
"Mas bangun yuk. Kita sarapan," ucap Lisa menepuk bahu Mas Ray.
"Arumi udah bangun?" tanya Mas Ray sambil merem melek.
"Belum. Nggak tega bangunin anak kecil," ucap Lisa.
Mas Ray menarik tangan Lisa hingga terjatuh dipelukannya, "bentar boleh ya? Mumpung Arumi masih tidur."
"Mas, udah kelewat batas," ucap Lisa mecoba keluar dari dekapan Mas Ray.
"Ujungnya juga kamu bakal jadi istri aku. Anggap aja kaya pelukan biasa yang pernah kita lakuin pas nangis," bisik Mas Ray ke Lisa.
Lisa mendobrak pelukan Mas Ray lagi namun gagal.
"Ayah, bunda, kenapa malah kalian yang tidur sekasur?" ucap Arumi.
Mas Ray melepaskannya. Lisa langsung menuju Arumi.
"Bunda tadi malam tidur sama Arumi. Tadi pas bunda bangunkan ayah, nggak sengaja jatuh ke kasur ayah."
"Arumi juga pengin sekasur sama ayah dan bunda."
"Bunda maunya sekasur sama Arumi aja. Ayo kita makan, Arumi. Bunda udah laper," ajak Lisa sambil menggendong Arumi menuju luar kamar.
"Eh Lisa. Mas tungguin."
"Ayah bawain Arumi susu ya," ucap Arumi.
"Aku udah laper," ucap Lisa meninggalkan Mas Ray di kamar sendirian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lisa mendudukkan Arumi di kursi anak dan memutarkan film kartun dari ponselnya. Lalu dia mengambil makanan. Sarapan Lisa pagi ini cukup sepotong roti dan air putih. Lisa tidak ingin makan banyak walaupun Hotel Aluna menyuguhkan banyak menu sarapan. Menjelang siang nanti, Lisa akan menghadiri pembukaan cafenya. Di sana pasti makan lagi. Sedangkan arumi meminta nasi goreng dengan telur omelete.
Mas Ray datang membawa susu di tangannya.
"Kamu makan roti aja?" tanya Mas Ray ke Lisa yang sedang menyuapi Arumi.
"Iya. Bakal banyak makanan di cafe."
"Makan yang banyak aja, gapapa kalo kamu gemuk aku tetep cinta.Sini, aku yang nyuapin Arumi. Kamu fokus sama makananmu aja kan udah laper," ucap Mas Ray mengambil piring dan sendok Arumi.
"Kalo kekenyangan mual, mas. Bukan masalah gemuk gak gemuk."
Lisa memakan rotinya yang tersisa setengah karena sudah dia makan sembari menyuapi Arumi. Dia selesai makan, Arumi masih belum selesai.
"Udah selesai. Aku gantiin sini," ucap Lisa.
"Males ngambil makan. Tolong ambilkan aku makan ya sayang," ujar Mas Ray manja.
"Aku balik kamar," ucap Lisa sembari berdiri.
"Iya iya," ucap Mas Ray menarik tangan Lisa dan pergi mengambil makanan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah selesai makan, mereka bersiap-siap menuju Star Cafe. Mas Ray sudah mandi kloter pertama. Setelah itu, dia memandikan Arumi. Lisa memilih mandi paling akhir karena pakaian yang akan dia kenakan terlihat kusut. Dia memutuskan untuk menyetrikanya.
"Lisa, tolong ambilkan handuk buat Arumi," teriak Mas Ray. Lisa mengatur suhu setrika menjadi kecil, berlari menuju koper Arumi. Setelah menemukan handuk langsung memberikan kepada Mas Ray dan kembali menyetrika.
"Ayah, Arumi mau pakai baju pink yang ayah belikan," ucap Arumi saat keluar dari kamar mandi.
"Bunda mau pakai nggak? Kalo ayah sih mau pakai. Masak Arumi sama ayah aja yang pakai kalo bunda nggak mau," ucap Mas Ray sambil tersenyum.
"Ayo, bunda. Kita pakai baju itu. Bunda bawa kan?" ujar Arumi.
