
"Kyra," panggil Jeff. Kyra tidak mempedulikan Jeff dan memilih segera masuk ke dalam mobil. "Kyra," panggil Jeff lagi sambil mengetuk kaca mobil yang dikendarai Kyra, tapi tidak dihiraukan malah mobil mulai melaju.
"Shittt, kenapa dia bicara begitu. Ayah dan anak sama-sama sombong. Aku pikir dia akan merengek," keluh Jeff yang langsung bergegas menuju mobilnya sendiri.
Bukannya dia cinta denganku, tapi kenapa dia terlihat menyerah, batin Jeff. Mulai melajukan mobilnya mengikuti mobil yang dikemudikan oleh Kyra. Sempat khawatir dengan pernyataan yang disampaikan Kyra barusan, yang Jeff tahu Kyra adalah perempuan manja tapi keputusan mengenai kehamilan dan masa depan anaknya bersama Jeff memperlihatkan kalau Kyra adalah wanita yang kuat dan tegar.
Ternyata Kyra menuju kediamannya. Jeff khawatir maka memilih mengikuti wanita itu yang ternyata menuju rumah. Saat mobil Kyra memasuki gerbang kediamannya, Jeff terus melaju dan berhenti agak jauh dari kediaman Elang Sanjaya. Perkataan Elang kemarin sudah jelas mencerminkan kalau dia sudah dipecat dari Two Season dan Jeff tidak mempersoalkan hal ini. Hanya
“Halo,” ujar Jeff saat menjawab telepon.
“Dimana kamu Jeff? Bukannya kamu sudah tidak bekerja di Two Season, untuk apa menghilang sepagi ini?”
Jeff menghela nafas sambil memijat keningnya. “Aku ada keperluan, sebentar lagi kembali.”
“Pulanglah, Ibu sudah tidak sabar bertemu dengan Elang dan Kayla, melihat langsung bagaimana wajah pongah kedua manusia itu setelah putri mereka hancur.”
“Kita bicarakan nanti,” ujar Jeff lalu mengakhiri panggilan.
...***...
Beberapa waktu yang lalu saat Kyra meninggalkan rumah. Kayla yang sudah bangun, beraktifitas pagi seperti biasanya. Mengarahkan para asisten rumah tangga sesuai tugasnya masing-masing termasuknya membuatkan sarapan untuk keluarganya.
“Bu, tadi pak satpam bilang Non Kyra keluar. Bahkan sebelum subuh,” ujar salah satu ART.
“Kyra keluar?” Kayla memastikan apa yang barusan dia dengar.
“Kata Pak satpam begitu, Bu.”
Kayla meninggalkan daput dan menaiki anak tangga menuju kamar Kyra. Tidak dikunci dan ranjangnya kosong, Kayla menuju kamar mandi ternyata kosong juga.
“Kyra kemana ya?” tanya Kayla bermonolog. Agak khawatir jika Kyra melakukan hal yang pernah Kayla dulu lakukan, kabur dari rumah saat hamil.
Kayla menuju kamarnya sendiri, “Mas Elang,” panggil Kayla membangunkan Elang yang masih terlelap.
“Hm.”
__ADS_1
“Mas,” panggil Kayla lagi sambil menggoyangkan tubuh Elang.
“Hm,” sahut Elang masih dengan wajah terlelap.
“Kyra nggak ada di kamarnya.”
Elang langsung membuka mata dan beranjak duduk. “Nggak ada gimana?”
“Aku nggak ngerti. Kata Pak satpam, Kyra sebelum subuh pergi keluar.”
Elang bergegas turun dari ranjang. Bahkan tanpa mencuci mukanya dia keluar dari kamar termasuk keluar dari rumah menuju gerbang rumahnya.
Saat ini Elang, Kayla, termasuk Keenan dan Nana sudah berada di meja makan. Masih menunggu kedatangan Kyra sambil menikmati sarapan pagi mereka dengan tidak minat. Berbekal informasi bahwa Kyra mengatakan akan kembali karena hanya ijin ke galeri, Elang belum memerintahkan siapapun untuk mencari Kyra.
