Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Pergi Untuk Kembali


__ADS_3

Keenan melajukan mobilnya dengan cepat, menuju kediaman Malik. Baru saja dia meninggalkan kediaman Janu Arsana tapi tidak menemukan Nana di sana. Perjuangan yang sudah dia dan Nana lewati sudah menyikan rasa cinta yang cukup dalam dan dari persoalan ini Keenan menyadari kalau dia tidak peka dan cukup acuh dengan perasaan Nana.


“Shitt, pake macet segala,” ujar Keenan menekan klakson.


Kepadatan jalan membuat mobilnya yang dikendarai tidak berjalan lancar. Keenan harus menghela nafasnya menahan kesabaran.


Saat mobil yang dikendarainya sudah tiba di kediaman Malik, Keenan bergegas menuju pintu dan mengetuknya. “Siang Tante, saya mau bertemu Nana. Tolong tante, ada yang harus kami bicarakan,” ujar Keenan saat Dea yang hadir membuka pintu.


“Nggak bisa begitu, saya harus tanya Nana dulu,” seru Dea.


Sepertinya Alam sedang mendukung Keenan, “Tante, aku mau ke …..” kalimat Nana terhenti ketika melihat Keenan di pintu.


“Nana,” panggil Keenan sambil menghampirinya dan meraih tangan Nana.


“Pergi Bang,” usir Nana.


“Kita bicara dulu, sayang.”


“Nana, Keenan benar. Kalian harus bicara," titah Dea.


Nana berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Keenan. “Sayang, maafkan aku,” ujar Keenan sambil memeluk Nana. Nana bergeming, tidak membalas pelukan Keenan membuat pria itu heran lalu mengurai pelukannya.


Mendudukkan Nana di tepi ranjang lalu Keenan duduk bersimpuh memeluk kaki Nana.


“Abang, bangunlah nggak pantas begitu.”


“Aku sudah bertemu  Om Malik dan sudah mendengar apa yang kamu sampaikan.”


DEG.


Jantung Nana berdebar lebih kencang karena khawatir dengan jawaban atau respon yang akan Keenan utarakan.

__ADS_1


“Jadi abang sudah tahu kondisi aku ‘kan?”


“Kenapa kamu nggak bilang sayang, kenapa harus disimpan sendiri.”


“Aku cari waktu yang tepat dan nggak pernah menemukan kondisi itu. Belum lagi aku khawatir membayangkan respon Abang. Apalagi Abang tidak pernah percaya yang aku sampaikan tentang Hana, membuat aku semakin tidak percaya diri."


Keenan mendaratkan wajahnya pada pangkuan Nana.


“Lupakan dia, itu sudah bukan masalah lagi. Aku sama sekali nggak ada sedikitpun memiliki rasa atau memberi peluang, yang aku lakukan murni profesional. Walaupun dia merasa beda, bukan ranah aku, Na. Sekarang kita bahas urusan kita,” ungkap Keenan.


“Abang sudah putuskan?” tanya Nana tanpa menatap wajah Keenan. Keenan beranjak bangun dan duduk di samping Keenan.


“Putuskan apa?”


Nana berdecak, “Jangan buat aku kesal, Bang. Abang nggak tahu perasaan aku,” keluh Nana.


“Maaf, tapi nggak ada yang akan aku putuskan. Kita masih muda sayang, masih bisa berusaha. Tuhan punya kehendak bukan dokter,” seru Keenan.


Keenan bergeming, benar kata Malik kalau dia harus benar-benar memikirkan dengan benar sebelum memutuskan.


Kenyataannya memang keluarga Sanjaya butuh penerus, seperti saat ini hanya dialah yang meneruskan usaha keluarga. Karena keturunan Sanjaya lainnya memilih profesi lain.


“Nana.”


“Abang ragu … karena Abang ingin punya keturunan ‘kan?”


“Tapi kita masih bisa usahakan, banyak cara Na.”


“Dengan apa? Abang menikah lagi, mencari Ibu pengganti atau … maaf Bang, aku nggak bisa.”


Nana beranjak bangun tapi ditahan oleh Keenan dengan memegang tangannya.

__ADS_1


“Lepas Bang, sebaiknya Abang pulang. Pikirkan lagi apa yang akan Abang putuskan.”


“Janela, come on.”


“Selama Abang berpikir, aku akan pergi bersama Mommy. Semoga saat aku kembali Abang sudah ada keputusan untuk kebaikan kita berdua.”


“Janela, aku cinta kamu sayang.”


“Aku juga, bahkan tidak perlu Abang ragukan,” jawab Nana. “Tapi aku tidak sanggup kalau harus mendengar ejekan atau candaan mengenai anak atau bahkan orang tau kalau kita tidak akan punya anak.”


“Janela, aku ….”


Saat ini Nana dan Keenan saling berhadapan. Nana memperbaiki setelan yang Keenan kenakan, termasuk merapikan tatanan rambut Keenan dengan sedikit berjinjit.


“Abang pulang, pikirkan apa yang tadi aku sampaikan. Aku akan kembali untuk mendengar keputusan Abang.”


“Janela, kita bisa lewati bersama.”


Nana tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada bibir Keenan. Kecu_pan singkat yang Nana berikan seakan menjadi salam perpisahan untuk mereka. Keenan meraih tengkuk Nana dan memagut bibir kenyal Nana yang memang selalu menggoda.


Cukup lama keduanya saling berbagi saliva, bahkan Nana meneteskan air matanya. Keenan menghapus air mata Nana setelah melepaskan pagutannya.


“Saat kamu kembali nanti, aku pastikan kamu masih milikku.”


Nana tersenyum, “Semoga Bang. Aku berharap yang terbaik untuk kita berdua.” Keenan meraih tubuh Nana ke dalam pelukannya.


 


\=\=\= pisah dulu bentarlah, biar makin mesraaa pas ketemu 🥰🥰🥰


Hai,, mau promo lagi nihhhh. Mampir ya ke karya teman akuhhhh, seru loh

__ADS_1



__ADS_2