Lamora

Lamora
Hantu Pengganggu


__ADS_3

Tengah malam, Lisa terbangun karena ada yang menarik kakinya dari kasur. Menyalakan saklar yang terletak di samping tempat tidur. Melihat sekeliling kamar, ternyata kosong. Padahal, sempat terlintas ini ulah Mas Ray karena kbetulan dia tidak mengunci kamar sebelum tidur.


Lisa ketakutan. Dia mengambil ponselnya lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Mencoba menghubungi Mas Ray beberapa kali namun tak kunjung diangkat. Lisa tidak mau menyerah. Dia masih menghubungi Mas Ray hingga akhirnya suara pria itu terdengar.


"Ada apa sayang?" tanya Mas Ray.


"Tolong ke kamarku sekarang."


"Kamu kenapa sayang?"


"Ke sini. Cepetan."


"Iya tunggu bentar," Mas Ray mematikan ponselnya.


Nggak lama kemudian, pintu kamar Lisa terketuk. Tok... Tok... Tok...


"Sayang," panggil Mas Ray dari luar.


"Nggak aku kunci," teriak Lisa yang masih berada di dalam selimut.


"Kamu ngapain di dalem selimut?" tanya Mas Ray saat membuka selimut.


"Takut," ucap Lisa sembari memeluk Mas Ray.


"Berhubungan sama ketakutanmu yang sebelum-sebelumnya?"


"Nggak," Lisa masih memeluk erat Mas Ray.


"Terus apa sayang?"


"Ada yang narik kakiku pas aku tidur. Aku nyalain lampunya nggak ada siapapun. Aku kira tuh kamu."


"Udah nggak usah takut. Aku temenin sampe kamu tidur," ucap Mas Ray mengusap rambut Lisa.


Lisa melepas pelukan lalu melihat wajah Mas Ray,"sayang, mau tidur di sampingku? Tapi janji kamu nggak akan ngelakuin hal itu."


Mas Ray tertawa, "wah katanya cari aman. Tau gitu pesen satu kamar."


"Ya udah deh temenin tidur aja," Lisa membaringkan tubuhnya ke kasur dan membelakangi Mas Ray.


Mas Ray merebahkan tubuhnya ke kasur sambil memeluk Lisa erat. "Iya aku tidur sini. Nggak perlu takut lagi dan jangan ngambek. Inget pesen papa kita cuma berdua di sini dan jauh dari keluarga. Yuk tidur," bisik Mas Ray ke telinga Lisa.


Lisa membalik tubuhnya menghadap ke Mas Ray, "makasih sayang."


"Sama-sama sayangku," ucap Mas Ray mencium kening Lisa.


"Yuk tidur," sambungnya.


Mereka tidur berpelukan. Tragedi hantu pengganggu berakhir romantis. Keinginan Mas Ray terbayarkan. Lisa, hidup memang lucu kan? Terkadang saat kita menolak sesuatu, yang terjadi malah sesuatu tersebut menghampiri kita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hujan di pagi hari membuat suasana menjadi syahdu. Mas Ray bangun lebih dulu asyik memandang wajah Lisa dengan membelai rambut dan pipinya.


"Sayang," ucap Lisa menyingkirkan jemari Mas Ray, "jangan ganggu aku tidur," sambungnya.


"Bidadariku bangun dong," Mas Ray membelai rambut Lisa.


"Aku masih ngantuk."


Mas Ray mencium pipi Lisa berkali-kali.


"Sayang, aku masih ngantuk," Lisa menyingkirkan wajah Mas Ray lalu membelakanginya.


Mas Ray masih berusaha membuat Lisa bangun. Dia menggelitik Lisa.


"Sayangggg," ucap Lisa dengan nada keras sambil menyingkirkan tangan Mas Ray.

__ADS_1


"Aku bolehin tidur lagi. Tapi peluk sini," Mas Ray menarik tubuh Lisa.


Cup. Bibir mereka bersentuhan. Lisa langsung melepaskannya. Dia bangun dan memukul Mas Ray.


