
“Sayang, serius aku nanya. Maksud kamu apa tadi? Kenapa Hana bisa kecewa?” tanya Keenan ketika mereka sudah berada di kamar.
Nana memilih bergegas ke kamar mandi dan mengabaikan pertanyaan Keenan, tubuhnya sudah lengket karena keringat dan air laut. Nana sedang berendam dalam bathup sambil memejamkan matanya ketika pintu kamar mandi terbuka dan masuklah Keenan.
“Abang … aku belum selesai.”
Keenan berdecak, “Ya lanjut aja, lagian kenapa malu sih. Aku udah lihat semua, kamu juga sama.” Keenan berada di bawah shower dengan tubuh polosnya, Nana menatap sambil menelan saliva.
Wajar sih banyak yang lirik, bukan cuma wajah tampan doang tapi emang bodynya bikin klepek klepek, batin Nana.
Keenan sudah selesai lebih dulu, “Jangan kelamaan, nanti masuk angin.”
“Hm.”
Tidak lama setelah Keenan keluar dari kamar mandi, Nana beranjak dari bathup dan membilas tubuhnya. Keluar menggunakan bathrobe dan handuk kecil menggulung rambutnya. Tidak mendapati Keenan di kamar, Nana pun mencari keberadaan Keenan.
Keenan duduk di salah satu stool bar yang ada di kitchen island. Dengan secangkir kopi ada dihadapannya. Tapi yang membuat Nana penasaran adalah Keenan terlihat serius dengan ponselnya.
“Aku lapar, Bang. Kita makan di mana?” tanya Nana mengambil cangkir untuk membuat teh.
“Maunya di mana?” tanya Keenan tanpa menoleh.
“Terserah,” jawab Nana.
Keenan meletakan ponselnya lalu mengusap wajahnya. “Na, kalau perempuan sudah bilang terserah itu terasa bagai cobaan hidup paling berat bagi laki-laki.”
“Lebay,” sahut Nana.
Keenan sendiri sedang menyesap kopinya memperhatikan Nana.
“Kamu belum mengeringkan rambut?” Nana menggelengkan kepalanya.
Keenan berdecak lalu menghampiri sang istri dan berdiri di belakang tubuhnya. Membuka gulungan handuk di kepala Nana lalu perlahan mengeringkan surai panjang yang masih basah.
“Jadi mau makan di mana?”
“Hm, ke bawah ya. Aku pengen desert juga,” sahut Nana manja.
“Oke, berpakaian dulu deh. Sambil ini keringkan dengan hair dryer,” titah Keenan.
...***...
Esok hari, Nana dan Keenan tidak berencana kembali berkeliling karena dua hari ini Keenan ada pertemuan dengan klien seperti yang sudah direncanakan sebelumnya.
Setelah sarapan, mereka kembali ke kamar. Keenan mulai sibuk dengan ponselnya, sepertinya mengecek persiapan pertemuan penting tersebut. Nana berada di balkon menikmati pemandangan sedangkan Keenan berada di living room.
Terdengar jelas Keenan yang sedang menerima panggilan telepon.
“Hm. Sudah aku cek, nanti aku ke bawah cek akhir. Banyak komunikasi dengan Pak Candra jangan sampai ada miss komunikasi.”
“Pasti si perempuan itu lagi,” seru Nana yang mendengar Keenan bicara.
“Abang,” panggil Nana yang sudah duduk di samping Keenan bahkan menyandarkan kepalanya pada bahu Keenan.
“Kenapa?”
“Kayaknya abang terima deh usulan Papa, kalau Pak Jeff kembali ke hotel. Abang kesulitan ya, pengganti Pak Jeff nggak kompeten.”
“Semua butuh proses, Hana masih baru jadi ya begitu.”
“Ada limit waktu Bang, iya kali berproses terus.”
