Lamora

Lamora
Pembicaraan Serius


__ADS_3

"Bunda ke sini jam berapa?" tanya Mas Ray yang duduk di sofa.


"Katanya jam 6 malam nanti," ucap Lisa sembari mengusap kepala Arumi agar dia tidur.


"Kamu yakin tidur sini?"


"Iya. Emang kenapa sih kalo tidur sini. Arumi juga anakku kan."


"Iya tau. Mas cuma takut kamu gak nyaman tidurnya nanti."


Melihat Arumi sudah tertidur, Lisa menaikkan selimut anak itu. Lalu menanggapi ucapan Mas Ray, "nyaman kok."


Ponsel Mas Ray berbunyi. Pria itu mengangkat telfon sembari meninggalkan kamar. Lisa merebahkan tubuhnya di sofa sambil membuka sosial media yang ramai ucapan selamat. Seminggu ini jam tidurnya berantakan. Rasa lelahnya terbayarkan dengan hasil seminar yang memuaskan.


Mas Ray datang membawa dua tas dan buket bunga. Dia menaruh tas di lantai. "Itu yang tas jinjing biru bajumu ya. Ini buket dariku," ucapnya memberikan buket gardernia putih itu kepada Lisa lalu duduk di sebelahnya.


Lisa menerimanya, "makasih. Kok bajuku bisa sama kamu?"


"Aku dapet telfon dari yang jaga lobi ada kiriman. Pas sampe sana udah ada tasku, tasmu, sama buket yang aku kirim ke rumahmu tadi siang. Kerjaan orang tua kita ya gini nih," ujar Mas Ray tersenyum.


Lisa tiba-tiba teringat bunga berinisial, "Yang pernah ngirim ke rumah bunga gardenia dengan inisial 'I' itu kamu?"


"Wah dideketin cowok berinisial 'I' ya?"


"Nggak kamu?"


Mas Ray tertawa, "aku."


"Kenapa harus 'I' coba?" tanya Lisa kesal.


"Kok kesel gitu. Kamu berharap dari orang lain ya?"


"Ya enggak. Tapi namamu bukan itu. Buang-buang waktu mikir yang ngirim jajanan dan buket ke aku itu 'I' siapa."


"Itu bukan 'i' tapi 'l' Lis."


"Artinya?"


"Love. Sengaja bikin kamu penasaran. Kata bunda kamu kepo kan," ucap Mas Ray tertawa.


"Biasa aja. Udah aku mau mandi dulu," ucap Lisa beranjak dari sofa.


Keluar dari kamar mandi, Lisa melihat Arumi terbangun sedang Mas Ray suapi.


"Arumi mau disuapi bunda yah," ucap Arumi.

__ADS_1


"Sini aku aja. Kamu mandi sana," ujar Lisa.


"Oke," ucap Mas Ray memberikan piring kepada Lisa lalu mengambil baju dan mandi.


"Arumi kalau sembuh pengin apa?" tanya Lisa sembari menyuapi.


Anak itu berpikir cukup lama, "bunda tinggal sama Arumi. Kata ayah, ayah nggak bisa mastiin lagi kapan bunda bisa tinggal sama Arumi. Ayah selalu minta Arumi bantu doa sebelum tidur biar bunda mau tinggal sama Arumi."


"Arumi pengin tinggal bareng sama bunda ya?" Lisa merasa bersalah anak kecil itu harus menanggung akibat dari hubungannya dan Mas Ray berakhir.


Arumi mengangguk.


"Kalo Arumi sembuh. Arumi boleh tinggal di rumah bunda. Tapi cuma Arumi aja ya."


"Tapi Arumi penginnya sama ayah dan bunda," teriak Arumi.


"Pelan-pelan ya nak bicaranya," ucap Lisa mengusap rambut Arumi.


"Ayah dari dulu selalu bilang tunggu bunda lulus kuliah. Sekarang ayah nggka bisa mastiin kapan dan selalu nyuruh Arumi berdoa. Kenapa Arumi nggak bisa tinggal bareng sama ayah dan bunda kayak temen-temen Arumi?"


Lisa terdiam. Cukup berat untuk menjawabnya. Tidak akan paham jika Lisa menjelaskan bundanya bukanlah dia dan hubungan lamaran ayah Arumi dengannya sudah hancur.


"Suatu hari ayah atau bunda jelaskan. Sekarang, Arumi sehat dulu aja. Hadiah dari bunda Arumi bisa tidur sama bunda karena bunda penginnya kita tidur berdua. Pasti seru kalau bisa bebas peluk cium Arumi tanpa diganggu ayah," ucap Lisa tersenyum.


"Iya bunda. Janji ya tidur sama Arumi?"


Dokter Gina datang bertepatan Mas Ray keluar dari kamar mandi dan Lisa selesai menyuapi Arumi serta memberinya obat. Suhu Arumi sudah turun menjadi 38,5 derajat celcius. Namun ini DBD, harus tetap memantau karena kemungkinan suhu naik-turun.


