Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Menikmati Liburan


__ADS_3

Keenan sudah terbangun lebih lebih awal, tapi tidak tega membangunkan Nana yang masih terlelap. Bahkan saat ini Keenan telah menyelesaikan renangnya tiga putaran dan sedang berada di pagar pembatas memandang laut lepas jauh di sana.


Nana yang memang semalam sulit memejamkan mata akhirnya terlelap menjelang pagi dan membuatnya terlambat bangun. Dia mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya kamarnya. Mencium aroma kopi lalu beranjak duduk setelah memastikan Keenan tidak ada di sampingnya.


“Kenapa nggak bangunkan aku?” tanya Nana menghampiri Keenan yang berada di living room.


Keenan menarik tangan Nana membuatnya duduk di atas pangkuannya. “Tidur kamu nyenyak banget, aku jadi nggak tega bangunkan.”


“Iya, semalam susah tidur. Malah pulas udah pagi.” Nana bersandar di dada Keenan.


“Kita sarapan di bawah ya, tapi ini sudah hampir siang,” ujar Keenan.


“Hm, bentar lagi. Masih mager.”


Keenan mengusap rambut Nana yang masih berada dalam pelukannya. “Kita kemana setelah ini?”


“Terserah Abang, yang penting keluar. Bosan di dalam terus.”


“Ada tempat wisata menarik di sini, setelah ini.”


Nana bergeming karena masih nyaman dengan posisinya. Tiba-tiba teringat dengan ponsel Keenan yang semalam berdering karena panggilan dari Hana, sangat penasaran apakah mereka sudah berkomunikasi pagi ini.


“Semalam ponsel kamu bergetar terus, sepertinya ada panggilan masuk. Sudah dicek belum?” tanya Nana masih dengan posisi nyaman nya. Meskipun sangat antusias menunggu jawaban dari mulut Keenan tapi tidak menampakkan hal itu agar Keenan tidak menyimpulkan Nana terlalu protek atau cemburu.


“Masa? Aku belum lihat ponsel. Coba aku cek dulu, khawatir ada yang penting.”


Nana turun dari pangkuan Keenan dan duduk di sofa. Keenan beranjak ke kamar dan tidak lama kemudian sudah kembali dan duduk di samping Nana dengan wajah fokus pada ponselnya.


Terlihat serius menatap layar ponsel tersebut. “Papah minta Jeff gabung lagi di Two Season,” info Keenan.


“Iyakah, bagus dong.”


Keenan menoleh ke arah Nana. “Bagus?”


“Iya, jadi Abang ada yang bantuin dengan keterampilan yang benar-benar kompeten. Kalau aku lihat pengganti Pak Jeff kurang mahir, makanya Abang sampai harus tiap hari pulang malam terus,” keluh Nana.


“Tapi aku masih kesal karena masalah Kyra. Jelas-jelas dia menolak dan menghina Kyra. Untuk saat ini aku masih belum sreg menerima Jeff. Tapi secara profesional kerja, dia memang bisa diandalkan.”

__ADS_1


Keenan kembali fokus pada ponselnya. Tidak lama kemudian dia menghubungi seseorang. Nana menghela pelan mendengar percakapan Keenan yang ternyata menghubungi Hana. Memang yang didengar oleh Nana, Keenan hanya membahas pekerjaan tapi tetap saja ada rasa cemburu.


Setelah memastikan kalau panggilan yang dilakukan oleh Keenan berakhir, Nana pun beranjak ke kamar untuk mandi karena akan turun untuk sarapan.


Sesuai janjinya, Keenan mengajak Nana berkeliling ke beberapa tempat wisata setelah mereka sarapan. Nana benar-benar bahagia dan melupakan sejenak kecurigaannya pada Hana. Keenan dan Nana kembali ke Hotel menjelang sore dengan tubuh cukup lelah karena seharian berkeliling.


Esok harinya, mereka berencana melakukan hal yang sama.


