dapat keponakan belum?”
Keenan menoleh pada adiknya. “Maksudnya hamil?”
Kyra tersenyum sambil menganggukan kepalanya. “Belum. Kamu aja sana punya anak duluan.”
“Mana bisalah, Kak Keenan ngaco deh. Yang sudah menikah siapa yang hamil duluan siapa.”
“Ya bisa aja, kalau kamu udah enak-enak sama cowok kamu. Makanya hati-hati, jangan nginap nggak jelas. Pulang ke rumah.”
Deg.
__ADS_1
Perkataan Keenan barusan cukup membuat Kyra gugup. Apa yang dikatakan oleh Keenan ada benarnya. Wanita bisa saja hamil meskipun belum menikah, kalau dia pernah melakukan hal yang diluar batas. Kyra tiba-tiba teringat siklus bulanannya, akhir-akhir ini dia benar-benar sibuk hingga lupa apakah dia sudah mendapatkan periodenya atau belum.
“Dih, ngelamun.”
“Siapa yang melamun?” tanya Kayla.
“Tuh, putri kesayangan Mama,” sahut Keenan lalu menghampiri Kayla mencium keningnya. “Aku ke kamar ya.” Kayla hanya mengangguk.
“Kamu baru pulang?” tanya Kayla pada Kyra.
“I-iya Mah.”
“Sudah makan?”
Kyra mengangguk lalu menggelengkan kepalanya.
“Kamu bersih-bersih dulu sayang, Mama siapkan makan malam untuk kamu.”
Di dalam kamar, Kyra semakin resah. Dia mengecek aplikasi kalender di ponselnya. “Terakhir tanggal berapa ya, aku lupa. Atau memang belum waktunya.” Kyra duduk di tepi ranjang masih menatap layar ponsel yang menunjukkan tanggal-tanggal.
Memilih melaksanakan niatnya berendam air hangat, untuk merilekskan tubuhnya. Kesibukannya akhir-akhir ini benar-benar membuat Kyra lelah. “Ahhh, nikmatnya,” ujar Kyra saat sudah berada di dalam bathup merendam tubuhnya dengan air hangat dan aroma therapy.
Cukup lama Kyra berada di dalam air, hingga airnya terasa sudah tidak hangat. Membilas tubuh untuk menghilangkan sabun yang masih licin di kulitnya.
Kyra sudah mengenakan piyama dan akan naik ke ranjang saat pintu kamarnya diketuk lalu terbuka dan masuklah Kayla.
“Sayang, Mama tunggu di bawah kok nggak turun-turun.”
“Eh, maaf Mah. Aku baru beres berendam.”
“Ya udah, makan dulu yuk.”
“Tapi aku ngantuk Mah,” keluh Kyra.
“Sedikit aja sayang, badan kamu kelihatan kurus loh.”
“Masa sih?”
Kayla menganggukan kepalanya. “Malah menurut Mama, wajah kamu pucat. Coba periksa ke dokter, khawatir kurang darah. Ya udah, Mama ambil makan untuk kamu dulu. Nggak usah turun, nanti Bibi yang antar.”
Ponsel Kyra bergetar, ternyata ada pesan masuk.
[Gambar]
[Gambar]
Ada dua foto yang diterima, Kyra menghela nafasnya melihat foto yang baru saja dikirim oleh nomor tidak dikenal.
__ADS_1
\=\=\= Foto apa ya?