“Tapi aku akan pikirkan, usul Papa. Karena kedepannya aku akan sering ke luar kota untuk mengecek cabang, butuh orang yang benar-benar bisa dipercaya,”
Tidak lama setelah percakapan tersebut Keenan bersiap untuk menghadiri pertemuan. Sudah memakai setelan yang disiapkan Nana.
__ADS_1
“Kalau jenuh kamu boleh berkeliling di sekitar hotel tapi hubungi aku dulu,” ujar Keenan.
“Hm, lihat nanti deh,” jawab Nana sambil memperbaiki dasi yang Keenan kenakan. Sebelum pergi, Keenan mendaratkan bibirnya pada kening Nana.
Keenan tidak kembali sampai waktunya makan malam. Menghubungi Nana agar turun dan bergabung untuk makan malam bersama.
Esok harinya, Keenan masih disibukkan dengan urusan pekerjaan dan kembali menjelang sore.
“Nana,” panggil Keenan.
Nana mendengar kehadiran Keenan bergegas keluar dari kamarnya.
“Sudah selesai?” tanya Nana.
“Hm, tapi nanti malam lanjut sambil minum. Biasalah, kadang klien ada yang seperti itu,” sahut Keenan.
“Tapi nggak ada acara ditemenin perempuan ‘kan?”
Keenan terkekeh, “Nggak sayang, walaupun mereka mau seperti itu setelah urusan selesai. Jadi bukan ranah kita lagi. Kamu ikut aja ya,” ajak Keenan.
“Ngapain, nanti jadi pajangan doang.”
“Biar orang tahu kalau aku sudah beristri dan istri aku cantik dan gemesh.” Nana mengaduh karena Keenan menarik hidungnya.
Sesuai dengan titah Keenan, Nana ikut serta dalam pertemuan dengan klien hotel malam ini. Berada di salah satu private room, bahkan di mejanya sudah terhidang beberapa botol minuman yang Nana tahu itu minuman keras meskipun dia belum pernah menyentuhnya.
“Wow, ternyata istri Pak Keenan masih muda dan cantik.”
Keenan hanya tersenyum. Nana tidak banyak berinteraksi karena tidak terlalu paham dengan diskusi yang berlangsung. Ada beberapa orang di ruangan tersebut termasuk Hana yang duduk di sisi kanan Keenan, hadir juga kepala Two Season Bali.
Sepertinya kesepakatan sudah terjadi karena obrolan berikutnya tidak lagi membahas urusan bisnis.
“Sudah punya anak berapa Pak?”
Pertanyaan masalah keturunan cukup sensitif bagi Nana. Karena kemudian masalah itu jadi bahan guyonan para pria dan walaupun bukan tertuju untuk Nana langsung.
“Mbak Hana sudah menikah?”
“Belum Pak, belum ada pria yang mau bikin anak sama saya,” jawabnya para Pria kembali berseloroh.
Nana merasa haus dan meraih salah satu gelas yang ada di meja, saat hendak diminum Keenan malah merebutnya dan mengganti dengan gelas lain.
“Ini alkohol,” bisik Keenan.
Akhirnya pertemuan itu berakhir, entah klien itu ingin melanjutkan kemana bersama rekannya yang ditemani Pak Candra. Sedangkan Keenan mengajak Nana kembali ke kamar.
“Aku mau ke toilet,” pamit Nana.
Setelah dari toilet Nana tidak sengaja mendengar percakapan Keenan dengan Hana.
“Nggak bisa diperpanjang Pak, masa besok saya sudah harus balik ke Jakarta.”
“Kamu disini urusan kerja dan lusa kamu harus sudah kembali ngantor.”
“Yah Pak, jarang-jarang loh saya ke sini. Apalagi semenjak di Two Season makin sibuk.”
Keenan tidak menjawab ucapan Hana.
“Maaf Pak, kalau boleh berpendapat sebaiknya kalau ada pertemuan bisnis Pak Keenan nggak perlu ajak Bu Nana.”
Keenan menoleh, “Loh kenapa, itu hak saya.”
