Lamora

Lamora
Status Baru


__ADS_3

"Besok pagi kita pesawat pagi. Sore ini mau istirahat aja atau kita pergi jalan-jalan? Mas pengin ajak kamu ngenalin tempat-tempat di Batam," ucap Mas Ray memeluk Lisa yang berusaha bangun karena sudah siang.


"Kalo Lisa pengin di hotel aja kamu sedih nggak yang?"


"Nggak kok. Aku tau kamu capek. Toh melihat Batam dari jendela kamar udah mengobati rasa rindu mas terhadap kota ini. Semalem juga udah pergi keluar kan."


"Kita rebahan di hotel aja hari ini ya?"


"Oke. Nggak masalah."


"Yang, telfon mama atau papa dong. Penasaran anakku lagi ngapain kalo kita lagi berduaan gini sampe dibuat papa dan mama lupa sama kamu."


Mas Ray meraih ponselnya di meja samping kasur. "Aku coba telfon mama aja. Biasanya cepet angkat telfonya," ucap Mas Ray.


Lisa mengangguk. Tak lama menunggu, mama mengangkat telfon masuk dari Mas Ray. Mas Ray memencet tombol loudspeaker.


"Halo ma," ucap Mas Ray sembari menyenderkan kepalanya di bahu Lisa lalu memeluknya.


"Gimana nak?"


"Arumi lagi ngapain ma? Bundanya penasaran," ucap Mas Ray tertawa.


"Lagi mainan. Arumii, ini ayah dan bunda telfon," ucap mama terdengar berbicara kepada Arumi.


"Ayahh, bundaaa," ujar Arumi dengan suara mungilnya.


"Bunda sama ayah kangen Arumi nih." ucap Lisa sembari mengusap kepala Mas Ray.


"Arumi juga kangen tapi nggak ada ayah enak bun."


Lisa tertawa.


"Kenapa nggak ada ayah enak?" tanya Mas Ray.


"Arumi, tiap kali ayah pergi lama, Arumi boleh makan tahu bulat dan coklat yang banyak."


"Mama, gitu ya ternyata," ucap Mas Ray dengan ekspresi kesal.


Lisa mengusap punggung suaminya yang memeluknya seraya berkata, "sabar."


"Kalo dia mau nelfon kamu masak mama atau papa ganggu kalian. Ya, kami ajak aja Arumi ke minimarket beli coklat atau cari tahu bulat. Dia langsung happy dan lupa," ucap mama tertawa.


"Lain kali kalo ayah dan bunda lagi pergi berhari-hari, Arumi boleh makan coklat atau tahu bulat. Tapi tidak boleh setiap hari ya nak? Ayah nggak ngebolehin itu karena coklat bisa merusak gigi Arumi kalau makannya kebanyakan. Terus tahu bulat, kita beli di pinggir jalan yang belum tentu bersih. Bunda tau Arumi suka keduanya, tapi bunda harap Arumi juga mengerti kekhawatiran ayah sebagai orang tua Arumi. Oke sayang?" ucap Lisa.

__ADS_1


Mas Ray mencium pipi Lisa, "love you."


"Iya bunda. Maafin, Arumi ya ayah udah bikin khawatir."


"Gapapa nak. Maafin ayah juga karena selama ini nggak ngebolehin Arumi padahal Arumi suka. Sesekali boleh, tapi jangan setiap hari ya sayang?"


"Iya ayah. Yah, kemarin Arumi dateng ke acara ulang tahun Keisya. Ada princess-nya. Arumi kalo ulang tahun mau kayak gitu juga."


"Iya sayang. Ulang tahun Arumi nanti bakal ada princess-nya."


"Oke ayah."


"Udah main lagi dia Ray. Besok kami jemput jam berapa?" ucap mama.


"Jam 12 ya ma. Mama nggak titip oleh-oleh? Biasanya udah ribut tuh kalo Ray pergi gini," ucap Mas Ray tertawa.


"Mau oleh-oleh cucu aja," ucap mama tertawa.


"Doain ya ma," ucap Mas Ray tersenyum.


"Selalu nak."


"Ma, Ray tutup telfonnya ya."


"Oke nak," ujar mama. Mas Ray pun memutus sambungan teleponnya bersama mama.


"Sama kayak aku, 2 Mei."


"Oke deh. Nanti kita buat acara tema princess."


"Iya. Yang, pas kamu ngomong siap malam itu tuh kamu KB atau emang siap beneran Arumi punya adik? Maaf ya mas tanya gini."


Lisa mencium kepala Mas Ray yang masih memeluknya itu, "Aku nggak KB apapun kok. Tinggal rencana Tuhan aja mau kasih kita amanah adik Arumi itu kapan."


