
Bangun tidur, Lisa membalas chat dari teman-temannya yang ikut berbahagia dan medoakan lancar sampai pernikahan. Akun youtube terpantau lebih banyak komentar positif daripada negatif. Sedangkan instagram lebih banyak komentar negatif menggunakan akun-akun dengan nama palsu. Lisa tersenyum, "Gapapa. Inget kata Mas Ray, ini hubungan kita berdua bukan orang lain."
Lisa mengalihkan pikiran. Mengerjakan proposalnya. Sudah sampai di tinjauan pustaka. Targetnya tidak sampai seminggu harus selesai. Walaupun soal judul dia lamban tapi kali ini dia semangat menyelesaikan skripsi demi Mas Ray dan Arumi yang selalu bertanya kapan Lisa bisa tinggal bersama mereka.
Ponsel Lisa berbunyi. Alika menelfonnya.
"Halo, can," ucap Alika.
"Iya. Ada apa, can?"
"Gue nebeng lo ya? Gue tau lo pasti takut. Kita hadapi hari ini bareng-bareng ya?"
"Thank you, lo selalu ada buat gue padahal gue orang yang sering bikin lo kecewa karena nggak mau cerita. Maaf ya."
"Selalu gue maafin kok tiap kali lo salah karena lo ngelakuin hal itu juga ke gue. Nanti jemput gue ya? Apa lo nggak bisa gara-gara bareng Pak Ray?"
"Nggak kok. Dia kan siang-siang di kampus. Pulangnya juga ada acara. Nanti gue jemput."
"Okai. See you can," Alika menutup telfonnya.
Tiba-tiba Lisa terpikirkan Maya. Sahabatnya itu hanya sekali mengomentari kasusnya dengan Mas Ray. Saat ada cuplikan suara Mas Ray di videonya waktu di Bali. Dia juga selalu antusias bertemu Mas Ray bahkan dari awal jadi dosen mereka. "Apa mungkin Maya suka Mas Ray?" gumam Lisa, "kalo benar aku harus gimana? Aku menyakitinya," dia kembali bergumam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lisa menjadi pusat perhatian beberapa orang di kampus. Alika menggandeng tangan Lisa.
"Udah biarin aja."
Lisa mengangguk. Sampai di kelas, Lisa dan Alika memilih duduk di tengah. Teman-temannya yang kepo langsung mengerubungi bangku Lisa.
"Lisa, gue syok. Gimana ceritanya lo bisa sampe lamaran sama Pak Ray?" tanya Susi.
"Iya lis ceritain dong. Sumpah gue penasaran banget," ujar Sari.
"Iya bener. Pak Ray keliatan romantis ya di foto. Baper gue liat kalian gandengan," tanya Nida.
"Pacaran lo kapan sih Lis kok tiba-tiba udah lamaran aja?" tanya Rika.
"Cukup woi. Kasihan Lisa." Alika kali ini tidak banyak omong dan membelanya karena dia tahu sahabatnya yang tidak pernah menjadi pusat perhatian gara-gara cowok sedang tertekan.
"Nggak asyik nih Alika sekarang. Ayo dong julid lagi Lik," ucap Susi.
"Dia sahabatnya sus, pasti udah tau lah," ucap Nida.
"Gue belum tau kok. Tapi coba deh kalian jalan bareng sama Lisa. Pasti bakal tau rasanya nggak nyaman diliatin orang bahkan diomongin yang buruk juga. Biar kalian rasain gimana rasanya jadi Lisa," ucap Alika dengan nada kesal.
"Maaf ya Lis," ucap mereka yang mengerubungi Lisa bersamaan.
Lisa tersenyum, "udah gapapa."
Alika melihat Maya masuk ke dalam kelas, "cann, sini. Samping gue kosong," teriaknya
"Iya sini can," ucap Lisa.
"Gue sini aja," ucap Maya duduk di bangku depan.
"Oke, can," ucap Alika yang biasa saja karena mereka bertiga jarang duduk bareng juga. Tapi bagi Lisa ada sesuatu sehingga Maya berbuat seperti ini.
__ADS_1
"Yuk balik bangku masing-masing yuk," ujar Susi.
Mereka pun berhenti mengerubungi bangku Lisa. Tak lama kemudian, Mas Ray datang. Kelas berlangsung seperti biasa. Mata mereka sempat bertemu beberapa kali tapi sebatas tatapan dosen ke mahasiswa saja. Profesional. Tidak ada Alika kedua yang kepo bertanya langsung ke Mas Ray sampe mengakhiri kelas tersebut.
"Can, nongki dulu yuk," ajak Alika.
"Ayoo. Kemana?" jawab Lisa.
"Kafe lo aja," ucap Alika lalu memanggil Maya, "Can, lo mau ikut nongki nggak?"
"Nggak dulu deh. Gue mau nyanyi," ucap Maya.
"Oke, can. Semangat kerjanya," jawab Alika, "Yuk can, kita berangkat," sambungnya mengajak Lisa pergi.
Lisa semakin yakin dugaannya benar. Maya menyukai Mas Ray. Perubahan yang ada kentara. Lisa memilih menjadi observer terlebih dahulu untuk memastikan hal tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiap kali berkunjung ke Star Cafe cabang Kartasura, Lisa teringat Mas Ray. Tempat bersejarah untuk mereka berdua. Lembaran cerita mulai terbentuk setelah kata "perjodohan" dan aksi nekat Mas Ray mengajak Lisa kencan pertama.
"Can, lo beneran nggak mau cerita sama gue soal hubungan lo sama Pak Ray?" tanya Alika sembari memakan makanan yang dia pesan.