“Hari ini kita mau kemana?” tanya Keenan. Keduanya masih berada di ranjang setelah pergulatan pagi. Semalam keduanya benar-benar langsung terlelap tanda ada aktivitas lain.  


Nana bergeser dari posisinya berbaring sambil mengeratkan selimutnya.


“Hm,  hari ini aku ingin main di pantai aja.”


“Boleh. Lagi yuk, Yang,” ajak Keenan sambil menaik turunkan kedua alisnya.


“Apa?” tanya Nana pura-pura polos.


“Olahraga.”


Keenan sudah menghempas selimut yang dikenakan mereka lalu mengungkung tubuh Nana.


Keenan sudah mendaratkan ciuman di wajah Nana dam berakhir dengan lumattan pada bibir kenyal dan menggoda.


Bahkan saat ini tangan Keenan sudah asyik berada di dada Nana dan meremmasnya. Pemilik tubuh itu hanya bisa mengeerang nikmat karena sentuhan suaminya. Tidak perlu waktu lama keduanya sudah dalam penyatuan diri dengan Keenan mendominasi gerakannya.


Gerakan yang tadinya perlahan berubah semakin cepat karena semakin tersulut gair@h akibat dessahan yang keluar dari mulut Nana.


"A-bang aku ...."


"Bersama sayang."


Nana meremass sprei dan melentingkan tubuhnya saat berhasil mendapatkan kenikmatan dunia setelah dibuat melayang oleh Keenan.


Begitupun Keenan akhirnya mengeraang sambil meneriakan nama Nana. Nafas keduanya masih memburu, Kenan melepskan tubuhnya dan menjatuhkan tubuh di samping Nana.


Rencana mengunjungi salah satu pantai yang cukup diminati di Bali harus mereka lakukan siang hari karena setelah dua kali penyatuan diri mereka kembali terlelap.

__ADS_1


Hari sudah gelap saat Keenan dan Nana kembali ke hotel. Pakaian yang Nana kenakan sebagian basah karena cukup lama bermain di air. Sandalnya pun hanya dijinjing dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya memeluk lengan Keenan.


Keenan yang memakai celana pendek dan kemeja dengan dua kancing atas terbuka pun tidak berbeda dengan Nana, basah dan kotor karena pasir.


"Besok aku mau foto ya, cari tempat yang lebih menarik," seru Nana saat keduanya sudah berada di lobby.


"Pak Keenan."


Keenan belum sempat menjawab pertanyaan Nana, keduanya menoleh ke arah suara dan berhenti melangkah.


Hana asisten Keenan berjalan menghampiri sambil menyeret kopernya. Terlihat kalau dia baru saja tiba.


"Kenapa dia ada di sini?" tanya Nana lirih.


"Ada pertemuan dengan klien yang harus dia urus."


"Sore Pak Keenan dan Ibu Janela. Maaf Pak, saya sudah menghubungi Bapak sejak siang, ada beberapa hal yang harus saya diskusikan terkait pertemuan besok."


"Ponsel saya di kamar, kamu temui Pak Candra dan konsultasi dengan dia. Karena ini klien cabang Bali, kehadiran saya hanya memastikan semua berjalan sempurna. Laporkan hasil diskusi kalian, ayo sayang."


Keenan mengajak Nana menuju lift.


"Nggak profesional banget, masih aja ngurusin liburan," keluh Hana setelah Keenan dan Nana menjauh.


Nana dan Keenan sudah berada di lift, bahkan sebelum pintu tertutup Nana melihat Hana masih menatap ke arah mereka.


"Kayaknya dia kecewa kamu minta temui Pak Candra," ujar Nana.


"Kecewa kenapa?"


"Hanya perempuan yang tahu, laki mana paham."


"Maksudnya?" tanya Keenan sambil mengernyitkan dahinya.


\=\=\=\= bersambung


Yeyyyy,, ada karya menarik punya teman author, mampir yaaaa

__ADS_1



__ADS_2