“Betul itu hak Bapak, tapi saya lihat Bu Nana tidak nyaman, khawatir nanti salah paham dengan candaan atau sikap klien. Apalagi Ibu Nana selalu diam saat mendampingi Bapak.”
Apa yang diucapkan Hana diyakini oleh Keenan bahkan sering bersikap aneh setelah mendampingi Keenan atau membahas Hana.
__ADS_1
“Jadi nggak enak ke saya gitu Pak.”
“Itu urusan kamu, selama istri saya tidak terganggu.”
“Kelihatannya Pak Keenan cinta dengan istri Bapak, padahal kalian menikah karena desakan situasi.”
Keenan kembali menoleh ke arah Hana. “Apa maksud kamu?”
“Biasa aja Pak, saya tahu kok Pak Keenan menikah dengan Ibu Nana karena terpaksa. Apa ini alasan Bu Nana dan Pak Keenan belum punya anak.”
Nana yang mendengarkan pembicaraan itu mulai geram. Karena Hana semakin berani dan kurang ajar.
“Memang kenapa kalau kami menikah terpaksa? Kenapa kalau kami belum punya anak? Itu bukan urusan kamu,” teriak Nana.
“Sayang.” Keenan mencoba menenangkan Nana yang sudah berhadapan dengan Hana.
“Ya nggak kenapa-napa Bu, aku kan hanya tanya.”
“Pertanyaan kamu itu lancang. Aku baru ketemu karyawan kurang ajar sama pimpinannya, ya kamu ini. Percuma kamu usaha untuk mendekati suami aku, kamu bukan levelnya,”h ardik Nana.
“Maksud Ibu apa?”
“Kamu tahu maksud saya, nggak usaha berlaga polos.”
“Nana,” panggil Keenan. “Kita kembali ke kamar.”
“Nggak, dia harus diedukasi biar nggak sembarangan bicara dan bersikap.” tunjuk Nana pada Hana.
Keenan berdecak, “Kita ke kamar Nana.”
“Apa urusannya sama dia kita punya anak atau nggak.”
“Ya kasihan aja, CEO istrinya mandul.”
“Hana, diam kamu,” tegur Keenan.
“Kalau aku mandul, kamu mau menggoda Keenan seperti yang kamu maksud tadi?”
“Janela,” panggil Keenan dengan nada tinggi. Kedua wanita didepannya sudah mulai tidak kondusif dan dia tidak ingin kasar.
“Kenapa?” tanya Nana. “Kenapa Abang marah sama aku, dia yang mulai.”
“Hentikan. Kita kembali ke kamar, sekarang.”
“Bagaimana kalau aku benar tidak bisa punya anak?” tanya Nana.
Keenan menyugar rambutnya. “Hana pergilah dan Nana kita ke kamar.” Keenan meraih tangan Nana. Betapa terkejut karena Nana menghempas tangan Keenan.
“Abang ingin punya banyak anak denganku, tapi kenyataannya aku nggak akan bisa kasih satu pun.”
Terlihat Hana tersenyum sinis.
“Aku muak, muak dengan ulah dan omongan dia dan aku sudah sampaikan kenyataannya. Silahkan Abang pikirkan, aku sudah siap kalau pun kita harus berakhir.”
Nana bergegas meninggalkan Keenan, bahkan sedikit berlari.
“Janela,” panggil Keenan. “Shitt,” maki Keenan karena dia menabrak seseorang menghambat langkahnya mengejar Nana.
Di depan lobby ada taksi yang menurunkan penumpang. Nana segera masuk ke dalam taksi setelah semua penumpang turun.
“Jalan Pak, cepat.”
\=\=\=\= Hmm, sabar , tenang, netijen jangan panik. Ingat, konflik Keenan dan Nana bukan karena pelakor.
************************
__ADS_1
Hai hai hai, sambil tunggu kelanjutan Nana Keenan yang makin greget mampir ke karya punya temen author yukkk