"Hubungan gue sama Mas Ray udah terbongkar kan. Nggak ada yang perlu gue tutupi dari sahabat gue. Bahkan gue makasih banget lo orang pertama yang peduli ke gue sampe telfon bunda dan Mas Ray."
"Lo manggilnya Mas Ray yak kalo nggak di kampus? Gemes banget," Lisa tertawa.
Lisa ikut tertawa, "dia yang minta. Udah tua tapi maksa dipanggil 'mas' mulu."
"Brarti kejadian foto itu pas lo bilang lagi di Bali ya? "
"Iyap," Lisa tersenyum.
"Iya, Mas Ray."
"Video youtube yang lo masak bareng Pak Ray, status kalian udah lamaran?"
"Belum. Itu awal dia deketin gue, can. Kita lamaran setelah gue kasih lo oleh-oleh dari Jogja pokoknya."
"Jangan-jangan lo ke Jogja sama dia juga?" Alika tertawa.
"Iya lagi," Lisa tersipu malu.
"Gila. Kalian udah sering pergi bareng dong ya. Lo yang nggak pernah mau suka sama siapapun bahkan udah sering gue kenalin cowok juga lo gak mau, kenapa tiba-tiba bisa sama Mas Ray bahkan sampe lamaran, can?"
"Gak tau. Gue juga bingung. Tiba-tiba aja gitu ngerasain semua gejala jatuh cinta. Gue sempet nggak mau sama diri gue sendiri kalo udah jatuh cinta. Tapi pas ngerasain cemburu pertama kali itu bener-bener patah banget. Disitu gue sadar kalo gue emang lagi jatuh cinta. Soal lamaran, Mas Ray nggak mau status pacaran doang karena ngerasa udah tua."
"Salut banget sama Pak Ray. Anak yang jijik tiap kali dideketin cowok, bisa-bisanya dibikin jatuh cinta."
"Ya gitu lah, can. Gue juga bingung bisa berubah gara-gara dia."
"Terus kalian bakal nikah secepatnya? Lo tinggalin gue secepet ini? Ntar yang nemenin gue kalo gabut pas hari libur siapa dong," Alika memasang wajah sedih.
"Setelah lulus pokoknya. Biasanya juga lo pergi sama mas lo kan. Tapi gue usahain tetep ada waktu sama lo kok, can. Kalo nggak kita bisa double date. Makanya lo buruan cari cowok baru. Biasanya habis putus langsung dapet baru tumben amat kali ini lo nggak dapet-dapet."
"Buruan buruan. Mentang-mentang udah ada pasangan gini ya sekarang."
Lisa tertawa.
__ADS_1
Alika menyanbung ucapannya yang belum selesai, "Gue lagi males pacaran. Ujung-ujungnya putus lagi. Beruntung lo sama Pak Ray can. Langsung serius sama lo. Ikut bahagia liat kalian."
"Makasih ya. Aku sama dia seneng kalo ada orang merespons positif hubungan kami."
"Lo baca komentar ya pasti kemarin?"
"Iya," Lisa tersenyum.
"Orang-orang jahat yang ganggu kebahagiaan orang lain dan kebanyakan waktu kosong jadi julid. Biarin aja, can. Penting lo dan Pak Ray bahagia terus...."
Telfon Lisa berbunyi.
"Dari Mas Ray nih. Bentar ya."
Alika mengangguk.
Lisa mengangkat telfon dari Mas Ray, "halo mas?"
"Kok berisik yang. Lagi dimana?"
"Nongkrong di Star mas sama Alika. Kenapa?"
"Besok Jam 09.00 WIB kamu, tante, dan om bisa dateng kan di acara peresmian?"
"Ayah kerja. Lisa besok ada kuliah mas. Bunda nanti coba Lisa tanya dulu atau kalo nggak mas coba tanya deh. Maaf ya sayang aku nggak bisa dateng tepat waktu. Nanti aku ke klinik deh kalo kelasnya udah selesai."
"Mas setelah peresmian balik kampus lagi, yang. Papa sama mama juga gak bisa dateng kok jadi gapapa kalo kamu, ayah, atau bahkan bunda nggak bisa dateng."
"Maaf ya sayang."
"Gapapa yang. Penting doa dari kamu supaya klinik mas berjalan lancar. Rezeki mas terus mengalir biar bisa membahagiakan kamu."
"Selalu Lisa doakan. Udah dulu ya yang."
"Oke. Salam buat Alika ya. Love you, sayang."
"Oke nanti aku sampaikan. Love you too."
Lisa mematikan telfonnya.
"Sampe mana nih tadi?" tanya Lisa.
"Lupa," Alika tertawa.
"Maaf ya keganggu, can. Lo dapet salam dari Mas Ray."
"Okei, salam balik. Pak Ray tipe orang kaya gimana can kalo ke pasangan?"
"Romantis, baik, sabar, perhatian, dan ngeselin can."
"Lo liburan berdua gitu nggak sampe *** kan?"
"Ya kali. Nggak lah! Tunggu nikah dulu baru gue kasih. Gue gak pengin ada kejadian hamil anak dia tapi dia nggak jadi nikahin gue. Tamat hidup gue."
"Bagus kalo lo masih punya harga diri. Cepetan habisin makanan lo," ucap Alika yang piringnya sudah kosong.
"Yoi," Lisa buru-buru makan.
__ADS_1
Saat perjalanan pulang Alika berterima kasih kepada Lisa sudah mau cerita ke dia mengenai Mas Ray. Lisa terharu sekaligus merasa tidak enak karena selama ini dia jarang sekali cerita ke Alika. Padahal sahabatnya itu selalu ada buat dia. Benar kata Mas Ray, kita akan tau siapa orang yang benar-benar ada dan sayang kita saat kita tertimpa masalah.