
Nana duduk di samping Keenan, Kayla dan Elang menatap keduanya. Raut wajah penuh tanya dan butuh penjelasan mengenai hubungan keduanya. Jelas-jelas Nana sebelum pergi, mengatakan butuh keputusan dari Keenan mengenai hubungan mereka ke depan.
Kyra membawa Athar ke kamar, meninggalkan orangtua serta kakak dan kakak iparnya memberikan kesempatan untuk saling bicara.
“Kapan kamu pulang, sayang?” tanya Kayla.
“Beberapa hari yang lalu, Mah.”
Keenan hanya diam, sengaja menggoda Nana dengan kebungkamannya jelas membuat Nana semakin gugup.
“Apa kalian bertemu di bandara atau bagaimana?” tanya Elang.
Nana menoleh ke arah Keenan yang masih saja bungkam, bahkan dia menyenggol lengan Keenan.
“Kenapa?” tanya Keenan sambil menatap Nana.
Nana memasang wajah cemberut. Kayla dan Elang saling tatap tidak mengerti dengan interaksi putra dan menantunya.
“Kami bertemu di Bali,” jawab Keenan singkat.
“Abang,” lirih Nana. Maksud Nana agar Keenan menjelaskan lebih detail tapi kenyataannya Keenan hanya menjawab singkat membuat dia gemas.
“Kami bertemu di pesta relasi Om Malik. Dia yang mengajak aku ke Bali ternyata merencanakan pertemuanku dengan Keenan.”
Kayla menganggukan kepalanya. “Jadi, dua hari kemarin kalian berada di Bali?” tanya Kayla dengan hati-hati, bermaksud membuktikan sesuatu.
“Iya, Mah,” jawab Nana malu-malu.
“Ohhh.” Kayla tersenyum ke arah Keenan. Tanpa mereka jelaskan sudah sangat paham kalau pasangan dihadapannya ini sudah kembali merajut kasih.
“Ya sudah kamu istirahat, Keenan ajak istrimu ke kamar.”
“Hm.”
Nana meletakan tasnya di atas ranjang saat tiba di kamar, lalu menatap sengit Keenan.
“Kenapa?” tanya Keenan sambil mengernyitkan dahinya.
“Benar kata Kak Kyra, abang itu nyebelin. Bukannya bantu aku bicara malah diam aja.” Nana memukuli lengan Keenan membuat pria itu mengaduh sambil terkekeh.
“Seneng aja lihat kamu gugup dan panik. Aku ‘kan sudah bilang, nggak usah pusing dengan Mama dan Papa. Mereka enjoy aja yang penting kita bahagia dan tidak menyalahi aturan.”
“Tau ah, nyebelin.”
“Eh, mau kemana?”
“Tidur,” teriak Nana yang menuju kamar mandi.
__ADS_1
Keenan melangkah ke arah yang sama dikejutkan dengan pintu yang ditutup Nana bahkan terdengar kuncian pintu.
Tok Tok Tok
“Na, buka dong. Kenapa dikunci sih? Kita bisa pakai bareng loh. Na ….”
Tidak ada sahutan hanya terdengar air yang mengalir.
“Apa sih Bang?” tanya Nana setelah pintu dibuka.
“Jangan cemberut begitu, jadi gemes.”
“Abang nggak ke kantor?”
Keenan menggelengkan kepalanya dan mengekor langkah Nana menuju walk in closet. Wanita itu membuka lemari pakaiannya, masih tertumpuk rapi semua pakaiannya. Sepertinya tetapi dibersihkan berkala, sehingga pakaian Nana tetap bersih dan wangi.
Mengambil setelan rumahan, saat hendak berganti Nana menoleh karena Keenan masih berdiri di belakangnya.
“Abang ngapain ngikut aku terus?”
“Takut kamu kabur lagi,” sahutnya.
“Jangan lebay deh. Mau kabur gimana kali, lagi pula sebelumnya aku bukan kabur tapi kasih pelajaran untuk Abang.”
“Aku mandi dulu ya, tunggu aku,” ujar Keenan sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Jeff pulang hampir jam sembilan malam. Tidak ada Keenan membuat pekerjaannya lumayan padat. Membuka pintu kamar, mendapati sang istri sudah meringkuk di ranjang. Segera membersihkan diri sebelum menemui putranya.
