
Tok Tok Tok
“Sayang, lama sekali?” tanya Keenan.
Nana sengaja mengunci pintu karena tidak ingin Keenan tiba-tiba masuk saat dia membersihkan diri. Tidak menjawab pertanyaan, membuat Keenan semakin penasaran.
“Sayang, kamu sedang apa? Ini masih pagi, jangan dulu mandi.”
“Berisik Bang.”
“Pintunya kenapa dikunci,” ujar Keenan lagi.
Nana bergegas meraih bathrobe yang masih bersih, mengenakannya dan menggulung rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Semakin lama berada di toilet hanya akan membuat Keenan semakin resah dan berisik.
“Ya ampun, Abang apaan sih,” tegur Nana mendapati Keenan berdiri di depan pintu.
“Kamu lama sekali, kenapa mandi sih ini masih pagi,” tukas Keenan sambil meraih tangan Nana agar menjauh dari toilet dan mendudukkannya di tepi ranjang.
“Pakai mandi segala, kalau masuk angin gimana?” Keenan membuat handuk yang menggulung rambut Nana lalu menggosok pelan untuk mengeringkannya.
Nana hanya diam menerima perlakuan Keenan. “Abang lebay deh, aku mandinya pakai air hangat.”
“Kenapa nggak ada hair dryer sih,” keluh Keenan sambil berdecak.
“Ada, di laci toilet. Tapi aku nggak mau pakai, nanti rambut aku kering.”
Keenan masih berusaha mengeringkan rambut Nana sambil terus mengoceh dengan nasehatnya. Nana menyunggingkan senyum mendengar apa yang dikeluhkan Keenan.
“Abang nggak mandi?” tanya Nana ketika Keenan mengakhiri gerakannya dan duduk disamping Nana.
“Nanti saja, kamu mau sarapan sekarang? Layanan kamar saja ya,” cetus Keenan.
“Aku hubungi Om Malik dulu, rencananya kami pulang siang ini.” Nana mengambil ponselnya yang sejak semalam masih berada di tas. Keenan kembali meletakan gagang telepon yang sudah dia pegang mendengar kalau Nana akan pulang siang ini.
“Kamu pulang siang ini?”
“Hm, Abang rencana pulang kapan?”
Keenan belum menjawab karena Nana sedang bicara dengan Malik melalui sambungan telepon.
“Belum tahu,” ujar Nana lalu menatap Keenan. “Ada nih.” Nana menyodorkan ponselnya pada Keenan. “Om Malik mau bicara.”
Keenan hanya bicara pendek, sepertinya menjawab pertanyaan Malik. Selebihnya dia hanya mengatakan, Oke, Baik, menganggukkan kepalanya dan mengucap salam.
__ADS_1
“Om Malik bilang apa?” tanya Nana.
“Dia tanya kapan aku kembali ke Jakarta.”
“Bareng kami ‘kan?”
Keenan menggelengkan kepalanya. “Paling cepat lusa, masih ada yang harus aku kerjakan.”
Nana menghela pelan, raut wajahnya terlihat kecewa. Entah karena tidak bisa pulang bersama atau memang masih ingin tinggal bersama Keenan.
“Kalau sudah kembali ke Jakarta, Abang akan jemput aku?”
“Jemput kemana?”
“Ya jemput terus ajak pulang,” lirih Nana dengan wajah cemberut.
“Ngapain di jemput, kamu ‘kan nggak akan pulang.”
“Hah, maksudnya?”
Keenan terkekeh, lalu meraup bibir Nana dengan tangannya.
“Bibirnya nggak usah begitu, mancing aku hah?”
“Siapa yang memancing, orang aku lagi kesel. Jadi maksudnya gimana? Abang nggak mau jemput aku?”
“Jadi aku tetap disini temani Abang?”
“Hm, memang kamu mau aku ditemani yang lain?”
Nana langsung merubah raut wajahnya. “Cari mati, Bang!”