"Mas, kan aku udah bilang."


"Maaf sayang. Mas beneran nggak sengaja. Lagian pipi dan kening aja boleh kenapa coba bibir gak boleh."


"Pokoknya aku gak mau kamu sentuh semua seenakmu. Tunggu sampe kita nikah dulu."


"Udah terlanjur juga ngapain nunggu sampe nikah."


"Jangan sampe kejadian lagi."


"Iya iya sayangku. Udah marah-marahnya. Aku kan nggak sengaja," Mas Ray mengelus dada Lisa.


"Hmmm."


"Senyum coba kalo udah nggak marah."


Lisa terpaksa tersenyum, "nih senyum nih."


Mas Ray tertawa, "Terpaksa senyum aja tetep cantik ya."


"Gombal."


"Biarin sama calon istri sendiri gapapa. Yang, sini dong. Pengin peluk. Atau mau aku tarik lagi? Siapa tau pas lagi kan," ucap Mas Ray tersenyum.


"Iya iya," ucap Lisa membaringkan tubuhnya dalam pelukan Mas Ray.


"Mas seneng banget pagi ini bangun tidur lihat wajah cantik Lisa," ucap Mas Ray mengecup kening Lisa.


"Aku bangun tidur langsung marah-marah ya. Biar aku lihat wajah calon suamiku," ucap Lisa memandang wajah Mas Ray.


"Liatnya jangan lama-lama nanti aku tergoda."


"Bercanda sayang."


"Laper nih. Kamu udah bikin aku bangun, tanggung jawab buruan." Lisa mengalihkan pembicaraan.


"Keluar nanti siang aja ya. Masih hujan juga. Mau aku pesenin online?" tanya Mas Ray melepas pelukan dan mengambil ponselnya.


"Boleh deh, yang."


"Kamu pengin makan apa?" tanya Mas Ray sambil scroll aplikasi pesan antar makanan.


"Nasi Ayam Bu Oki boleh nggak?


"Boleh sayang. Yang komplit? Mau minum apa?"


"Iya komplit. Jeruk hangat."


"Oke beres, yang. Sabar ya perut," ucap Mas Ray mengusap perut Lisa.


Sembari menunggu pesanan Lisa mandi dan Mas Ray menonton film di kamar. 30 menit berlalu, pesanan mereka sudah datang.


"Sayang, udah sampe nih. Ayo makan," ucap Mas Ray.


"Iya, yang. Baru ganti baju."


Mas Ray melanjutkan film yang ditontonnya selagi Lisa belum keluar dari kamar mandi.


"Ayo kita makan, yang," ajak Lisa saat keluar dari kamar mandi.


"Oke sayang."


Lisa mengambil piring serta sendok dan menyiapkan makanan. Dia meminta Mas Ray duduk di meja makan yang menghadap ke arah kolam renang.

__ADS_1


"Ini mas," Lisa menaruh satu piring di depan Mas Ray.


"Makasih ya sayangku. Selamat makan sayang," ucap Mas Ray mengusap kepala Lisa.


"Selamat makan juga, yang."


"Yang, aku masih penasaran. Kamu waktu nerima lamaranku tuh udah suka sama aku kan?" tanya Mas Ray sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Lisa meletakkan sendoknya lalu meminta Mas Ray menatap wajahnya, "mana bisa aku yang baru pertama kali kenal cowok dan pertama kali dilamar, langsung terima orang itu tanpa perasaan. Love you more," lalu dikecupnya pipi Mas Ray.


Mas Ray membalas kecupkan Lisa, "I love you even more and more. Kenapa kamu nggak ngomong jujur aja kalo kamu suka. Bisa kasih reaksi positif kalo aku kasih perhatian, gombalan, dan sejenisnya. Deg-degan serius, ngelamar anak orang tanpa tau perasaanya."