"Ayo bunda," ucap Mas Ray.
"Maafin bunda ya Arumi. Gimana kalo kita pakainya besok aja? Hari ini ada acara pembukaan cafe bunda kan, bunda nggak biasa pakai sweater di acara resmi," ucap Lisa.
"Arumi maunya sekarang, besok kan kita pulang," ucap Arumi.
"Ayo bunda jangan kecewain Arumi," bujuk Mas Ray sambil tersenyum.
"Iya. Bunda pakai."
"Horeee," teriak Arumi dan Mas Ray bersamaan.
Outfit yang sudah Lisa siapkan dari rumah untuk pembukaan cafe tergeser oleh keinginan Arumi. Sweater pink berpadu dengan rok putih berlayer, sekejap menjadi kostumnya dalam peresmian. Sedangkan Arumi mengenakan sweater yang sama dan rok betutu berwana senada. Hanya Mas Ray yang merasa kurang percaya diri karena jarang mengenakan pakaian pink walaupun dia antusias memakai baju kembar.
"Lisa, jangan mandi dulu. Cocok nggak mas pakai baju pink dan celana putih gini?" tanyanya saat Lisa hendak masuk kamar mandi.
"Bagus nggak sih?"
"Bagus. Tapi lebih bagus kalo kamu pakek tas dan sepatu pink juga," ucap Lisa yang masuk ke dalam kamar mandi.
"Ngeselin. Tapi gapapa kamu udah bilang bagus tingkat pedenya mas jadi bertambah," teriak Mas Ray.
Setelah mandi, Mas Ray dan Arumi yang menonton televisi, masih menunggu Lisa memakai make up. Untung mereka sabar dan mengerti kalau dia harus dandan terlebih dahulu. Selesai make up Lisa menata rambutnya menjadi half bun.
"Arumi rambutnya mau bunda bikin kaya gini nggak?" Tanya Lisa ke Arumi.
"Mau bundaaaa," ucap Arumi langsung menuju ke Lisa.
"Ayah mau dong di tata bundackaya siapa tuh, Ji Chang Wook ya?" ucap Mas Ray menggoda Lisa.
"Suruh mahasiswamu yang ngomong kaya gitu sana," ucap Lisa yang sibuk menata rambut Arumi.
"Ada yang cemburu," ucap Mas Ray.
"Arumi, bunda cantik nggak?" Tanya Lisa ke Arumi.
"Bunda sangat sangat sangat cantik."
"Makasih jawabannya sayang," ucap Lisa tersenyum ke Arumi. "Kata Arumi kan aku cantik, nggak perlu Ji Chang Wook gadungan, yang asli mah pasti dapet," sambungnya.
"Ya udah. Banyak kok yang deketi mas bahkan temenmu ada, tinggal pilih," ucap Mas Ray.
__ADS_1
Lisa tidak menjawab tapi dadanya tertusuk mendengar ucapan Mas Ray. Sakit sekali. "Tuhan, aku benar-benar jatuh cinta? Apa seperti ini rasanya sakit hati saat jatuh cinta? Bukan lagi soal kecewa tapi patah berkeping-keping. Lantas, apakah Mas Ray menanggapi mereka yang mendekatinya?" ucap Lisa dalam hati sambil menahan tangis, "mama, apakah cinta pertama Lisa akan berakhir tragis?" sambungnya.
Seusai menata rambut Arumi, mereka berangkat. Mas Ray dan Arumi beberapa kali mengajak Lisa mengobrol. Dia hanya menjawab sepatah dua patah kata sampai mereka kembali dari acara peresmian yang berjalan lancar hari ini. Lisa terpaksa menyuguhkan senyum terbaiknya selama acara. Banyak pelanggan berdatangan terutama para subscriber yang antusias bertemu dengannya. Baju pink kembaran mendapat sanjungan banyak orang dan bertanya alasan Lisa menikah diam-diam padahal terlihat keluarga kompak dan serasi. Lisa hanya tersenyum. Mas Ray terlihat sangat bahagia mendengar semua ucapan orang hari ini. Arumi masih kecil. Belum mengerti bahwa Lisa bukan bundanya yang sesungguhnya.