“Pah, yakin Kyra benar-benar hanya ke galeri?”
“Entahlah, kita tunggu saja dulu.”
Salah satu asisten rumah tangga Elang berjalan tergopoh-gopoh, “Bu, itu Non Kyra sudah pulang.”
Kyra yang menyadari kalau anggota keluarga sudah bangun dan pasti sudah mengetahui kepergiannya tadi, mau tidak mau dia menuju meja makan.
“Pagi Pah, Mah,” ujar Kyra lalu duduk di samping Kayla.
“Dari mana kamu?” tanya Elang.
“Hm, aku ke ….”
“Ke galeri atau ke apartemen Jeff.”
Kyra berdecak, “Sudah tahu masih nanya.”
Kayla yang sudah mengetahui kalau Jeff adalah ayah dari bayi yang dikandung Kyra pun menghela nafasnya sebelum dia bicara. “Untuk apa kamu ke sana. Apa belum cukup harga diri kamu diinjak-injak oleh Jeff?”
“Ini terakhir aku sengaja temui Jeff. Aku hanya pastikan agar Jeff tidak usah berharap aku akan mengemis tanggung jawabnya. Aku akan besarkan sendiri anakku, terserah Papa mau tetap menampungku atau mengusirku. Aku siap,” tutur Kyra. “Aku permisi ke kamar,” pamit Kyra.
__ADS_1
Nana yang menyaksikan interaksi keluarga suaminya hanya bisa diam tanpa berkomentar apapun. Dalam hatinya ada gundah yang hanya dia sendiri rasakan. Kyra, adik iparnya yang jelas-jelas belum menikah mendapatkan kepercayaan diberikan keturunan. Sedangkan dia sendiri yang jelas sudah menikah dengan Keenan belum ada tanda-tanda kalau dirinya hamil.
Walaupun Keenan sendiri tidak menuntut untuk dirinya segera hamil dan juga tidak mencegahnya. Sepertinya Keenan benar-benar menganut kebahagiaan pernikahan bukan hanya bicara masalah anak atau keturunan.
“Sayang,” tegur Keenan.
“Eh, iya.”
“Kamu kenapa? Kok melamun,” ujar Keenan.
“Nggak, aku hanya ….”
Keenan terkekeh, “Nggak sudah canggung ya. Kamu bisa bantu Mama temani Kyra, dia akan sangat butuh teman karena tidak boleh pergi kemanapun.” Nana hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Nana mengantarkan Keenan. Menunggu dan memastikan mobil yang membawa suaminya sudah melewati gerbang, setelah itu baru dia masuk. Tapi atensi Nana kembali pada gerbang rumah dimana ada sebuah mobil masuk.
Dia menunggu untuk memastikan siapa yang datang. Seorang wanita paruh baya, mungkin beberapa tahun lebih tua dari Mama Kayla turun dari mobil. Berjalan menuju ke arahnya.
“Pagi, Bu. Cari siapa?” tanya Nana.
Wanita itu memandang Nana dari kepala sampai kaki. “Kamu siapa?” tanya wanita itu.
Nana mengernyitkan dahinya. Apa aku salah ya, siapa sih sebenarnya Ibu ini. Aku tanya malah tanya balik, batin Nana.
“Saya Janela, istri dari Abang eh, maksud saya istri dari Pak Keenan.”
Wanita itu kembali menatap menelisik dari kepala sampai kaki Nana. Perempuan ini cantik, cocok untuk Jeff. Kenapa bisa Keenan yang menikahinya.
“Ibu mau bertemu siapa?” tanya Nana lagi.
“Hm, saya perlu bertemu Elang dan Kayla.”
“Maaf saya belum lama tinggal di sini jadi tidak mengenal Ibu. Ibu siapa, biar saya bisa sampaikan pada Mama.”
Wanita itu menghela pelan kemudian berkata, “Sena, sampaikan Sena yang ingin bertemu.”
__ADS_1