Mas Ray menatap wajah Lisa, "Love you."


"Love you too. Nonton film yuk."


"Oke."


Mereka pun hanyut dalam alur cerita film dengan alur romantis dan komedi. Semenjak liburan ke Bali bersama Mas Ray, Lisa punya kebiasaan baru, suka menonton film barat. Dulu, dia hanya penikmat Drama Korea saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Bundaa, ayahh." Arumi berlari memeluk Mas Ray dan Lisa yang berpegangan tangan.


"Dia semangat jemput kalian. Nggak sabar tinggal bareng bundanya," ucap papa.


"Ayoo kita pulang nak," ucap Lisa mengusap kepala Arumi sembari tersenyum.


"Mas, kalian masuk mobil dulu aja. Ray masukin koper ke bagasi dulu. Kuncinya mana pa? Biar Ray yang nyetir" ucap Mas Ray


"Nih," ucap papa memberikan kunci mobil.


"Yuk masuk," ucap mama.


Setelah Mas Ray beres memasukkan koper di bagasi mobil, mereka pun melaju menuju rumah Mas Ray. Pertama kali tinggal dengan mertua, Lisa merasa biasa saja. Dia sudah pernah menginap dan keluarga Mas Ray sudah seperti keluarganya juga. Tidak ada rasa canggung.


Sampai di rumah Mas Ray, Lisa masih tidak menyangka akan tinggal di lingkungan ini lagi. Area yang sama dengan rumah Alika. Area tempat tinggalnya dulu bersama papa dan mama beserta kenangan pahitnya melihat papa selingkuh. Kini area ini akan membawa sebuah cerita baru bersama keluarga kecilnya.


Setelah makan siang bersama, Lisa, Mas Ray, dan Arumi istirahat di kamar. Perjalanan 6 hari di Bintan dan Batam, menyelipkan sebuah cerita indah namun juga rasa lelah. Selain lelah perjalanan panjang mengharuskan mereka berganti transportasi, Lisa lelah diserang seseorang yang sedang candu. Dia bersyukur selama di rumah ada Arumi tidur bersamanya. Setidaknya Mas Ray bisa mengontrol diri. Seperti siang ini, Arumi tidur diantara ayah dan bundanya menjadi penghalang namun membantu Lisa melepas rasa lelahnya.


Lisa terbangun mendengar ponsel Mas Ray berbunyi. Pria yang masih setengah sadar itu berjalan mengambil ponselnya yang ada di meja televisi.


"Ada apa yang?" tanya Lisa melihat raut wajah suaminya itu kesal setelah telfon.


"Cutiku yang dua hari percuma yang. Dapet telfon dari dekan menjadi perwakilan fakultas ikut pelatihan di Jakarta," ucap Mas Ray duduk di dekat Lisa yang masih berbaring.


"Terus, sidang Alika dan Maya gimana dong?"


"Mas sebel karena harus pisah sama kamu, eh kamu malah mikirin orang lain," ucap Mas Ray memeluk Lisa.


Lisa mengusap kepala suaminya, "Kita bisa videocall pas mas nggak sibuk. Pasti nggak akan lama juga kan?"


"Berangkat lusa. Terus pulang Hari Kamis."


"Nah, cuma tiga hari kan. Kita seminggu nggak kontakan waktu dipingit aja bisa kok."


"Pak Sobri tuh bener-bener ya, udah tau pengantin baru bisa-bisanya nyuruh mas," ucap Mas Ray masih kesal dengna dekan fakultasnya itu.


"Brarti mas bisa dipercaya atasan. Lakukan yang terbaik sayang. Kerjaan mas lancar dan sukses, Lisa ikut bahagia."


"Makasih ya. Mas beruntung punya kamu," ucap Mas Ray memeluk erat istrinya.


"Aku lebih beruntung. Aku bangunin Arumi buat mandi ya? Udah sore."


"Ngapain izin mas. Kamu bundanya dia. Mau nyuruh dia mandi, makan, cepet-cepet bangun biar sekolah nggak telat, negur kalo dia ngelakuin kesalahan, nggak masalah yang."

__ADS_1


"Oke. Bangun yuk," ucap Lisa melepas pelukan Mas Ray.


Status menjadi istri, bunda, dan menantu keluarga Mas Ray akan mengubah kegiatan sehari-hari. Lisa bahagia karena keluarga Mas Ray tidak banyak menuntutnya. Dia sadar mengurus Arumi, membantu suami, dan mertua adalah sebuah kesadaran diri atas status barunya.


__ADS_2