Matahari terbenam, Arumi sudah tidur duluan karena capai seharian di Star Cafe. Lisa sudah menghabiskan waktu satu jam lebih di kamar mandi. Mas Ray, berulang kali mengetuk pintu namun hanya dia jawab singkat. Air matanya tumpah ditemani gemericik air dari shower. Trauma itu benar-benar menyerang ingatannya. Lisa benci mempunyai ingatan yang buruk. Rasanya menjadi bayi lebih mengasyikan bukan? Tidak perlu paham betapa kejamnya dunia ini.
"Lisa, cepat keluar atau mas dobrak," ucap Mas Ray dengan nada meninggi setelah kesabarannya hilang.
"Nanti," ucap Lisa yang mulai kedinginan karena tidak memakai air hangat.
"Lisa, jangan bikin mas khawatir. Arumi lagi tidur, jangan sampe mas bikin dia bangun," ucap Mas Ray mencoba meredakan amarahnya.
Lisa hanya diam.
"Mas, kasih kamu waktu 10 menit lagi, kalo kamu nggak keluar, mas beneran dobrak. Terserah kamu mau bikin keributan di depan Arumi atau nggak."
Tidak ada 10 menit Lisa keluar dari kamar mandi dengan mata sembab dan kedinginan. Mas Ray langsung memeluknya.
"Jangan gini lagi ya. Mas takut," ucapnya sambil menuntun Lisa duduk di sofa.
Mas Ray mengambil selimut dan memakaikannya ke tubuh Lisa.
"Kenapa? Negatif thinking lagi?" tanya Mas Ray sambil memeluk Lisa.
Lisa hanya diam. Mulutnya belum mampu berbicara karena kedinginan. Badannya benar-benar menggigil.
"Ya udah. Nggak perlu cerita. Kali ini mas tanya dan kamu tinggal geleng dan anggukkan kepala ya?"
Lisa tetap diam.
"Cemburu gara-gara ada banyak yang mendekati mas?"
Lisa menggelengkan kepalanya padahal hatinya sakit terutama saat tau ada temannya menyukai Mas Ray sampai berani mendekati.
Mas Ray tersenyum, "Lisa, mas sayang banget sama kamu," peluknya erat.
"Lisa takut," ucapnya perlahan membuka suara.
"Jangan takut ya. Mas tahu ada ketakutan dalam diri Lisa yang nggak bisa Lisa ceritakan. Tapi mas cuma bisa mohon, lawan ketakutan itu. Lisa harus percaya kalo mas bener-bener sepenuhnya sayang Lisa. Terus kalo emang tadi kamu nangis ada kaitannya sama mas, aku minta maaf ya."
"Nggak perlu minta maaf. Lisa yang bikin mas khawatir."
"Berbaring di kasur yuk. Capek," ajak Mas Ray sambil menggendong Lisa.
"Masss," ucap Lisa.
"Udah diem," ujar Mas Ray membaringkan Lisa di kasur single bed karena tidak ingin mengganggu Arumi yang sedang terlelap. Dia mengambil posisi tidur di samping Lisa.
"Mas sempit," ucap Lisa.
Mas Ray mengabaikan perkataan Lisa dan memeluknya, "kadang mas penasaran, tetakutan apa yang membuat Lisa seperti ini. Lisa jangan merasa sendiri dengan ketakutan itu ya? Ada tubuh Lisa yang mau bantu melawannya, kalo perlu ajak mas buat melawannya juga," ucap Mas Ray melepas pelukan dan melihat wajah Lisa.
Ternyata Lisa tertidur dalam dekapan Mas Ray. "Calon istriku tidur aja cantik. Selamat tidur sinarnya mas.Makasih udah mencoba dekat dengan mas padahal ada ketakutan dalam diri Lisa. Maaf kalo mas belum bisa jadi sosok yang buat Lisa bahagia selalu. Jangan merasa takut terus ya? Mas, selalu sayang dan akan terus ada buat Lisa," ucap Mas Ray sembari mencium kening Lisa lalu membiarkan Lisa tidur nyenyak di kasur single bed yang sempit itu.
__ADS_1