
Hari wisuda tiba. Mas Ray melarangnya menggunakan sepatu ber hak tinggi. Khawatir rawan jatuh.
"Sayang, pokoknya aku mau pakek heels. Nanti aku keliatan pendek," ucap Lisa ngambek.
"Sayang, mas nggak ngebolehin kan demi kebaikan anak kita. Mas, belikan kamu sandal selop sebagus ini nggak mau dipakai?" ucap Mas Ray mengangkat sandal selop berpayet tanpa hak yang masih baru itu.
"Nggak mau. Lisa boleh pakai heels 5 cm waktu kita nikah ya? Kan itu nggak terlalu tinggi," ucap Lisa memohon kepada suaminya.
"Kalau kamu capek dan kenapa-napa mas yang khawatir."
"Janji Lisa bakal jaga diri kok mas. Toh, mas kan ada di dalam gedung juga," ucap Lisa tersenyum.
"Terserah sayang saja mau pakek apa. Mas udah berusaha ingetin kamu yang penting," ucap Mas Ray pasrah. Selama hamil Lisa lebih ngotot tiap kali mempunyai keinginan.
"Oke sayangku. Makasih ya," ucap Lisa mengecup bibir Mas Ray setelah itu menghapus lipstik yang menempel di bibir suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lisa terlihat sangat cantik dengan kebaya modern full payet dengan sepatu heels yang ia inginkan. Mas Ray berkali-kali memuji kecantikan istrinya. Rencananya ayah, bunda, Arumi, mama, dan papa akan datang mepet acara wisuda selesai.
"Can nanti kalo mau naik panggung tolong pegangin gue ya," ucap Lisa kepada Alika. "Terus minta tolong pas turun pegangin gue ya, Sus," ucap Lisa pada susi. Absen mereka atas bawah sehingga duduk bersebelahan.
"Iya. Mas Ray chat gue dan minta tolong ke Susi juga, can buat jagain lo pas prosesi wisuda nanti."
Lisa tersenyum. Walaupun tidak sependapat dengan Lisa, suaminya memastikan keamanannya.
Alika membantu Lisa saat naik. Kemudian saat turun Susi yang absennya lebih dulu menunggu Lisa sampai turun. Lisa melirik Mas Ray yang duduk di bangku dosen dan sedang mengabadikan momen wisudanya sembari tersenyum. Dia ingin berbicara bahwa tak perlu khawatir kepada suaminya itu.
"Mahasiswa lulusan terbaik program studi S1 Kebidanan, Lisa Gresila dengan IPK 3.97," ucap MC wisuda saat mengumumkan nama mahasiwa lulusan terbaik.
Perjuangan Lisa 3 setengah tahun ingin menjadi lulusan terbaik tidak sia-sia. Ucapan selamat teman-teman yang duduk di dekatnya membanjirinya.
"Can, lo mau gue bantu naik nggak?" tanya Alika.
"Nggak usah deh, can. Anak tangganya nggak sempit jadi lebih aman," ucap Lisa.
Lisa meninggalkan kursinya menuju panggung. Dia tahu saat-saat seperti ini pasti Mas Ray khawatir. Lisa menaiki anak tangga pertama. Aman. Anak tangga kedua aman. Anak tangga ketiga tiba-tiba kakinya keseleo dan akan terjatuh. Tangan seseorang menopang tubuhnya yang hampir terjatuh. Lalu menggendongnya.
"Mas," ucap Lisa sembari meringis kesakitan.
__ADS_1
Bukan hanya suaminya yang khawatir melihat kejadian tersebut. Teman-temannya dan dosen yang tahu dia hamil merasakan hal itu juga. Untung Lisa tidak terjatuh ke lantai. Mas Ray dengan sigap menopang tubuhnya. Kalau tidak pasti dia akan mengkhawatirkan kondisi janinnya.
"Boleh minta tolong angkat kursi ke atas mas?" ucap Mas Ray kepada salah satu mahasiswa BEM yang terlibat dalam kepanitiaan wisuda.
"Iya pak, saya ambilkan."
"Mas, bantu aku jalan sampai atas. Aku usahain kuat berdiri kok," ucap Lisa yang masih kesakitan.
"Duduk saja. Nggak usah dipaksakan kalau sakit. Kamu masih menunggu pembacaan mahasiswa berprestasi prodi lain juga," ucap Mas Ray.
"Mohon maaf harus menunggu sejenak atas kejadian tidak terduga ini. Sekalian izin menjelaskan para hadirin sekalian agar tidak timbul pikiran negatif, dosen kami Pak Ray William merupakan suami dari Lisa Gresila," ucap MC karena semua orang di gedung belum tentu tahu mengenai hubungan suami istri antara dosen dan mahasiswa itu.
