
Kayla yang melihat Elang menuruni anak tangga, “Mas, Emran kok pergi. Katanya mau pergi bareng Kyra dan Nana?”
“Aku yang minta dia pergi.”
Kayla yang bingung dengan jawaban Elang, mengekor suaminya menuju ruang kerja. “Ada apa sih?”
“Kayla, pastikan putrimu tidak pergi kemana pun sampai aku benar-benar memastikan kalau si bangs*t itu adalah Jeff.”
“Hah, maksudnya?”
Elang memijat dahinya. “Lakukan saja apa yang aku katakan.” Setelah Kayla benar-benar keluar dari dari ruangan tempatnya berada, Elang menghubungi seseorang.
“Hm. Cari tahu siapa sebenarnya Jeff Ryan. Segera!”
Sedangkan di kamarnya, Kyra duduk di tepi ranjang dengan pikiran melayang entah kemana. Berada dalam lamunan bahkan tidak menyadari kehadiran Kayla.
“Sayang, panggil Kayla sambil menyentuh bahu Kyra.
“Mah, aku ….”
“Papa bilang kamu tidak boleh pergi kemanapun.”
Kyra menghela nafasnya. “Mama sebenarnya masih bingung kenapa Papamu bisa memutuskan hal itu, tapi ini pasti untuk kebaikan kamu. Jadi, jangan pernah coba membantah. Istirahatlah,” titah Kayla.
“Bagaimana bisa aku istirahat,” keluh Kyra.
...***...
Menjelang sore, Elang mendapatkan kiriman file berisi identitas Jeff. Membaca perlahan profil dari seorang Jeff Ryan. Mengernyitkan dahinya membaca nama kedua orang tua Jeff. “Sena,” ucapnya.
Elang juga mendapatkan beberapa foto Jeff mulai dari remaja bahkan sampai dengan penampilan saat ini, ada satu foto saat Jeff dan Sena berada di Rumah sakit.
“Sena! Jeff putra dari Sena.”
__ADS_1
Elang pun menghubungi Keenan. “Hm, kamu dimana?”
“Masih di hotel.”
“Tunggu di sana, sampai Papa datang.”
“Oke,” jawab Keenan di ujung telepon.
“Mas, sebenarnya ada apa sih?” tanya Kayla melihat Elang mengganti pakaiannya.
“Ada yang harus aku urus di Hotel, kamu tetap di rumah. Ingat, pastikan Kyra tidak kemanapun.”
Kayla hanya bisa menganggukan kepala tanda mengerti meskipun dia masih bertanya-tanya karena Elang belum menjelaskan detail apa yang akan diurus oleh suaminya dan mengapa bawa-bawa Kyra.
Diantar oleh supir, mobil yang membawa Elang sudah berhenti di lobby. Beberapa staf hotel yang melihat kedatangan Elang tentu saja menyapa dan memberi hormat pada pemilik tempat dimana mereka bekerja. Tidak seperti biasanya, Elang selalu ramah pada para pegawai. Saat ini, dia memasang wajah datar.
“Selamat sore, Pak,” sapa Siska sekretaris Keenan yang diacuhkan oleh Elang.
Brak.
“Ada apa, Pah?” tanya Keenan yang sudah duduk di sofa, sebelah kanan Elang lalu memandang wajah Elang yang terlihat datar tidak dapat diprediksi emosi apa yang sedang dirasakan saat ini.
“Apa Jeff masih ada?”
“Masih. Dia tidak akan pulang kalau aku masih ada di sini.”
“Panggil dia.”
Keenan pun menghubungi Jeff dan tidak lama kemudian Jeff datang. Setelah memastikan pintu ruangan sudah ditutup kembali, Jeff menyapa Elang yang sudah berada di ruangan Keenan.
“Duduklah!” Jeff duduk berhadapan dengan Keenan.
“Ada hubungan apa kamu dengan putriku?” tanya Elang.
__ADS_1
Jeff terperanjat dengan pertanyaan Elang. Apa mungkin mereka sudah tahu, batin Jeff.
"Tidak ada, saya tidak ada hubungan apapun dengan putri anda."
Elang berusaha menekan egonya untuk tetap sabar. "Kalau kamu tidak ada hubungan apapun dengan Kyra, bagaimana bisa dia hamil anakmu Jeff?"
"Apa?" Keenan menatap Jeff. "Benarkah itu Jeff?"
Jeff tertawa, "Apa ini artinya kalian sedang meminta pertanggung jawabanku?"
"Bagaimana kamu masih mempertanyakan hal itu kalau kalian memang pernah ...." ucapan Keenan terjeda.
“Aku harus tanggung jawab?” tanya Jeff lalu terbahak. “Kyra sendiri yang datang padaku dengan keadaan mabuk dan merayu layaknya perempuan jal*ng. Lalu kalian berharap aku akan bertanggung jawab. Tidak akan pernah.”
"Jeff!" teriak Keenan tidak menyangka jika pria yang selama ini mendampinginya adalah pria yang ditutupi oleh Kyra. Pria yang sudah merusak masa depan adiknya.
Jeff mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. "Kalian harus lihat ini baru bisa berkomentar," ujar Jeff sambil meletakan ponsel di hadapan Keenan. Keenan meraih kasar ponsel tersebut tidak lama dia mendengus kesal lalu merangsek meloncati meja dan melepaskan bogem mentah pada wajah Jeff.
"B*jingan kau Jeff. Bagaimana bisa kamu mengabadikan hal itu tapi tidak merasa bersalah telah menghamili adikku."
"Keenan," teriak Elang.
"Dia harus mati, Pah."
Jeff terbahak dengan ujung bibirnya berdarah.
"Apa maumu?" tanya Elang pada Jeff.
"Ternyata anda bukan hanya pria tua yang sabar tapi bijaksana." Entah itu ejekan atau pujian. "Justru aku yang bertanya, bagaimana rasanya ketika harta tidak bisa menyelamatkanmu dari rasa malu, ketika tahtamu tidak berlaku untuk aib putrimu. Tolong tanyakan juga hal ini pada Ibu Kayla."
"Jeff!" Keenan kembali berdiri dengan kedua tangan siap kembali beraksi melakukan kekerasan.
"Woww, aku tidak menyangka kalau pimpinan Two Season saat ini sangat kasar dan ...."
__ADS_1
"Bagaimana bisa Sena memiliki putra sepertimu? Atau memang Sena yang membuatmu seperti ini?