Setelah kunjungan dokter, Mas Ray membasuh tubuh Arumi dan mengganti pakaiannya. Lisa selalu salut tiap kali Mas Ray merawat Arumi. Bukan hal yang mudah membesarkan seorang anak tanpa ibunya. Apalagi klinik yang didirikannya pasti menambah tingkat kesibukannya.


"Mau makan apa? Mas pesenin online," tanya Mas Ray kepada Lisa saat selesai mengganti pakaian Arumi.


"Manut."


"Nasi goreng, bakso, pizza, burger, steak, timlo, mie gacoan, bebek mropol, atau apa? Kayak biasanya mas manut kamu. Nggak mau ngeubah kebiasaan kita."


"Nasi goreng aja deh. Minumku es jeruk."


"Aku cariin yang paling direkomendasikan aplikasi dulu," ucap Mas Ray membuka aplikasi pesan makanan online.


"Nasi goreng apa yang?" tanya Mas Ray tersenyum.


Lisa dengan mata melototnya, "awas sekali lagi ngomong gitu."


"Iya nggak akan lagi. Nasi goreng apa? Pedes nggak?"

__ADS_1


"Nasi goreng mawut. Pedes dikit."


Nasi goreng mawut adalah nasi goreng yang dicampur dengan mie.


"Oke. Arumi mau nak?" tanya Mas Ray ke Arumi.


"Nggak ayah," jawab Arumi yang sedang menonton kartun di televisi.


Menunggu 30 menit, makanan yang Mas Ray pesan datang. Lisa sebenarnya kelaparan karena tadi siang tidak sempat makan.


"Arumi udah lelap kan ya tidurnya?" tanya Mas Ray sembari membukakan makanan Lisa.


Arumi ketiduran sekitar 10 menit lalu.


"Iya," ucap Lisa.


Mas Ray memberikan makanan Lisa, "Maafin mas ya cerita ke Arumi kalau belum tau sampai kapan kamu bisa tidur dengan kami."


Lisa memilih mengambil makanan dan tidak tahu harus menanggapi ucapan Mas Ray seperti apa.


"Kamu beneran nggak mau kita memulai lagi, Lis? Mas butuh kamu. Arumi butuh kamu."


"Jangan bahas hal ini," ucap Lisa.


"Maya nggak cerita sama kamu kalo udah deket sama temen mas?" Mas Ray masih tidak mau berhenti menyerang Lisa.


"Nggak. Dia menemukan pria yang tulus sama dia ya bagus deh," ucap Lisa sambil makan.


"Kamu juga nemuin hal itu. Kenapa kamu selalu bilang takut nyakitin orang padahal itu hanya pikiranmu saja, Lis?"


Mama, bisa bantu Lisa sampaikan apa yang terjadi? Jujur, Lisa lelah berteman dengan rasa takut dan sakit bertahun-tahun. Menyembuhkan hal ini bukan perkara mudah. Berani mundur dari kisah cinta, sebuah cara Lisa untuk menyembuhkan karena saat mengrnalnya bayangan Lisa tentang rasa sakit itu semakin dekat dan jelas.


"Nggak bisa jawab kan? Mas selalu menunggu kamu buat cerita. Mas bantu sembuhkan semuanya Lis. Apalagi Maya udah nggak lagi menginginkan mas kan. Ada kesempatan buat kita bareng lagi Lis," ucap Mas Ray.


"Maya belum cerita sama Lisa mas. Lisa juga pengin mas menemukan seseorang yang sikapnya baik dan bisa membuat hidupnya mas dan Arumi bahagia. Kalau mas sama Lisa dan kehidupan Lisa kembali menangis di kamar mandi, takut, trauma, dan sebagainya, Lisa juga nggak enak sama kamu mas. Hanya sebuah beban untuk hidupmu."


"Mas bahagianya cuma sama kamu. Arumi juga cuma sama kamu. Mas terima kamu apa adanya dan sayang banget sama Lisa."


"Lisa belum bisa mas. Lebih baik Lisa sembuh terlebih dahulu daripada melibatkan orang lain. Dan Lisa belum kepikiran untuk menyembuhkan semua lukas yang pernah terjadi. Lisa masih terpikir ingin sendiri teerus."


"Mas masih menunggu kamu balik, Lis. Mas juga siap membantu menyembuhkan lukamu. Jangan merasa sendiri dalam hidup."


"Lisa harap mas menemukan wanita lain. Jangan menunggu Lisa yang sudah menyakiti mas."


"Mas tetap menunggu Lisa. Kalau Lisa nggak mau ya sudah mas hidup tanpa pasangan juga kayak yang Lisa mau."

__ADS_1


Mas Ray memang bandel. Ketika sudah ada keinginan dia akan melakan segala cara. Cintanya ke Lisa sebesar itu. Jika suatu hari Lisa memilih kembali, Mas Ray akan menjadi pria yang paling bahagia lagi.


__ADS_2