"Lanjutkan aja," ucap Mas Ray ke MC. Walaupun lokasi cukup jauh namun MC tersebut bisa membaca gerakan mulut Mas Ray. Acara pun dilanjutkan.
"Mas turunin akua aja. Malu diliat semua orang," ucap Lisa saat Mas Ray bersiap membawanya ke atas panggung dengan posisi digendong.
"Udah gapapa," Mas Ray tetap berjalan ke atas panggung. Tak peduli perkataan istrinya.
Lisa duduk di kursi.
"Kuat kan?"
"Nanti mas perban dan kompres. Tahan dulu sakitnya yang."
"Iya mas."
Mas Ray turun dari panggung. Lisa mengusap perutnya, "maafkan bunda ya nak tidak hati-hati. Untung ayah selalu ngejaga kita," batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mas Ray membantu Lisa melakukan peegangan kaki lalu memperban kakinya selesai acara wisuda.
"Perutmu nggak sakit kan yang?" tanya Mas yang membantu Lisa berjalan menemui ayah, bunda, papa, mama, dan Arumi yang ada di luar gedung. Dengan sabar dia membantu Lisa yang pincang dan tidak mau digendong.
"Nggak kok yang. Makasih ya," ucap Lisa.
"Iya. Kadang yang kamu mau belum tentu terbaik buatmu, yang. Lain kali, kalo ada saran atau penolakan dari mas dipertimbangkan dulu baiknya apa buat kamu."
Lisa mengangguk.
__ADS_1
"Bunda kenapa?" tanya Arumi saat mereka tiba sembari memeluk Lisa.
"Iya, Lisa kenapa Ray?" tanya papa.
Wajah keluarganya terlihat panik.
"Terkilir. Nggak perlu khawatir. Sehari atau dua hari pasti nyeri kakinya hilang kok," ucap Mas Ray yang selalu menenangkan orang lain dan menanggung kekhawatirannya sendiri.
"Sampe jatuh nggak?" tanya bunda.
"Nggak kok bun. Ada Mas Ray tadi jadi dedek aman," ucap Lisa mengusap perutnya.
"Musibah nggak ada yang tau datengnya kapan. Momen bahagia anak mama wisuda malah kakinya sakit," ujar mama.
"Gapapa, Ma. Lisa tetep bahagia kok. Yuk kita foto-foto," ucap Lisa.
Mereka pun melakukan foto bersama Lisa, bintang utama hari ini. Mas Ray paling antusias foto dengan Lisa. Mereka bertemu kembali lewat hubungan dosen dan mahasiswa. Sekarang melihat Lisa wisuda dengan posisi telah menjadi istri dan mengandung anaknya adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nih hadiah wisuda," ucap Mas Ray memberikan paper bag bermotif bunga sesampainya di rumah.
Lisa membukanya. Sebuah kertas. "Lisa dapat tawaran beasiswa S2 dari kampus?"
"Iya," ucap Mas Ray tersenyum.
"Lisa pengin ambil tapi kalo pas dedek udah lahir gimana?"
"Ambil aja. Itu kuliahnya online kok cuma tesis aja tergantung judulmu nanti harus penelitian langsung atau bisa online. Mas carikan baby sitter dan orang tua kita bisa tinggal di rumah selama kamu kuliah dan aku kerja. Biar aman mas pasang CCTV juga deh buat mantau anak-anak kita."
"Beneran gapapa yang?"
"Iya. Nanti mas sampaikan ke prodi kalo kamu bersedia. Mas minta kamu fokus ngurus cafe dan youtube bukan brarti mas melarang kamu meneruskan pendidikan. Ibu rumah tangga dengan pendidikan tinggi itu sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi mas. Apalagi kalo anak-anak mas jadi punya semangat mengejarkan pendidikan seperti bundanya."
"Ya udah deh Lisa ambil yang. Mumpung ada kesempatan kuliah gratis," ucap Lisa tertawa.
"Oke. Mas sampaikan ke kampus," ucap Mas Ray.
Kuliah lagi dengan kondisi hamil bahkan sampai anak yang dikandungnya lahir masih proses perkuliahan menjadi pilihan Lisa. Benar kata Mas Ray, seorang ibu yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga bukan berarti tidak perlu memiliki pendidikan tinggi. Mengajarkan anak untuk mau belajar tapi seorang ibu tidak mau menyontohkan pentingnya pendidikan sama saja percuma. Semua temannya tidak mendapatkan kesempatan emas ini, dia tidak akan menyia-nyoakan beasiswa tersebut.
__ADS_1