Lisa menguyah nasi yang ada di mulutnya, "sebulan lebih kamu kenal aku, mungkin kamu sadar ada hal yang tertahan dalam diriku. Aku nggak tau kapan waktu membuatku bisa meluapkan semua ke kamu. Aku ingin bicara tapi mulutku membisu. Aku kayak ada di ruang gelap, mulutku dibekap, aku cuma bisa takut dan nangis."


Mas Ray membekap mulut Lisa, "maaf ya sayang kalo kamu jadi keinget sesuatu. Udah ya ceritanya? Aku takut kamu nangis lagi," lalu melepaskan bekapannya.


"Kita bahagia di Bali ya. Kita saling mengenal lebih dalam lagi. Kita semakin romantis sepulang dari Bali," ucap Lisa tersenyum.


"Siap sayangku. Mas berharap sepulang dari Bali kita udah bisa go public. Nggak cuma keluarga aja yang tau siapa calon mas," ujar Mas Ray tertawa.


Mendengar go public Lisa tersadar cincinya belum dia pakai karena kemarin ada kuliah, "sayang, Lisa lupa pakek cincin," ucap dia tersenyum.


"Tapi kamu bawa kan?"


"Iya di dompet. Nanti habis makan aku pakai, yang. Kalo ke kampus aku lepas soalnya."


"Penting nggak hilang aja. Nanti mas ingetin ngasih kalung yang waktu itu mas beli ya? Lupa terus mau ngasih ke kamu setelah lamaran."


"Buat aku juga itu kalungnya?"


"Niat dari awal aku beli cincin dan kalung emang buat kamu, yang. Kamu tau nggak, sehari kemudian aku balik ke toko itu buat beli cincinku."


"Ngebet banget mau ngelamar Lisa ya. Ngomong-ngomong yang, ukuran cincinnya kan pas di aku, kamu tanya bunda?"


"Dari awal mas deketin Lisa emang tujuannya mau serius sampe nikah dan paling penting takut Lisa diambil orang. Mas nggak tanya bunda kok. Pinter kan aku," Mas Ray tertawa.


Seusai makan, Lisa mengambil cincin di dompetnya yang berada di kamar. Mas Ray masuk ke kamar membawa kotak kalung.


"Kasih ke mas cincinmu," ucap Mas Ray.


"Udah aku pakek. Kenapa diambil?"


"Nurut aja, sini. Nggak aku minta kok. Kan itu pengikat kita."


Lisa melepas cincin dan memberikannya kepada Mas Ray.


Mas Ray memasukkan cicin tersebut ke dalam kalung kemudian mengalungkannya di leher Lisa.


"Nah gini kan nggak perlu kamu copot pakai copot pakai lagi. Kemungkinan hilang makin menipis. Lisa juga nggak perlu malu sama temen-temen karena kalungnya bisa ditaruh di balik baju."


"Udah kamu pikirin ya dari awal ya?"


"Iya lah. Ngelamar anak muda yang masih kuliah, nggak pernah deket sama cowok, dan orangnya tertutup. Pasti kalo diterima, mas udah nebak kalo Lisa bakal kayak gini."


"Terus selama mas di kampus nggak ada yang tanya soal cincin yang mas pakai?"


"Temen kerja kebanyakan. Mas tinggal jawab udah ada calon. Kalo pada tanya siapa calon mas, nggak mas jawab," ucap Mas Ray tersenyum.


"Kalo mahasiswa?"


"Ada yang kepo nih. Sama kayak jawaban mas ke temen kerja, sayang."


"Kalo mahasiswa yang deketi mas gimana? Pada sadar?"


Mas Ray tertawa, "cemburu ya sayangku, cintaku, calon istriku. Kalo yang sadar ya menjauh. Kalo yang nggak ya tetep deketi mas. Cuma yang, kamu harus tau, mas nggak pernah tanggapi mereka yang deketi mas mau itu mahasiswa atau siapapun," Mas Ray mencium kening Lisa.


"Maaf ya kalo Lisa posesif."

__ADS_1


"Gapapa sayang. Mas nyaman kok sama semua sifat Lisa, " Mas Ray memeluk Lisa.


__ADS_2