Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Bedrest


__ADS_3

“Abang bercanda, ngeledek aku ya?”


“Eh. Nggak sayang,” ujar Keenan sambil terkekeh.


Wajah Nana berubah muram. “Abang mau kita punya keturunan, tapi aku ….”


“Kamu sedang hamil, Janela.”


Nana bergeming masih mencerna apa yang diucapkan Keenan. Teringat kembali usahanya selama di Singapura agar bisa menjadi wanita sempurna. Bahkan dia siap berpisah dengan Keenan kalau memang suaminya menginginkan keturunan, agar bisa menikah dengan wanita lain.


“Sayang, kenapa melamun?” tanya Keenan sambil duduk di kursi samping brankar Nana. “Aku serius, barusan aku dijelaskan oleh dokter kalau kamu sedang mengandung anak kita.”


“A-aku beneran hamil, Bang?” tanya Nana sambil menatap Keenan.


Keenan menganggukan kepalanya.


“Tapi aku sakit begini, apa nggak beresiko untuk ….”


“Kamu bukan sakit tapi sedang merasakan gejala kehamilan.” Pasangan itu saling berpelukan menumpahkan kebahagiaan, bahkan Nana terisak karena bahagia.


...***...


Sudah dua hari ini Keenan menemani Nana di rumah sakit. Nana sendiri merengek ingin segera pulang, menurutnya dia akan semakin sakit kalau terus berada di rumah sakit.


“Abang, ayo temui dokter. Sampaikan kalau aku sudah sehat,” ujar Nana yang saat ini sedang duduk di ranjangnya. Keenan menyodorkan gelas berisi air karena baru saja selesai menyuapi Nana makan.


“Iya nanti, setelah kamu minum obat.”


Tidak lama kemudian masuklah perawat yang membawakan kursi roda. “Ayo Bu, kita USG dulu. Kalau hasilnya baik, dokter akan mengijinkan pulang.”


Keenan membantu Nana turun dari brankar dan duduk di kursi roda. “Biar saya saja, Sus.” Kemudian mendorong kursi menuju ruangan pemeriksaan yang ditunjukkan oleh perawat tadi.


Sepanjang berjalan Keenan menjadi pusat perhatian para perempuan, hal itu sebenarnya sudah biasa tapi saat ini Nana kesal melihatnya.


“Abang, cepat. Biar aku cepat pulang,” titah Nana.


“Iya, sayang.”

__ADS_1


Setelah berada di ruang pemeriksaan, Keenan membantu Nana berbaring. Perawat melakukan prosedur untuk melakukan USG. Dokter menggerakan alat yang ditempelkan pada perut bagian bawah tubuh Nana sambil menatap layar.


“Hm, umur kehamilannya sudah tujuh atau delapan minggu ya. Normal dan … sebentar. Ini ada dua titik ya,” ujar Dokter. Nana mengeratkan genggaman tangannya, keduanya khawatir dengan apa yang barusan dokter sampaikan.


“Wah, iya ini ada dua kantung. Ini hamil kembar ya Pak, Bu.”


Keenan dan Nana saling tatap tidak percaya. Dokter sudah selesai melakukan USG, Keenan dan Nana duduk di hadapan meja dokter mendengarkan penjelasan dokter


“Melihat riwayat kondisi rahim ibu sebelumya, tolong dijaga baik-baik kehamilannya ya. Jangan capek dan stres, makan pun harus yang benar-benar sehat.”


Nana menganggukkan kepalanya mengerti dengan apa yang disarankan.


“Saya meresepkan beberapa vitamin dan penguat kandungan, agak banyak  ada aturan minumnya. Tolong diikuti dengan baik, karena untuk kebaikan Ibu juga.”


“Saya boleh pulang Dok?” tanya Nana tidak sabar.


“Sabar, sayang," ucap Keenan sambil mengusap punggung Nana.


Dokter terkekeh, “Boleh Bu, lama-lama di rumah sakit juga tidak nyaman ya. Untuk seminggu ke depan, Ibu bedrest dulu.”


“Hati-hati sayang,” ujar Kayla saat Nana turun dari mobil. Bukan hanya Keenan dan Nana yang berbahagia dengan kehamilan Nana tapi juga keluarga Sanjaya dan Arsana, apalagi saat Keenan menyampaikan calon bayi mereka kembar.


Sudah seminggu ini Nana bedrest sesuai arahan dokter, mulai merasakan jenuh ingin bebas beraktivitas.


“Loh, mau ke mana sayang?” tanya Keenan, hanya mengenakan handuk setelah membersihkan diri. Melihat Nana berjalan menuju walk in closet.


“Siapkan keperluan Abang.”


“Aku  bisa sendiri, sayang. Kamu duduk saja di sana.”


“Aku bosan, lagipula nggak berat kok,” sahut Nana. Memilihkan setelan, ikat pinggang bahkan dasi yang akan Keenan kenakan.


“Aku sarapan di bawah ya,” pinta Nana dengan wajah manja sambil memeluk Keenan.


Keenan menganggukkan kepalanya lalu mendaratkan bibirnya di kening Nana. "Disini dong," ujar Nana sambil menempelkan telunjuknya di bibir.


"Bahaya sayang, takut aku khilaf nanti mau yang lain."

__ADS_1


Keduanya turun sambil bergandengan tangan. Sudah ada Elang, Kyra dan Jeff di meja makan.


“Duduk sini, sayang,” ujar Kayla sambil meletakan cangkir kopi untuk Elang. “Ada dua bumil, Mama senang banget deh. Rumah makin ramai sam bocah,” ujar Kayla.


Keenan mengambilkan sarapan untuk Nana. Kyra yang menyaksikan hal itu mengerutkan wajahnya. “Kamu nggak pernah manjakan aku kayak gitu,” ucap Kyra pada Jeff.


Jeff hanya menghela pelan, akan sulit menenangkan Kyra dengan mode merajuknya. “Kamu mau makan apalagi sayang, biar aku ambilkan.”


“Udah telat, udah mau kenyang begini.”


Nana tersenyum sedangkan Keenan masih sibuk melayani istrinya. “Aku bisa sendiri, Bang.”


“Eh, kamu mau ada makan yang lain? Takutnya menu yang ini bikin mual atau tidak berselera,” tutur Kayla pada Nana.


“Nggak Mah, aku nggak mual. Tapi sering pusing dan ngantuk aja.”


“Ngantuk?” tanya Kayla sambil melirik Keenan. “Kamu nggak aneh-aneh ‘kan, Nana masih harus bedrest loh.”


“Apa sih Mah. Aku nggak macem-macem, tanya aja sama Nana. Sudah hampir dua minggu puasa,” ungkap Keenan.


Jeff terkekeh seakan mengejek Keenan.


“Kamu jangan tertawa, siap-siap puasa kayak Kak Keenan,” ancam Kyra pada Jeff.


“Jangan sayang, kamu nggak kasihan sama aku,” bisik Jeff.


“Maaf, didepan ada tamu. Mau bertemu Pak Jeff dan Nona Kyra,” ujar salah satu asisten rumah tangga Elang.


“Siapa Bi?” tanya Kyra.


“Ibu Sena.”


 \=\=\=\=\=mungkin Sena udah insyaf yesss, kesepian dia.


Yuhuuu sambil tunggu update ada info karya temen aku nih. Mampir ya ....


__ADS_1


__ADS_2