“Sayang,” panggil Jeff yang saat ini sudah berganti piyama. Memeluk Kyra dan meninggalkan jejak di kening wanita yang saat ini sedang terlelap.
Jeff beranjak keluar kamar menuju kamar Athar. Putranya pun sudah terlelap dengan nyaman. Mengusap rambut dan wajah bocah yang kehadirannya sempat dia tolak.
Jeff menghela nafasnya, “Tidur nyenyak boy, Papi mau menemani Mamimu.”
“Sayang,” panggil Jeff yang sudah ikut bergabung dengan Kyra di atas ranjang. Memeluk dari belakang tubuh yang berbaring memunggunginya.
Tidur Kyra terganggu karena ulah Jeff yang meniup tengkuk, mencium dan meninggalkan jejak di sana. Bergerak pelan dengan tubuh meremang.
“Papi, apaan sih. Aku ngantuk banget.”
“Gimana hari ini, masih mual?”
“Masih. Makanya biarkan aku tidur.”
“Aku juga mau tidur, memang aku sedang apa.”
Kyra berdecak kemudian berbaring menghadap Jeff dan menahan dada suaminya. “Tidur apaan, kamu tuh bikin resah karena merusuh terus. Geser,” pinta Kyra.
__ADS_1
“Maksudnya gini?”
“Jeff,” pekik Kyra karena saat ini Kyra sudah berada di bawah kungkungan Jeff.
Setelah berhasil mengunjungi dan menyambangi tubuh halal istrinya serta membuat keduanya mendessah nikmat karena berhasil mencapai kenikmatan dunia. Kyra menjadikan tangan Jeff sebagai sandaran kepalanya.
“Kak Keenan sudah pulang, bawa Kak Nana juga.”
“Hahh, serius?”
“Iya, kamu nggak tahu?” tanya Kyra sambil memainkan jarinya di dada bidang Jeff.
“Aku tahu dia pulang hari ini, karena aku yang minta Siska urus tiket dan segala macamnya. Tapi kalau tentang Nana, aku nggak tahu,” sahut Jeff sambil menggenggam jemari Kyra agar tidak kembali bermain di tubuhnya.
“Aku dengar pembicaraan Papa dengan Om Eltan, kamu akan diberikan jabatan ya?”
“Entahlah, aku tidak memikirkan hal itu. Beliau memang pernah menanyakan kesiapan aku untuk posisi tertentu.”
Kyra beranjak duduk menghadap Jeff yang masih berbaring.
“Kenapa nggak bilang sama aku, terus kenapa nggak berusaha untuk lebih baik dari posisi aspri Kak Keenan?”
“Karena aku sayang kalian. Kamu, Athar dan Jeff junior yang masih ada di perut kamu.”
“Gimana sih, kalau sayang kita ya berusaha lebih baik. Ibu Sena juga masih tanggung jawab kamu.”
“Betul,” jawab Jeff yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan Kyra yang memegang selimut menutupi tubuh bagian depan. “Tapi kalau penawaran itu termasuk mutasi, gimana?”
“Maksudnya?”
“Aku dapat posisi bagus tapi di cabang, kamu mau ikut aku pindah?”
Kyra terdiam, membenarkan apa yang dipikirkan oleh Jeff. “Kalau memang harus begitu, mau tidak mau. Istri itu harus ikut bersama suaminya, bukan orang tuanya.”
“Cerdas. Kalau sekarang mau ikut nggak?”
“Kemana? Ini sudah malam,” ujar Kyra sambil mengernyitkan dahinya.
“Surga dunia,” jawab Jeff lalu menarik selimut yang Kyra pegang, membuat tubuh itu terekspos sempurna.
“Jeff Ryan, dasar messum.”
“Kamu di messumin diem aja.”
“Jeff, stop. Aku lelah,” rengek Kyra. Tapi rengekan Kyra tidak didengar oleh Jeff. Pria itu sudah beraksi bergerilya dan menelusuri setiap sudut tubuh Kyra.
\=\=\=\=yuhuu sambil tunggu up, mampir yuk ke karya temam aku
__ADS_1