Kukira Kau Cinta

Kukira Kau Cinta
Penyesalan Sena


__ADS_3

Kyra dan Jeff saling tatap, sebelum akhirnya Jeff berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan. Kyra pun mengekor langkah suaminya. Hubungan mereka dengan Sena memang belum membaik, bukan karena Kyra dendam pada Ibu mertuanya.


“Mas, Sena mau apa pagi-pagi datang ke sini?” tanya Kayla.


“Sudahlah, biar saja mereka urus dulu. Kita jangan ikut campur, kecuali mereka butuh bantuan,” sahut Elang.


Sedangkan di ruang tamu, ada Sena menunggu kedatangan putranya.


“Ibu,” sapa Jeff.


Sena langsung berdiri melihat kedatangan Jeff, bahkan ada Kyra dibelakang Jeff. “Jeff, jangan menyiksa Ibu seperti ini,” ujarnya.


“Menyiksa bagaimana? Mana mungkin aku menyiksa ibuku sendiri, walaupun aku pernah terjerumus karena terpengaruh ucapannya.”


Sena meraih tangan Jeff dan menggenggamnya. “Ibu kangen putra Ibu, tolong jangan abaikan Ibu. Ibu bukan hanya butuh uang kamu,” ujar Sena dengan mata yang berkaca-kaca. “Ibu kesepian Jeff.”


Jeff menghela nafasnya. Selama ini setelah dia menikah dengan Kyra, Jeff hanya sesekali menemui Ibunya. Bahkan itu tanpa Kyra dan belum pernah membawa putranya menemui Sena.


“Temukan Ibu dengan anak kamu, cucu Ibu.”


Sena mengernyitkan dahinya menatap Kyra dengan perut yang sudah membuncit lagi. “Istrimu hamil lagi?” tanya Sena.


Jeff menganggukkan kepala. “Aku ingin punya banyak anak, biar rumah ramai dan mereka tidak kesepian. Seperti aku yang tidak punya saudara.”


Sena menghela pelan, “Maafkan Ibu Jeff, bolehkah Ibu bertemu dengan anak kalian?”


Jeff menoleh pada Kyra. Kyra menganggukkan kepalanya, seakan mengijinkan permintaan Sena. Selama  ini bukan tidak peduli pada Sena, beberapa kali mengajak Jeff untuk bertemu dengan ibu mertuanya tapi Jeff sendiri yang menolak dan melarang.


Jeff tdak ingin istrinya kembali tersinggung atau sakit hati karena ucapan dari Sena. Tapi pagi ini, Kyra melihat ketulusan dan penyesalan dari tatapan Sena.


“Tapi Athar masih tidur,” ujar Kyra.


“Ibu sebaiknya pulang, aku juga harus berangkat. Nanti aku bawa Athar dan Kyra temui Ibu,” usul Jeff.


“Benarkah? Kamu nggak bohong, Jeff?”


“Aku janji, kalau sekarang aku paksa Athar bertemu Ibu dia nggak akan nyaman.”


“Baiklah, Ibu pulang. Jangan kelamaan Jeff, Ibu benar-benar tunggu kehadiran kalian.”


Kyra kembali ke meja makan, untuk menghabiskan makanannya. Nana sendiri sudah tidak terlihat disana, sedangkan Keenan pamit pada Kayla dan Elang sebelum berangkat ke Two Season.

__ADS_1


“Mertuamu sudah pergi?” tanya Elang.


“Sudah, diantar Jeff sekalian berangkat,” jawab Kyra.


“Kalian nggak bertengkar lagi ‘kan?”


“Nggak Mah, malah tadi Ibu Sena kayak yang sedih begitu. Sepertinya dia kesepian ya,” jawab Kyra.


“Mau ngapain dia mencari kalian?”


“Minta Jeff pulang, dia juga menanyakan Athar.”


“Kemarin-kemarin nggak ngakuin anak kamu adalah  anak Jeff, sekarang menyesal terus mau ketemu Athar. Dia sehat?” tanya Kayla dengan emosi.


Elang mencoba menenangkan Kayla. Kyra sibuk mengunyah sambil menyimak kemarahan Mama-nya. Hal yang wajar mengingat bagaimana Kayla dulu menemani Kyra yang hamil tanpa suami bahkan jelas-jelas Jeff tidak mengakui kalau yang dikandung Kyra adalah anaknya.


“Sudah sayang, jangan emosi. Tidak baik untuk kesehatan kamu.”


“Gimana nggak emosi, Mas Elang jangan pura-pura lupa dengan kejadian Kyra dan Jeff. Rasanya mau aku jam_bak rambutnya biar acak-acakan sekalian,” kesal Kayla.


Kyra terkekeh melihat Kayla marah dan emosi.


“Kamu hati-hati Kyra, jangan sampai nanti Athar diambil oleh dia.”


“Terus maksudnya ke sini mau apa?”


“Intinya Ibu Sena kesepian, ahh aku sudah kenyang Mah. Athar sudah bangun kali ya, aku cek dulu deh.”


“Jangan langsung tidur Kyra, masih pagi dan kamu baru habis makan.”


“Siap, Bos,” sahut Kyra.


...***...


“Abang,” ucap Nana membaca nama pemanggil saat ponselnya berdering.


“Halo. Iya Bang.”


“Sayang, kamu sedang apa?” tanya Keenan di ujung telepon.


“Hah, sedang apa?”

__ADS_1


“Hm.”


“Duduk rebahan di ranjang, ‘kan Abang sendiri nggak bolehin aku macam-macam. Padahal udah jenuh di rumah terus.”


“Sabar dong, demi kebahagian kita ke depan.”                                                                  


“Tapi aku mau ke luar. Ke taman atau main sama Athar. Yang jauhan dikit, ke Mall,” ujar Nana.


“Ehh, nggak ada. Itu belum boleh, Janela.”


Nana  berdecak, “Terus kapan dong?”


“Kita tanya dokter ya, besok jadwal kamu kontrol. Sekalian aku mau konsultasi boleh berkunjung atau nggak.”


“Berkunjung kemana?”


Keenan hanya menghela nafasnya ketika Nana tidak nyambung dengan maksud dan kegalauannya.


“Besok juga kamu tahu, kunjungan apa yang aku maksud.”


“Jadi, hari ini aku belum boleh keluar?”


“Belum, sayang.”


“Abang nggak sibuk?”


“Pasti sibuk, mana ada CEO nggak sibuk. Apalagi yang aku pikirkan bukan hanya satu cabang.”


“Ngapain malah telepon aku.”


“Aku kangen.”


“Gombal. Sudah sana kerja dulu, Bye Abang.”


Nana mengakhiri panggilan telepon dari Keenan. “Abang kenapa sih, akhir-akhir ini lebay. Bentar-bentar telepon, chat, video call,” ujar Nana sambil terkekeh. “Aku telepon Mommy deh, siapa tahu Mommy mau datang.”


 


\=\=\=\=\=Keenan sama Jeff udah bucin, iyeee kaaan 🤣🤣


 

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya teman aku, sambil tunggu up bab berikutnya.



__ADS_2