
Keenan menatap ponsel Nana di atas nakas yang bergetar sejak tadi, lalu beralih menatap Nana yang masih bergelung selimut. Fisik Nana sudah pasti lelah, karena ulah Keenan semalam, belum lagi selama di Bali keduanya melampiaskan kerinduan yang terpendam.
“Mommy,” ujar Keenan membaca nama yang tertera di layar ponsel Nana.
Dia ragu untuk menjawab, sedangkan Nana sendiri masih terlelap.
“Halo.”
“Loh, Keenan?” tanya Nena di ujung telepon.
“Iya, Mam. Nana masih tidur,” jawab Keenan menoleh ke arah istrinya.
Terdengar hela nafas di ujung sana, entah karena lega atau kesal. “Kalau kalian sudah bersama, berarti ….”
“Hm, nanti saya sempatkan berkunjung bersama Nana. Kami akan jelaskan langsung, tidak lewat telepon.”
“Oke, Mommy tunggu. Tapi sebaiknya kamu bangunkan Nana, dia seorang istri harus mengurus suaminya. Mana bisa kamu sudah bangun dia masih enak tidur,” tutur Nena.
Keenan hanya terkekeh. Tidak lama panggilan pun berakhir.
Keenan yang tadi baru keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk. Duduk di samping Nana berbaring, menunduk untuk mencium kening Keenan dan mengusap rambut yang terlihat agak berantakan.
“Sayang, bangun.”
Nana bergeming dalam tidurnya, membuat Keenan semakin merusuh di tubuh Nana.
“Lima menit lagi, aku masih ngantuk.”
“Hei, putri tidur. Bangunlah, Mommy barusan telepon.”
Nana langsung mengerjapkan matanya. “Mommy?”
Keenan menganggukkan kepalanya sambil menurunkan selimut yang Nana gunakan, hingga mengekspos bagian depan tubuh Nana.
“Wow, ternyata banyak juga ya,” ucap Keenan melihat banyak jejak cinta di tubuh istrinya. Nana yang baru ngeh lalu menarik kembali selimutnya.
“Apaan sih, lagian ini Abang yang buat.”
“Nanti sore kita temui Daddy dan Mommy,” ajak Keenan.
Nana beranjak duduk sambil menahan selimut. “Mommy minta aku pulang?”
Keenan menelan salivanya menatap kedua bahu mulus Nana, bahkan wajah bangun tidur dan rambut yang agak berantakan tidak mengurangi kecantikannya.
“Nggak, sepertinya dia ingin tahu kejelasan hubungan kita. Nanti temui aku di hotel.” Keenan beranjak menuju walk in closet, memilih setelan yang akan digunakan.
“Abang aja, jemput aku. Jadi aku nggak perlu susulin ke hotel,” usul Nana sebelum dia masuk ke toilet.
__ADS_1
“Nope. Kamu yang ke hotel dan kita berangkat dari sana. Selama ini orang bertanya-tanya kemanakah Nyonya Keenan Sanjaya dan menduga kita sudah berpisah. Jadi kedatanganmu sebagai penjelas pertanyaan-pertanyaan itu.”
“Tapi ….”
“Mandilah!” titah Keenan.
...***...
Nana menghampiri Kyra yang terlihat lemas duduk di sofa mengawasi putranya yang sedang disuapi oleh pengasuh.
“Kak Kyra pucat banget deh.”
“Hm, iya. Aku lemas, dari pagi muntah terus.”
“Kenapa nggak istirahat aja di kamar.”
Kyra menghela nafasnya. Memaksakan tubuhnya yang lemas dan tidak nyaman karena morning sickness yang dialami, agar tetap bisa mendampingi putranya. Walaupun dibantu dengan pengasuh. tidak ingin kehilangan momen perkembangan dari putranya juga khawatir kalau Athar lebih dekat dengan pengasuh dibandingkan dengan ibunya.
“Beres dia makan, aku ajak ke kamar aja deh.”
Dalam hati Nana ingin seperti Kyra menjadi wanita sempurna, merasakan hamil dan melahirkan.
“Kak Nana selama ini kemana saja?” tanya Kyra, dia cukup penasaran dengan kepergian Nana.
“Hm, aku dan Mommy di Singapura.”
“Karena kita sepakat akan bicara setelah aku kembali.”
“Memang laki-laki harus dibuat begitu, ditinggal pergi baru mikir. Jeff baru sadar dia salah waktu aku tinggalin dia dan bilang nggak peduli. Kak Keenan juga gitu, ditinggal Kak Nana baru mikir,” tutur Kyra.
Nana terkekeh, “Iya ya, kalau dipikir kita ini sama. Pernah meninggalkan pria yang kita sayang.”
“Mama juga dulu gitu,” tambah Kayla yang baru saja bergabung dengan putri dan menantunya.
“Gitu gimana Mah?”
“Ya sama seperti kalian, tinggalkan Papa waktu Mama hamil Keenan.”
“Hahh,” sahut Kyra dan Nana serempak.
“Kok bisa?” tanya Kyra.
“Bisalah, itu buktinya Mama lakukan hal itu. Dari Papa kamu nggak tahu Mama hamil, sampai perut Mama besar dia baru bisa temukan Mama.”
“Ah, bener ‘kan. Laki-laki memang nyebelin,” cetus Kyra.
“Sebel tapi anak mau dua,” ejek Elang sambil meraih Athar ke dalam gendongannya. “Ayo, main sama Opa.”
__ADS_1
“Oma ikut,” seru Kayla.
...***...
Nana sudah mengirimkan pesan pada Keenan kalau dia sudah tiba di Two Season, menunggu di mobil dan enggan turun.
“Non, apa sebaiknya tunggu di lobby saja,” usul supir keluarga Elang yang mengantarkan Nana.
“Nggak Pak, saya tunggu di sini saja.”
Tok tok tok
Nana menoleh karena kaca pintu disampingnya diketuk dari luar.
“Pak Jeff,” ujar Nana sambil menurunkan kaca.
“Bu Janela, Pak Keenan minta Ibu ke atas. Beliau masih ada pertemuan dengan klien.”
Nana ingin menolak tapi tidak enak, karena Jeff yang nanti akan mendapatkan omelan dari Keenan. Akhirnya dia berjalan mengekor langkah Jeff.
Akhirnya Nana tiba di lantai di mana ruangan Keenan berada, bahkan melewati meja sekretaris Keenan yang mengangguk dan menyapa istri dari atasannya.
Jeff membuka pintu ruangan, “Silahkan tunggu di dalam, sebentar lagi pertemuannya juga selesai.”
Nana melangkah masuk, menatap sekeliling ruangan. Tidak ada yang berubah, malah dia terkejut ada foto dirinya di meja kerja Keenan. Juga foto pernikahan mereka di dinding dekat pintu yang mengarah tepat ke depan meja Keenan.
“Sayang, sorry kamu lama menunggu,” sapa Keenan yang baru saja datang lalu mencium kening Nana.
“Kita langsung berangkat?” tanya Nana.
“Hm, ayo,” ajak Keenan. Berbeda dengan Nana yang terlihat biasa saja, Keenan terlihat gugup karena akan berhadapan dengan Janu Arsana.
“Abang kenapa? Tangannya kok dingin,” cetus Nana karena telapak tangan suaminya terasa berbeda.
“Owh, nggak.”
Nana mengernyitkan dahinya menatap Keenan, “Abang takut ya?” tanya Nana sambil tersenyum.
“Jelas aku takut, bagaimana kalau Daddy kamu ragu dengan keputusan aku?”
\=\=\=\=
Sambil menunggu up, mampir ke karya teman aku yukkk
__ADS_1