Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Dimana Nana?


__ADS_3

“Shittt,” maki Keenan melihat taksi meninggalakn lobby semakin menjauh. Dia yakin, Nana ada di dalam mobil tersebut. Keenan bergegas menuju mobil yang disewa untuk digunakan selama di Bali, berusaha menyusul Nana.


“Kemana kamu, sayang?”


“Bandara,” ujar Keenan langsung menuju Bandara.


Cukup lama pria itu berada di sana, mencari dan menunggu Nana. Yakin kalau Nana pasti pulang ke Jakarta, karena disini dia tidak mengenal siapapun.


Sampai dengan penerbangan terakhir, Keenan tidak menemukan Nana akhirnya dia kembali ke hotel. Keenan berharap Nana sudah berada di kamar mereka, meskipun dalam keadaan menangis dan kacau. Itu lebih baik dibandingkan Keenan harus membayangkan Nana di luar entah kemana.


"Pak Keenan," panggil seseorang. 


Keenan yang mengenal suara itu, malas untuk menoleh apalagi menjawab. Memilih menekan tombol lift dan menunggu.


"Pak, maafkan saya karena membuat Bu Nana salah paham.”


Keenan menghela pelan nafasnya, "Kamu bukan hanya menyebabkan salah paham tapi tidak punya etika. Segera pulang ke Jakarta dan tunggu keputusanku untuk status kamu." Dia berbicara bahkan tanpa menatap Hana.


"Loh kok gitu pak?" 


Keenan memilih masuk ke dalam lift yang pintunya sudah terbuka. "Gunakan lift berikutnya," titah Keenan saat Hana ingin ikut masuk.


“Tapi pak.” Pintu liftnpun tertutup.


Sesampainya di depan kamwr, Keenan bergegas membuka pintu kamar dan mencari Nana.


“Nana … sayang,” panggilnya sambil memusatkan penglihatannya mencari sosok Janela.


Keenan mengusap kasar wajahnya karena tidak menemukan Nana.


“Kamu dimana sayang,” ujarnya. Berulang kali menghubungi ponsel Nana, awalnya tidak dijawab yang meninggalkan nada tunggu tapi sekarang berubah menjadi tidak aktif.


Di tempat berbeda.


Nana yang sejak taksi meninggalkan hotel, menunjuk arah yang pernah dia lewati bersama Keenan kemarin.


“Berhenti di depan, Pak,” titah Nana. Beruntungnya dia membawa tas tangan yang berisi ponsel dan dompet. Setelah menyerahkan lembaran uang pada supir taksi, Nana menatap layar ponsel yang sejak tadi terus bergetar. Panggilan masuk dari Keenan lalu memilih menonaktifkan.


Nana berjalan menyusuri pertokoan kaki lima, membeli beberapa helai kaos dan pakaian santai. Saat ini Nana masih mengenakan dress yang membuatnya tidak nyaman untuk beristirahat.


Nana menatap sekeliling tempatnya berada lalu menuju salah satu hotel. Sengaja memilih bukan hotel mewah, khawatir Keenan menemukannya di sana.


Sampai di kamar, Nana duduk di tepi ranjang meremmas ujung dress yang dia kenakan. Perlahan air matanya menetes lalu terisak.


“Aku benci Keenan Sanjaya,” ujarnya di tengah isakan.

__ADS_1


...***...


Esok harinya, Keenan memerintahkan beberapa orang untuk mencari Nana. Kemudian membereskan semua pakaian dan barang miliknya juga milik Nana, berencana bertolak ke Jakarta sore ini juga kalau tidak menemukan jejak Nana.


Bahkan Keenan juga memerintahkan untuk mengawasi kediaman Janu, berharap Nana pulang ke kediaman orangtuanya.


“Shittt,” maki Keenan lagi-lagi ponsel Nana masih tidak aktif.


Siang harinya, Keenan masih belum mendapatkan informasi apapun mengenai keberadaan Nana di Bali. 


“Apa dia sudah pulang ke Jakarta?”


Keenan akhirnya memutuskan kembali ke Jakarta. Sampai di bandara, dia melihat Hana. Ultimatum Keenan semalam sukses membuat Hana bungkam dan tidak menyapa Keenan. Ternyata Keenan satu pesawat dengan Hana.


“Pak Keenan, maafkan saya pak,” ujarnya dengan nada menyesal. Saat ini Keenan dan Hana berada di lounge menunggu jadwal keberangkatan.


Keenan lagi-lagi mengacuhkan Hana, memilih menepi untuk menghubungi kembali orang yang sedang dalam tugas mencari keberadaan Nana.


Beruntungnya kursi Keenan dan Hana berbeda karena memang kelas yang dipilih berbeda. Jadi selama perjalanan kembali ke Jakarta, Keenan tidak perlu melihat wajah Hana dan tingkahnya.