Keenan terkekeh lalu meraih tubuh Nana ke dalam pelukannya. “Gemes banget sih, kita pindah yuk.” Keenan mengajak Nana untuk kembali ke Two Season, saat ini mereka berada di kamar hotel tempat acara yang mereka hadiri semalam. Letaknya dengan Two Season tidak jauh, mungkin hanya lima menit berkendara.
...***...
Dua hari ni Keenan dan Nana benar-benar memanfaatkan waktu kebersamaan mereka. Entah karena rindu yang masih membuncah atau memang mengganti masa liburan mereka sebelumnya yang berakhir dengan kecewa.
Menghabiskan waktu yang di kamar dengan fasilitas dan pelayanan terbaik. Walaupun sesekali Keenan dihubungi oleh Jeff mendiskusikan beberapa hal.
“Nggak mau ikutan?” ajak Keenan yang baru saja berenang dua putaran di kolam renang private yang ada balkon kamar mereka. Saat ini Keenan memeluk kedua kaki Nana yang menjulur ke air.
“Nggak ah.”
__ADS_1
“Come on, turunlah. Kalau tidak ingin pakaianmu basah, lucuti saja.” Keenan mengerlingkan kedua matanya setelah menyampaikan ide mesuumnya.
Nana berdecak, “Nggak, yang ada aku bukan berenang.”
“Ayolah sayang, kita belum pernah coba di dalam air.”
“Abang, nggak usah aneh-aneh deh,” hardik Nana lalu beranjak bangun dari duduk. Belum berhasil berdiri, Keenan sudah menarik Nana membuat wanita itu terjatuh ke dalam air.
“Keenan Sanjaya,” teriak Nana.
...***...
“Abang, aku takut.”
Keenan menarik nafas panjang. Sejak mereka berada di pesawat kembali ke Jakarta, Nana mengeluhkan masalah ini. Dia sangat khawatir jika keluarga Sanjaya tidak bisa menerimanya. Saat ini keduanya masih berada dalam mobil yang sudah terparkir di carport kediaman Elang.
Bahkan Keenan sudah melepas seatbelt-nya. “Tidak ada yang perlu kamu takuti. Mereka pasti senang melihat kamu sudah kembali.”
“Masa? Papa sama Mama gimana? Hasil pengobatan aku belum tentu berhasil dan ….”
“Janela,” ucap Keenan sambil meraih tangan kanan Nana dan mencium punggung tangan itu. “Percaya aku, sayang. Mereka pun merindukanmu. Jangan persoalkan masalah yang belum terjadi, ketakutanmu kamu sendiri yang ciptakan.”
Nana menatap pintu kediaman Elang yang tertutup rapat. Jujur dia memang merindukan juga keluarga ini, keluarga Sanjaya. Sebelumnya dia diterima dengan baik, tidak pernah merasa asing bahkan diperlakukan seperti anak sendiri.
“Ayo,” ajak Keenan.
Keduanya sudah berjalan melewati ruang tamu. Terdengar gelak tawa juga suara bayi.
“Keenan, kamu sudah pulang. Katanya kamu sudah …. Nana, kamu pulang Nak?” tanya Kayla. Nana berdiri di belakang tubuh Keenan dengan tangan dalam genggaman suaminya.
“Apa kabar Mah, Pah?”
Kayla dan Elang yang sedang memangku Athar menatap menantu yang sudah setahun ini pergi. Kayla menghampiri Nana dan memeluknya. Benar-benar diluar dugaan Nana, menduga kalau dia tidak akan diterima kembali di keluarga itu.
“Kak Nana,” ujar Kyra dengan wajah terkejut, baru keluar dari dapur membawa botol susu. “Kemana aja, aku kangen loh. Udah nggak marah lagi ‘kan? Kak Keenan memang begitu, nyebelin kayak asistennya,” tutur Kyra.
\=\=\=\=\=\= nyebelin tapi pada bucin 😁🥳
Gaesss, mampir ya ke karya baru akuhhhh
- Cinta Aku Menyerah
__ADS_1
- Jerat Cinta Dibalik Dendam
Mampirlah masa nggak 🥰🥰