Bertempat di kamar dimana Nana berada. Wanita itu akhirnya tersadar dari tidurnya. Menyadari saat ini sudah cukup siang, karena Nana bisa memejamkan matanya menjelang pagi.


Mengenakan setelan kaos khas Bali, dia beranjak turun dari ranjang menuju kamar mandi. Menatap wajahnya di cermin, memperlihatkan wajah dengan mata sembab.


“Ya ampun sampai begini mataku,” keluh Nana.


“Semangat Janela, kamu bisa melewati ini semua. Sekarang atau nanti, rasanya tetap sakit.” Terlepas dari kejadian semalam, Nana sadar diri dengan kondisi dan kekurangannya. Mana ada laki-laki yang tetap mencintai istrinya sepenuh hati meskipun sang istri memiliki kekurangan.


Kalaupun ada perbandingannya pasti cukup besar. Tidak mungkin keluarga Keenan akan diam saja atau menerima kondisi Nana yang sulit mendapatkan keturunan.


Berencana pulang ke Jakarta esok hari, karena Nana yakin saat ini Keenan masih mencarinya.


...***...


Sesampainya di Jakarta, tepatnya di kediaman Elang. Keenan keluar dari mobil bergegas menuju kamarnya.


“Sudah pulang?” tanya Kayla tapi diabaikan oleh Keenan karena  bergegas menuju kamar.


Tidak lama Keenan kembali turun dan menghampiri Kayla.


“Mah, lihat Nana?”


Kayla mengernyitkan dahinya. “Kok tanya Mama, dia pergi sama kamu?”


Keenan menyugar rambutnya. “Ada apa? Kalian bertengkar?”

__ADS_1


“Salah paham, Mah.”


“Lalu dimana Nana? jangan bilang kamu tinggalkan Nana?”


“Dia yang tinggalkan aku, mana ponselnya tidak aktif. Aku sudah sebar orang tapi tidak ada kabar juga,” sahut Keenan.


Kayla terlihat panik. “Keenan, bisa-bisanya kamu … bagaimana kalau mertuamu  tahu Nana nggak ada sama kamu.”


“Aku cari ke rumah orangtuanya dulu,” sela Keenan.


“Mama nggak habis pikir, apa masalah kalian sampai bisa begini.”


“Kak Keenan,” panggil Kyra yang masih berjalan pelan menuruni tangga.


Keenan segera menghampiri Kyra, “Ra, Nana ada hubungi kamu?”


“Kak Nana? Nggak ada, justru aku ingin tanya dimana Kak Nana,” seru Kyra. Sejak kemarin sudah tiba di Jakarta dan saat ini Jeff bersama Elang sedang berada di Two Season.


“Aku pergi dulu, Mah,” pamit Keenan.


“Ada apa sih Mah?” tanya Kyra penasaran melihat tampang Keenan yang berantakan.


“Sepertinya mereka tengkar dan Nana pergi.”


“Hahh, masa liburan bertengkar.”


Kayla teringat pagi dimana Nana turun dengan wajah bengkak dan kedua mata sembab. Yakin kalau masalah yang dihadapi Keenan dan Nana masih ada hubungannya dengan masalah sebelumnya. Kayla mengeluarkan ponselnya, apalagi kalau bukan menghubungi Elang dan berniat menceritakan masalah ini.


Sedangkan Keenan baru saja menghentikan mobilnya yang sudah terparkir di carport kediaman Janu Arsana.  Berjalan menuju pintu dan disapa oleh salah satu asisten rumah tangga Janu.


Keenan menunggu di beranda, tidak lama kemudian keluarlah Nena. Wanita yang terlihat mirip dengan Nana, masih cukup muda kalau diukur putrinya adalah Nana.


“Loh Keenan, ngapain di luar ayo masuk,” ajak Nena. “Gimana liburannya? Eh, Nana kemana, kalian nggak bareng?” Pertanyaan Nena barusan membuktikan kalau Nana tidak ada di rumah itu dan semakin membuat hati Keenan panik dan resah.


“Mom, justru aku ke sini mencari Nana.”


“Mencari Nana? Dia nggak ada, beberapa hari yang lalu dia telepon Mommy katanya ada di Surabaya lalu mau ke Bali untuk liburan dengan kamu.”


Keenan menghela nafasnya, “Kemarin kami ada miss komunikasi, Nana pergi. Aku sudah cari tapi nggak ada. Aku pikir dia sudah pulang ke sini,” terang Keenan.


“Jadi kamu belum tahu dimana Nana?” tanya Nena.


“Ada apa dengan Nana?” tanya Janu yang tiba-tiba hadir diantara Nena dan Keenan. 


\=\=\=\= hai, mampir yuk ke karya teman aku, sambil tunggu update

__ADS_1



__ADS_2